Jumat, Februari 26, 2021

Indonesia dan Piala Dunia 2030

Tidak Semua ‘Kampret’ adalah ‘Kampret’

Stabilitas sosial sering dianggap hal yang lumrah: apa yang terjadi sekarang pasti akan terjadi besok, hal yang sekarang wajar besok pun akan tetap begitu....

Tentang Gerakan #2019GantiPresiden, Sebuah Nyali yang Hilang

Setelah mengeluarkan lagu yang mencatut nama mantan gitaris Boomerang, John Paul Ivan, Gerakan #2019GantiPresiden, sempat di atas angin sebentar, sebelum akhirnya mendapat penolakan di...

Nasib Pendidikan Tinggi dan Tenaga Kerja Kita

Selama ini di Indonesia mengakar sebuah pemahaman yang diyakini oleh khalayak ramai bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin besar pula peluangnya mencapai...

Ancaman Islam Fundamentalis di Indonesia

Islam Fundamentalis merupakan penyakit yang melanda tubuh Agama Islam di berbagai belahan dunia, termasuk negara-negara yang mayoritas dihuni oleh penduduk beragama Islam. Secara umum,...
Habibi bahari fattah
Suka nonton sepakbola dan badminton

Piala Dunia 2030 memiliki konsep yang sedikit berbeda, di mana terdapat 48 negara yang akan bersaing untuk memperebutkan Piala Emas tiap 4 tahunan itu. Uruguay–Argentina–Paraguay adalah negara yang sudah mengajukan menjadi Tuan Rumah perhelatan kompetisi terbesar sepakbola ini.

Masih ada persiapan setidaknya 12 tahun sebelum masuk ke tahun 2030. Impian terbesar pendukung sepakbola tanah air adalah menyaksikan timnas Indonesia berlaga di kasta tertinggi kompetisi sepakbola, Piala Dunia.

Menjadi pertanyaan besar, seperti apakah sepakbola Indonesia pada 2030? Apakah masih seperti ini atau menjadi negara yang mampu mengimbangi Jepang, Korea Selatan, atau bahkan Jerman? Sehingga tak ayal Indonesia menjadi kekuatan sepakbola baru pada 2030 mendatang. Tetapi kembali lagi, itu adalah harapan kita semua, harapan yang kita percayakan kepada PSSI, selaku induk organisasi sepakbola tanah air.

Atau pada 2030 mendatang permasalahan sepakbola tanah air malah masih menentukan dimulainya liga domestik atau malah sistem kepengurusan organisasi sepakbola tanah air makin parah karena terdapat kepentingan politik di dalamnya. Para pengurus PSSI idealnya adalah mereka yang terbebas dari kepentingan politik dan tim-tim yang berlaga di Liga 1 serta terbebas pula dari pekerjaan-pekerjaan yang rangkap jabatan.

Namun, saat ini, kepengurusan PSSI masih didominasi oleh mereka yang memiliki kepentingan di dalamnya. Terbukti dengan banyaknya pemegang saham tertinggi klub-klub Liga 1 yang mendominasi jajaran pimpinan PSSI. Kinerja PSSI masih dinilai kurang maksimal karena bekerja setengah hati. Masih banyak masyarakat yang tidak puas dengan kinerja PSSI serta mendesak pengurus PSSI segera mundur dan digantikan oleh mereka yang berasal dari latar belakang sepakbola, semisal pemain yang sudah pensiun.

Kekesalan pendukung timnas ditambah menjelang  timnas Indonesia dihadapkan pada tiga kompetisi sepakbola tahun 2018 ini, yaitu Asian Games untuk timnas U-23 pada 18 Agustus – 2 September 2018, AFC U-16 pada 20 September – Oktober 2018, serta AFC U-19 pada 18 Oktober – 4 November 2018. Kabar mengejutkan muncul, PSSI ditinggal oleh ketuanya yang mengambil cuti karena sibuk mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Seharusnya, jika sudah tidak bisa lagi fokus untuk mengurus PSSI, lebih baik fokus berpolitik saja. Ini lebih baik, ketimbang PSSI digunakan sebagai alat politik.

Tentunya harapan besar pendukung sepakbola ini tidak hanya pada 2030 mendatang, tetapi dalam waktu dekat, rotasi kepengurusan PSSI. Akankah momentum 2030 mendatang hanya akan menjadi harapan belaka kembali bagi pecinta sepakbola tanah air atau malah menjadi momentum kebangkitan sepakbola kita. Masyarakat penikmat sepakbola sudah tau, kualitas sepakbola Indonesia seperti apa.

Sejatinya, kualitas sepakbola yang baik pada suatu negara adalah cerminan dari pembinaan pemain negara tersebut. Kemudian, pembinaan pemain yang baik berasal dari sistem liga yang baik pula, dan sistem liga kompetisi sepakbola mencerminkan gambaran asosiasi sepakbola yang bertanggung jawab terhadap kompetisi tersebut.

Dan sekarang kita sudah tau alasan mengapa sepakbola kita jalan di tempat bahkan maju, tapi ke belakang. Hal ini dikarenakan induk organisasinya masih setengah hati menjalankan tugasnya. Apa karena mereka memang tidak mencintai bola atau tidak mengerti bola sehingga kualitas sepakbola tanah air sangatlah tidak membuat masyarakat puas. Tentunya momentum 2030 adalah harapan bagi pecinta sepakbola tanah air untuk menyaksikan timnas Indonesia berlaga di Uruguay, Argentina, atau Paraguay kelak.

Habibi bahari fattah
Suka nonton sepakbola dan badminton
Berita sebelumnyaBangkit Membangun Bangsa
Berita berikutnyaPMK-39 Hadir Sebagai Solusi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.