Minggu, November 29, 2020

Indonesia dan Piala Dunia 2030

Politik Dinasti Vs Negara Demokrasi

Media akhir-akhir ini sedang diramaikan oleh pemberitaan keluarga Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang akan maju di pilkada serentak 2020, di antaranya yang sering...

Refleksi 40 Hari Covid-19 dan Lunturnya Gotong-royong

Terhitung sudah 40 hari, tepat di hari Sabtu lalu (11/4/2020), Covid-19 memasuki Indonesia. Masuknya Covid-19 ini adalah bom waktu, yang memang pada akhirnya covid-19...

Ahok Cawapres Jokowi

Pasal 156a KUHP tentang penistaan agama dengan ancaman 5 tahun penjara menjadi momok bagi Ahok. Menurut pakar hukum tata negara Bivitri Susanti, pasal tersebut...

Sejarah Sebatas Pengakuan yang Belum Tentu Benar

Sejarah, kata orang-orang, adalah pergulatan melawan lupa. Sebuah pergulatan yang hampir setiap orang akan mengalaminya, sebab setiap saat, setiap dari kita akan senantiasa disuguhkan...
Habibi bahari fattah
Suka nonton sepakbola dan badminton

Piala Dunia 2030 memiliki konsep yang sedikit berbeda, di mana terdapat 48 negara yang akan bersaing untuk memperebutkan Piala Emas tiap 4 tahunan itu. Uruguay–Argentina–Paraguay adalah negara yang sudah mengajukan menjadi Tuan Rumah perhelatan kompetisi terbesar sepakbola ini.

Masih ada persiapan setidaknya 12 tahun sebelum masuk ke tahun 2030. Impian terbesar pendukung sepakbola tanah air adalah menyaksikan timnas Indonesia berlaga di kasta tertinggi kompetisi sepakbola, Piala Dunia.

Menjadi pertanyaan besar, seperti apakah sepakbola Indonesia pada 2030? Apakah masih seperti ini atau menjadi negara yang mampu mengimbangi Jepang, Korea Selatan, atau bahkan Jerman? Sehingga tak ayal Indonesia menjadi kekuatan sepakbola baru pada 2030 mendatang. Tetapi kembali lagi, itu adalah harapan kita semua, harapan yang kita percayakan kepada PSSI, selaku induk organisasi sepakbola tanah air.

Atau pada 2030 mendatang permasalahan sepakbola tanah air malah masih menentukan dimulainya liga domestik atau malah sistem kepengurusan organisasi sepakbola tanah air makin parah karena terdapat kepentingan politik di dalamnya. Para pengurus PSSI idealnya adalah mereka yang terbebas dari kepentingan politik dan tim-tim yang berlaga di Liga 1 serta terbebas pula dari pekerjaan-pekerjaan yang rangkap jabatan.

Namun, saat ini, kepengurusan PSSI masih didominasi oleh mereka yang memiliki kepentingan di dalamnya. Terbukti dengan banyaknya pemegang saham tertinggi klub-klub Liga 1 yang mendominasi jajaran pimpinan PSSI. Kinerja PSSI masih dinilai kurang maksimal karena bekerja setengah hati. Masih banyak masyarakat yang tidak puas dengan kinerja PSSI serta mendesak pengurus PSSI segera mundur dan digantikan oleh mereka yang berasal dari latar belakang sepakbola, semisal pemain yang sudah pensiun.

Kekesalan pendukung timnas ditambah menjelang  timnas Indonesia dihadapkan pada tiga kompetisi sepakbola tahun 2018 ini, yaitu Asian Games untuk timnas U-23 pada 18 Agustus – 2 September 2018, AFC U-16 pada 20 September – Oktober 2018, serta AFC U-19 pada 18 Oktober – 4 November 2018. Kabar mengejutkan muncul, PSSI ditinggal oleh ketuanya yang mengambil cuti karena sibuk mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Seharusnya, jika sudah tidak bisa lagi fokus untuk mengurus PSSI, lebih baik fokus berpolitik saja. Ini lebih baik, ketimbang PSSI digunakan sebagai alat politik.

Tentunya harapan besar pendukung sepakbola ini tidak hanya pada 2030 mendatang, tetapi dalam waktu dekat, rotasi kepengurusan PSSI. Akankah momentum 2030 mendatang hanya akan menjadi harapan belaka kembali bagi pecinta sepakbola tanah air atau malah menjadi momentum kebangkitan sepakbola kita. Masyarakat penikmat sepakbola sudah tau, kualitas sepakbola Indonesia seperti apa.

Sejatinya, kualitas sepakbola yang baik pada suatu negara adalah cerminan dari pembinaan pemain negara tersebut. Kemudian, pembinaan pemain yang baik berasal dari sistem liga yang baik pula, dan sistem liga kompetisi sepakbola mencerminkan gambaran asosiasi sepakbola yang bertanggung jawab terhadap kompetisi tersebut.

Dan sekarang kita sudah tau alasan mengapa sepakbola kita jalan di tempat bahkan maju, tapi ke belakang. Hal ini dikarenakan induk organisasinya masih setengah hati menjalankan tugasnya. Apa karena mereka memang tidak mencintai bola atau tidak mengerti bola sehingga kualitas sepakbola tanah air sangatlah tidak membuat masyarakat puas. Tentunya momentum 2030 adalah harapan bagi pecinta sepakbola tanah air untuk menyaksikan timnas Indonesia berlaga di Uruguay, Argentina, atau Paraguay kelak.

Habibi bahari fattah
Suka nonton sepakbola dan badminton
Berita sebelumnyaBangkit Membangun Bangsa
Berita berikutnyaPMK-39 Hadir Sebagai Solusi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.