Banner Uhamka
Senin, September 21, 2020
Banner Uhamka

Indonesia dan Piala Dunia 2030

‘Melawan Kemusyrikan di Purwakarta’

Semenjak di Pimpin oleh Dedi Mulyadi Purwakarta memang menjadi primadona di kancah nasional maupun Internasional.Selain karena sederet prestasi yang di gapai dengan berbagai kebijakan,...

Kebangkitan atau Kehancuran Nasional Pasca Pilpres?

Tak terasa perayaan Hari Kebangkitan Nasional pada tahun ini, yang baru saja kita lewati beberapa hari lalu, memasuki angka yang terbilang ‘cukup cantik’: 111....

Open House dan Silaturahmi Senyap

Seperti biasanya, pada saat Hari Raya Idul Fitri, sejumlah pejabat negara menggelar acara Open House di kediamannya masing-masing. Acara gelar griya ini dimaksudkan sebagai...

Kartini dan Pengamalan Nilai Ajaran Islam

Pada umumnya masyarakat banyak mengenal dan menfasirkan warisan pemikiran Kartini hanya seputar tema pendidikan, emansipasi, kesetaraan gender, dan filsafat. Namun jarang sekali yang mengangkat...
Habibi bahari fattah
Suka nonton sepakbola dan badminton

Piala Dunia 2030 memiliki konsep yang sedikit berbeda, di mana terdapat 48 negara yang akan bersaing untuk memperebutkan Piala Emas tiap 4 tahunan itu. Uruguay–Argentina–Paraguay adalah negara yang sudah mengajukan menjadi Tuan Rumah perhelatan kompetisi terbesar sepakbola ini.

Masih ada persiapan setidaknya 12 tahun sebelum masuk ke tahun 2030. Impian terbesar pendukung sepakbola tanah air adalah menyaksikan timnas Indonesia berlaga di kasta tertinggi kompetisi sepakbola, Piala Dunia.

Menjadi pertanyaan besar, seperti apakah sepakbola Indonesia pada 2030? Apakah masih seperti ini atau menjadi negara yang mampu mengimbangi Jepang, Korea Selatan, atau bahkan Jerman? Sehingga tak ayal Indonesia menjadi kekuatan sepakbola baru pada 2030 mendatang. Tetapi kembali lagi, itu adalah harapan kita semua, harapan yang kita percayakan kepada PSSI, selaku induk organisasi sepakbola tanah air.

Atau pada 2030 mendatang permasalahan sepakbola tanah air malah masih menentukan dimulainya liga domestik atau malah sistem kepengurusan organisasi sepakbola tanah air makin parah karena terdapat kepentingan politik di dalamnya. Para pengurus PSSI idealnya adalah mereka yang terbebas dari kepentingan politik dan tim-tim yang berlaga di Liga 1 serta terbebas pula dari pekerjaan-pekerjaan yang rangkap jabatan.

Namun, saat ini, kepengurusan PSSI masih didominasi oleh mereka yang memiliki kepentingan di dalamnya. Terbukti dengan banyaknya pemegang saham tertinggi klub-klub Liga 1 yang mendominasi jajaran pimpinan PSSI. Kinerja PSSI masih dinilai kurang maksimal karena bekerja setengah hati. Masih banyak masyarakat yang tidak puas dengan kinerja PSSI serta mendesak pengurus PSSI segera mundur dan digantikan oleh mereka yang berasal dari latar belakang sepakbola, semisal pemain yang sudah pensiun.

Kekesalan pendukung timnas ditambah menjelang  timnas Indonesia dihadapkan pada tiga kompetisi sepakbola tahun 2018 ini, yaitu Asian Games untuk timnas U-23 pada 18 Agustus – 2 September 2018, AFC U-16 pada 20 September – Oktober 2018, serta AFC U-19 pada 18 Oktober – 4 November 2018. Kabar mengejutkan muncul, PSSI ditinggal oleh ketuanya yang mengambil cuti karena sibuk mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Seharusnya, jika sudah tidak bisa lagi fokus untuk mengurus PSSI, lebih baik fokus berpolitik saja. Ini lebih baik, ketimbang PSSI digunakan sebagai alat politik.

Tentunya harapan besar pendukung sepakbola ini tidak hanya pada 2030 mendatang, tetapi dalam waktu dekat, rotasi kepengurusan PSSI. Akankah momentum 2030 mendatang hanya akan menjadi harapan belaka kembali bagi pecinta sepakbola tanah air atau malah menjadi momentum kebangkitan sepakbola kita. Masyarakat penikmat sepakbola sudah tau, kualitas sepakbola Indonesia seperti apa.

Sejatinya, kualitas sepakbola yang baik pada suatu negara adalah cerminan dari pembinaan pemain negara tersebut. Kemudian, pembinaan pemain yang baik berasal dari sistem liga yang baik pula, dan sistem liga kompetisi sepakbola mencerminkan gambaran asosiasi sepakbola yang bertanggung jawab terhadap kompetisi tersebut.

Dan sekarang kita sudah tau alasan mengapa sepakbola kita jalan di tempat bahkan maju, tapi ke belakang. Hal ini dikarenakan induk organisasinya masih setengah hati menjalankan tugasnya. Apa karena mereka memang tidak mencintai bola atau tidak mengerti bola sehingga kualitas sepakbola tanah air sangatlah tidak membuat masyarakat puas. Tentunya momentum 2030 adalah harapan bagi pecinta sepakbola tanah air untuk menyaksikan timnas Indonesia berlaga di Uruguay, Argentina, atau Paraguay kelak.

Habibi bahari fattah
Suka nonton sepakbola dan badminton
Berita sebelumnyaBangkit Membangun Bangsa
Berita berikutnyaPMK-39 Hadir Sebagai Solusi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Komunis Pertama dalam Tubuh Organisasi Islam Di Indonesia

Pada tahun 1913 H. J. F. M. Sneevliet (1883-1942) tiba di Indonesia. Dia memulai karirnya sebagai seorang pengamut mistik Katolik tetapi kemudian beralih ke...

Berperang Melawan Infodemi

Menurut (Eshet-Alkalai, 2004) ruang maya atau cyberspace bukan hanya desa global atau global village melainkan hutan belantara yang lebat dengan segala informasi. Informasi tersebut bisa jadi...

Religion in Academic Study; An Introduction

"Religion" in relation to ritual practice became an item in an inventory of cultural topics that could be presented either ethnographically in terms of...

Optimisme di Tengah Ketidakbersatuan ASEAN

Optimisme ASEAN yang memasuki usia 53 tahun pada 8 Agustus lalu harus dihadapkan pada kenyataan pahit dan diliputi keprihatinan. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau...

Investasi dalam Bidang SDA dan Agenda Neoliberal

Hari telah menuju sore, dengan wajah yang elok Presiden Joko Widodo membacakan naskah pidatonya saat dilantik untuk kedua kalinya pada tahun 2019 lalu. Sepenggal...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.