Senin, Januari 25, 2021

Indonesia Bukan Negara Assassin (2)

UU MD3 dan Tantangan Demokrasi

"Dengan demikian, masalah pokok yang kita hadapi adalah bagaimana membatasi para pemegang kekuasaan, baik waktu maupun wewenangnya. Tanpa ada kepastian dalam hal itu, maka...

Debat sebagai Panggung Retorika

Debat kedua dari para paslon dalam Pilkada di Solo telah berlangsung pada 3 Desember lalu. Disiarkan secara langsung oleh TATV, debat dapat berjalan dengan...

Lawan Buku dengan Membaca Kritis

Melihat dan membaca berita tentang pelarangan buku membuat kita khawatir akan perkembangan dunia baca di negeri ini. Membaca pada akhirnya akan menjadi suatu kegiatan...

Menanggapi istilah Go green, mindset salah kaprah (Revisi)

Go green, istilah yang akhir-akhir ini ramai dibincangkan. Istilah go green pada dasarnya merupakan istilah untuk mengkampanyekan menggunakan produk-produk dari alam dan yang tidak dapat...
Muhammad Amiruddin Dardiri
Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta

Indonesia dan Pesantren

Tulisan ini adalah tulisan kedua. Tulisa pertama klik di sini. Pesantren memiliki posisi yang sangat strategis di Indonesia. Tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, namun juga sebagai agent of change NKRI menuju negara kesatuan yang adil dan beradab. Keberadaan pesantren yang sudah ada sejak berabad-abad silam, menegaskan bahwa pesantren merupakan pendidikan yang orisinal dari Indonesia.

Kecintaan kaum pesantren kepada negeri ini tidak layak diragukan lagi. Semboyan hubbul wathon minal iman, seolah menegaskan itu semua dengan didukung oleh sumbangsih besar kaum sarungan terhadap negeri ini.

Aksi heriosme Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari dengan mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad, disambut dengan semangat perang oleh para santrinya untuk melawan penjajah Belanda menjadi salah satu bukti yang tidak terbantahkan tentang heroisme kaum sarugan dibalik layar kemerdekaan RI.

Hadratusy Syaikh juga mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dibantu oleh Kiai Wahab Hasbullah, seorang kiai yang pernah menjadi Ketua Laskar Mujahidin (Hizbullah) dan pendiri Organisasi Pemuda Islam (Nahdlatul Wathan).

Di Jogjakarta, seorang kawan seperguruan Hadratusy Syaikh juga turut berkiprah, yakni Muhammad Darwis atau Kiai Ahmad Dahlan. Beliau berjuang melawan penjajah dengan mendirikan sebuah organisasi Muhammadiyah yang hingga kini terus berkiprah untuk bangsa.

KH. Zaenal Mustafa, seorang pemuda berusia 26 tahun yang mendirikan pesantren Sukamanah di Tasikmalaya pada tahun 1927. Beliau sangat getol melancarkan serangan kepada para penjajah bersama santri-santrinya. Ia juga memimpin pemberontakan kepada Jepang pada 1944. Atas aksinya yang membayahan kekuasaan penjajah, ia kerap keluar-masuk penjara pada 1941-1942.

Nama lain yang tidak asing di telinga kita adalah Raden Mas Antawiryo atau Pangeran Diponegoro yang memimpin Perang Jawa atau Perang Diponegoro melawan Belanda, 1825-1830. Kiai Noer Ali, pendiri Pesantren at-Taqwa Bekasi yang berkiprah Memimpin Perang Jawa atau Perang Diponegoro melawan Belanda, 1825-1830; mendirikan Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah bersama Jenderal Oerip Soemohardjo; memimpin gerilya laskar Rakyat Bekasi Hizbullah di Karawang dan Bekasi, 1947-1948.

Selain melakukan perlawanan secara frontal kepada penjajah pada masa peperangan, Para tokoh Islam juga berjasa besar dalam terbentuknya NKRI melalui para tokoh yang bergabung dalam BPUPKI telah mengambil langkah penting dengan mementingkan persatuan Indonesia di tengah kebinnekaan daripada menuruti egiosme mendirikan negara Islam.

Melihat besarnya kiprah kaum sarungan pada republik ini, teramat lucu jika kemudian ada sebagian kalangan yang menuduh pesantren sebagai sarang penyemaian ideologi terorisme dengan berbagai argumennya. Tidak menutup kemungkinan, berbagai tuduhan yang dilancarkan beberapa kelompok itu adalah bermotif untuk memecah belah umat Islam sendiri.

Fakta menunjukkan bahwa pesantren justru sangat getol melawan terorisme ala-ala penjajahan, anti kekerasan, dangan sangat menjunjung tinggi tradisi keilmuan dengan sangat baik. Sehingga, ada baiknya kita renungi kembali pernyataan Prof. Mukti Ali yang menyatakan bahwa tidak pernah ada ulama yang lahir dari lembaga selain pesantren.

Dengan menjamurnya pendidikan pesantren di Indonesia, tentu akan berdampak pada pola pikir generasi muda Indonesia dan pola kehidupan sosial, yang tentunya akan sangat tidak sepaham dengan aksi jihad bunuh diri yang belakangan terjadi.

Ketidaksepahaman ini menegaskan bahwa Indonesia dalam menegakkan sebuah peradaban, bukanlah negara yang menjunjung metode Assassin, tapi menggunakan tradisi keilmuan sebagaimana yang ada di pesantren.

Cukuplah kelompok Assassin masa lampau menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa terorisme tidak akan pernah membawa kemakmuran, kedamaian, dan keharmonisan. Peradaban yang  makmur asasnya adalah pendidikan yang baik, yang mendidik manusia menjadi beradab kepada Tuhan dan sesamanya.

Muhammad Amiruddin Dardiri
Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.