Sabtu, Oktober 31, 2020

Indonesia 2024: Keberlanjutan Lingkungan menuju Indonesia Emas

Kampus Merdesa

November tahun lalu, saya menulis buku berjudul Involusi Republik Merdesa. Buku yang berisi kumpulan gagasan sepanjang satu dekade ini berisi otokritik tentang kebijakan pemerintah...

Berguru Pada M. Quraish Shihab

Rabu, tanggal 16 Februari 1944, bertepatan dengan 22 Safar 1363 H. Seorang bayi mungil lahir diiringi tangisan yang keras, terdengar menyusup celah-celah daun jendela...

Mendukung Cerdas Adalah Pilihan Kita

Saat kita berada di jalan banyak melihat spanduk bergambar foto orang. Tahun ini adalah tahun yang berbeda, orang-orang menyebut tahun ini adalah tahun politik....

Masa Depan Syariah, Ide Relevansi Syariah

Terdapat persepsi liar dikalangan Muslim yang sebetulnya tidak seluruhnya tepat yaitu sebuah pemahaman tentang konsep syariah yang final dan pasti. Artinya ketentuan syariah historis...
Avatar
Billy Ariez
Kader Muda PKB

Pendahuluan

Pembangun di Indonesia saat ini terlihat misorientasi. Trend pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tanpa memperhatikan lingkungan, sebenarnya berpotensi membawa negara Indonesia kepada kehancuran. Sebagai contoh, saat ini semakin baik kondisi ekonomi suatu daerah, kualitas lingkungan hidup justru sebaliknya, menjadi semakin menurun. Deforestasi dilakukan secara besar-besaran. Alih-alih mendatangkan peningkatan ekonomi, malah menimbulkan bencana ekologis yang semakin tahun semakin besar. Bencana alam, terutama bencana hidrometeorologis di Indonesia meningkat 16 kali lipat sejak tahun 2002. Kerugian yang dialami oleh pemerintah Indonesia terlihat semakin besarnya alokasi dana penangananan bencana. Kementerian Keuangan memastikan pemerintah menyediakan anggaran mitigasi dan penanggulangan bencana alam sebesar Rp15 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019. Nilai tersebut meningkat dari realisasi sementara dana bencana 2018 yang sebesar Rp7 triliun.

Kehutanan sebenarnya memiliki nilai jasa lingkungan yang tinggi dalam meminimalkan dampak perubahan iklim dan pemanasan global bagi kesejahteraan manusia. Namun hutan di Indonesia mengalami degradasi lingkungan yang semakin parah setiap tahunnya karena deforestasi atau aktivitas penebangan. Menurut lapaoran World Resources Institute, Tahun 2000-2015 penyusutan hutan Indonesia sebanyak 3,6 juta Ha, atau 60 kali luas Jakarta.

Deplesi sumber daya alam juga terjadi setiap saat. Penyusutan karena penggunaan sumber daya alam yang dieksploitasi terus menerus, sehingga semakin lama semakin menipis. Terbukti cadangan minyak bumi yang dimiliki Indonesia saat ini hanya berkisar 3,3 miliar barel. Dengan jumlah tersebut, dalam 11 hingga 12 tahun ke depan Indonesia tidak mampu lagi memproduksi minyak bumi.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, mengatakan penghitungan cadangan itu dengan asumsi produksi konstan 800.000 per hari tanpa adanya temuan cadangan baru.  Dia menambahkan, cadangan terbukti minyak bumi itu bukanlah cadangan yang melimpah. Bila dibandingkan dengan cadangan terbukti minyak dunia jumlah itu hanya setara dengan 0,2 persen.

Permasalahan lingkungan hidup di Indonesia selama periode 2010-2014 menunjukkan peningkatan emisi gas rumah kaca yang diukur dengan CO2 ekuivalen mencapai 13 persen per tahunnya, lebih besar dari proyeksinya sebesar 5 persen. Sektor lahan, lingkungan hidup dan energi menyumbang emisi terbesar.

Sementara itu, penambahan jumlah penduduk Indonesia terus terjadi. Menurut data badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 adalah sebesar 255,6 juta, sedangkan pada tahun 2045 akan sebesar 318,9 juta. Dari data ini terlihat bahwa pertumbuhan penduduk Indonesia sejak tahun 2015 hingga tahun 2045 ada penambahan  sebesar 0,74 persen.

Bertambahnya jumlah penduduk tentu saja berdampak pada jumlah kebutuhan; makanan, energi, tempat tinggal, air bersih, sanitasi dan lain sebagainya. Dengan asumsi jumlah penduduk sebesar 255,6 juta jiwa, maka dibutuhkan sekitar 7,56 milyar liter air setiap harinya. Dengan jumlah penduduk diatas, maka kebutuhan listrik pada tahun 2019 saja 50,531 MW, dan pada tahun 2024 sebesar 74, 536 MW.

Periode tahun 2020-2030 akan menjadi dekade penting dalam sejarah perjalanan Bangsa Indonesia dalam menghadapi kerusakan lingkungan. Para ahli yang tergabung dalam IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), menyatakan di beberapa tahun kedepanlah yang akan menentukan keberhasilan penanganan persoalan lingkungan dan perubahan iklim secara umum. Bagaimana strategi pembangunan yang harus diterapkan di Indonesia untuk menyongsong Indonesia emas pada tahun 2045?

 

Existing Policy 

Data dan trend pembangunan di Indonesia saat ini menunjukkan semakin tinggi peningkatan ekonomi suatu daerah, maka semakin rusak lingkungan hidupnya. Dibutuhkan konsep pembangunan berkelanjutan sebagai paradigma pembangunan.

Hasil rembuk nasional tahun 2017 bidang lingkungan, kehutanan, dan pertanahan menyampaikan bahwa untuk dapat melaksanakan pembangunan berkelanjutan, diperlukan dua kata kunci yaitu; Pengelolaan sumber daya alam dan jasa lingkungan tanpa melampaui

daya dukung. Kedua, memanfaatkan hasil-hasil ekonomi untuk mengembangkan teknologi hijau atau berkelanjutan sehingga ekonomi bisa terus menerus menyejahterakan masyarakat.

Menurut Council on Sustainable Development in the United States (USEPA, 2013), Pembangunan berkelanjutan atau sustainable development merupakan suatu proses perkembangan yang dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian, menjaga kelestarian lingkungan, dan keadaan sosial untuk kebermanfaatan generasi sekarang dan generasi di masa depan. Pembangunan yang berkelanjutan mecoba untuk mencapai kesetaraan pembangunan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan pelestarian lingkungan dalam suatu sistem pembangunan yang berkaitan satu dengan yang lainnya.

 

Rekomendasi Kebijakan 

Dibutuhkan keterlibatan multi aktor dalam mengatasi dampak kerusakan lingkungan di Indonesia. Antara lain; Pemerintah atau parlemen. Pemerintah dan parlemen harus percaya bahwa pembangunan berkelanjutan memiliki profitabilitas politik. Untuk dapat mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia dibutuhkan 3 hal prinsip. Pertama, perubahan paradigma dari parsial/sektoral yang statis dan kepentingan sesaat menjadi paradigma Systems Thinking yang holistik dan dinamis, khususnya untuk para pemangku kepentingan, terutama pengambil keputusan di pemerintahan. Sehingga cara pandang sektoral dan jangka pendek segera ditinggalkan. Berbagai kerusakan lingkungan maupun terganggunya ekonomi karena terdegradasinya sumber daya alam dan lingkungan yang terjadi saat ini menjadi momentum untuk melakukan perubahan paradigma. Kepala daerah dan partai politik harus mendorong target penurunan emisi dan mitigasi serta adaptasi perubahan iklim masuk dalam visi misi calon kepala daerah dan diikat melalui rencana perubahan Undang-undang Pilkada. Mendagri dapat di dorong sebagai avant garde dalam mendorong capaian ini.

Kedua, perlu dibangun kesadaran dan tindakan operasional para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, bahwa UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan hidup dikerangkai dalam rangka  pembangunan berkelanjutan untuk mewujudkan Indonesia berkelanjutan. Saat ini kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup maupun kebijakan turunannya, masih dianggap oleh berbagai pihak sebagai instrumen lingkungan hidup ansich. Masih menyisakan situasi naif, mempertentangkan target capaian pertumbuhan ekonomi dan lingkungan. Padahal hal ini seharusnya telah dapat ditiadakan.

Ketiga, dalam menghadapi isu global, seperti perubahan iklim dan SDGs, perlu dikonstruksikan sesuai kondisi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang ada Indonesia, bukan sebaliknya. Upaya mitigasi gas rumah kaca sektor energi misalnya, pada saat yang sama harus mampu dan mendahulukan pemenuhan kebutuhan energi, termasuk dari sumber energi baru terbarukan melalui peningkatan elektrifikasi. Reduksi emisi dari sektor pertanian, pada saat yang sama juga harus mempertahankan atau meningkatkan ketahanan pangan nasional. Upaya untuk mencapai kondisi tanpa kemiskinan, pada saat yang sama juga didorong melalaui komitmen untuk melestarikan lingkungan.

Tiga prinsip diatas akan berimplikasi positif pada upaya pembangunan berkelanjutan. Kajian Lingkungan Hidup (KLHS) yang menjadi instrumen utama untuk pembangunan berkelanjutan, tidak boleh direduksi menjadi sekedar Amdal dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), maupun kebijakan dan program lainnya. Sebaliknya KLHS harus diperluas, sehingga   tidak sekedar untuk perlindungan dan pengelolaan aspek lingkungan saja, namun kajian ini juga memuat membangun sistem ekonomi, sosial, dan lingkungan yang seimbang, yang berarti mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Rekomendasi lainnya untuk solusi jangka panjang adalah; dibutuhkan kebijakan pengendalian jumlah penduduk serta membangun kemandirian teknologi (air, pangan, energi,dan digital). Hal ini akan menjadi solusi jangka panjang dalam menyongsong Indonesia sebagai negara dengan kekuatan ekonomi nomor 7 terbesar di dunia pada tahun 2030 mendatang, sebagaimana diramalkan oleh McKinsey Global Institute. Hal ini juga bersamaan dengan saat Indonesia memasuki usia emas, 100 tahun. Semoga.

Avatar
Billy Ariez
Kader Muda PKB
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.