Senin, April 12, 2021

Independensi, Doktrin, dan “Super Wantex”

UU MD3 dan Tantangan Demokrasi

"Dengan demikian, masalah pokok yang kita hadapi adalah bagaimana membatasi para pemegang kekuasaan, baik waktu maupun wewenangnya. Tanpa ada kepastian dalam hal itu, maka...

Lakardowo Potret Birahi Kawasan Industri

PT Putra Restu Ibu Abadi (PT PRIA) adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengangkutan, pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan limbah B3 yang beroperasi di...

Bagaimana Nasib Piala Dunia 2022 Pasca-Krisis Qatar?

Ketegangan politik regional menerpa kawasan Teluk. Qatar beberapa waktu lalu secara sepihak diputuskan hubungan diplomatiknya oleh Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab, Libya,...

Membangun Pariwisata Masa Pandemi

Berkaca dari kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah berkaitan dengan kepariwisataan pada masa pandemi Covid-19 dewasa ini dirasa mengkhawatirkan. Misalnya seperti keengganan dalam menutup pintu masuk...
Alfian Fallahiyan
Penulis harian lepas, alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Manusia berlabel mahluk paling sempurna, dengan akal fikiran sebagai pembeda dengan mahluk lainnya. Akal dan fikiran itu adalah modal untuk sebuah independensi (terlepas dari segala jenis pengaruh).

Meskipun tidak menaifikan diri sebagai mahluk mono dualis. Namun independensi sebagai seorang individu menjadi karakter dasar yang harus mengakar pada masing-masing diri individu. Baru kemudian diri individu akan memiliki identitas kedua sebagai mahluk sosial. Yang berkembang beriringan dengan situasi kondisi terdekat, yang kemudian juga dipengaruhi oleh ajaran atau doktrin.

Doktrin bagaikan udara yang mau tidak mau akan menjadi hal yang melekat selama adanya kehidupan. Doktrin menjadi sebuah kebutuhan sekaligus menjadi sebuah momok, virus abstrak yang bisa menggerogoti jiwa.

Sebagai mahluk bertuhan, tentu doktrin agama menjadi hal yang esensial mutlak dibutuhkan manusia. Sementara doktrin diluar teologi (agama) seperti pisau bermata dua, yang bisa menjdi senjata juga menjadi ancaman.

Kesalahfahaman memahami, menerima sebuah doktrin terletak pada penempatan dan pemaknaannya. Realita saat ini membuktikan hal demikian, berapa banyak individu yang gagal memahaminya, dan itu fatal, karena memaknai doktrin dengan memukul rata, dalam mengambilnya sebagai kebutuhan mutlak.

Ideologi agama sebagai doktrin kebutuhan mutlak individu disamakan statusnya dengan doktrin komunal, komunitas yang sebenarnya merupakan doktrin sekunder yang berkembang berdasarkan kebutuhan dan keadaan tertentu. Artinya pemahaman terhadap doktrin diluar doktrin agama seharusnya harus melibatkan proses nalar untuk memilih dan menilai.

Doktrin yang seperti inilah yang kemudian nanti akan menghilangkan independensi seorang sebagai individu, tidak memilki jati diri yang mampu memberikan nilai dan memilih atas dasar kemampuan dan karakter dirinya. Hal yang membuat diri akan seperti sebuah pakaian yang dipaksakan dengan warna buatan, dan sulit untuk luntur dan lentur.

Super wantex, yaa sebutan ini sepertinya cocok untuk pemahaman doktrin yang keliru. Karena akan menghilangkan nilai akal fikiran dalam menilai dan menimbang sesuatu yang telah diberikan oleh pencipta sebagai anugrah. Bahkan jika demikian kita mengingkari kekuasaan tuhan atas apa yang telah diberikan.

Doktrin agama sebagai doktrin primer yang esensi yang seyogyanya menjadi warna yang melekat atas dasar keimanan. Bukan kemudian doktrin sekunder yang menipu, yang harusnya dipilih atas dasar keimanan. Bukan kemudian kemudian doktrin yang menipu, yang harusnya dipilih atas dasar nalar namun salah menilainya seakan-akan seperti mengimani.

Mari berjati diri, bukan sekedar mandiri, apalagi sekedar menjadi pengikut, penurut dan pembuntut.

Alfian Fallahiyan
Penulis harian lepas, alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.