Kamis, Maret 4, 2021

Independensi, Doktrin, dan “Super Wantex”

Potensi Pertanian Padi Di Pulau Samosir

Pertanian padi adalah penting untuk ketahanan pangan nasional kita, pengalihan lahan pertanian padi kepada kelapa sawit telah banyak sehingga pertanian padi berkurang. Dalam pemerintahan...

Kondisi Ekonomi dalam Dinamika Keadilan Sosial Di Indonesia

Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Sejarah menunjukkan bahwa dulu kekayaan Indonesia dimiliki dan dinikmati oleh...

Mengapa SpaceX Penting Dibicarakan?

Keberhasilan SpaceX mengantar dua astronot NASA mengorbit di Internasional Space Station (ISS) menjadi penanda kemenangan Elon Musk pada perang dagang luar angkasa. Namun itu...

Reformasi Agraria yang Semu

“Reforma Agraria adalah Jalan menuju kedaulatan dan kemakmuran bangsa.”(Putut Prabowo, aktivis Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) – pada diskusi sekolah ideologi, Malang, 5 Mei 2018.) Tanah...
Alfian Fallahiyan
Penulis harian lepas, alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Manusia berlabel mahluk paling sempurna, dengan akal fikiran sebagai pembeda dengan mahluk lainnya. Akal dan fikiran itu adalah modal untuk sebuah independensi (terlepas dari segala jenis pengaruh).

Meskipun tidak menaifikan diri sebagai mahluk mono dualis. Namun independensi sebagai seorang individu menjadi karakter dasar yang harus mengakar pada masing-masing diri individu. Baru kemudian diri individu akan memiliki identitas kedua sebagai mahluk sosial. Yang berkembang beriringan dengan situasi kondisi terdekat, yang kemudian juga dipengaruhi oleh ajaran atau doktrin.

Doktrin bagaikan udara yang mau tidak mau akan menjadi hal yang melekat selama adanya kehidupan. Doktrin menjadi sebuah kebutuhan sekaligus menjadi sebuah momok, virus abstrak yang bisa menggerogoti jiwa.

Sebagai mahluk bertuhan, tentu doktrin agama menjadi hal yang esensial mutlak dibutuhkan manusia. Sementara doktrin diluar teologi (agama) seperti pisau bermata dua, yang bisa menjdi senjata juga menjadi ancaman.

Kesalahfahaman memahami, menerima sebuah doktrin terletak pada penempatan dan pemaknaannya. Realita saat ini membuktikan hal demikian, berapa banyak individu yang gagal memahaminya, dan itu fatal, karena memaknai doktrin dengan memukul rata, dalam mengambilnya sebagai kebutuhan mutlak.

Ideologi agama sebagai doktrin kebutuhan mutlak individu disamakan statusnya dengan doktrin komunal, komunitas yang sebenarnya merupakan doktrin sekunder yang berkembang berdasarkan kebutuhan dan keadaan tertentu. Artinya pemahaman terhadap doktrin diluar doktrin agama seharusnya harus melibatkan proses nalar untuk memilih dan menilai.

Doktrin yang seperti inilah yang kemudian nanti akan menghilangkan independensi seorang sebagai individu, tidak memilki jati diri yang mampu memberikan nilai dan memilih atas dasar kemampuan dan karakter dirinya. Hal yang membuat diri akan seperti sebuah pakaian yang dipaksakan dengan warna buatan, dan sulit untuk luntur dan lentur.

Super wantex, yaa sebutan ini sepertinya cocok untuk pemahaman doktrin yang keliru. Karena akan menghilangkan nilai akal fikiran dalam menilai dan menimbang sesuatu yang telah diberikan oleh pencipta sebagai anugrah. Bahkan jika demikian kita mengingkari kekuasaan tuhan atas apa yang telah diberikan.

Doktrin agama sebagai doktrin primer yang esensi yang seyogyanya menjadi warna yang melekat atas dasar keimanan. Bukan kemudian doktrin sekunder yang menipu, yang harusnya dipilih atas dasar keimanan. Bukan kemudian kemudian doktrin yang menipu, yang harusnya dipilih atas dasar nalar namun salah menilainya seakan-akan seperti mengimani.

Mari berjati diri, bukan sekedar mandiri, apalagi sekedar menjadi pengikut, penurut dan pembuntut.

Alfian Fallahiyan
Penulis harian lepas, alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.