Senin, Oktober 26, 2020

Ilusi Identitas Cebong dan Kampret

Ihwal Pengerahan TNI di Daerah

Di Minggu pertama bulan Maret lalu, tepatnya tanggal 6 Maret 2017, gubernur Sumatera Barat menerbitkan sebuah Surat Edaran (SE) no.521.1/1984/distanhorbun/2017 tentang Dukungan Gerakan Percepatan...

510 (Ciputat- Kp. Rambutan) Riwayatmu Kini

Dekil, kumal, agak bau, tapi dinanti, diminati, didambakan, bahkan dikejar-kejar. Koantas Bima 510 adalah primadona pada masanya.Siapa pun yang pernah menetap atau sekadar singgah...

Generasi Milenial, Membenci Soeharto dengan Baik dan Benar

Medio akhir tahun 2013 terjadi sejumlah penolakan terhadap penggunaan nama Soeharto sebagai nama Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Penolakan itu bukan tanpa alasan, berbagai...

Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi di Tahun Politik

Kuartal III/2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,1% jika dibandingkan dengan kuartal II/2018. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia...
dreiherba
tinggal di Jogja. menulis esai, cerpen, dan puisi

Bagaimana masa depan identitas “cebong” dan “kampret” setelah KPU merilis pengumuman secara resmi bulan Mei mendatang? Apakah keduanya hilang begitu saja, atau sebaliknya, akan tetap eksis dalam cakrawala sosial media? Sebelum menjawab ini, mari lebih dulu menyoal bagaimana kedua identitas ini terbentuk.

Dilansir dari berita tagar.id, momen terbentuk keduanya merupakan kelanjutan dari Pilpres 2014 silam. Istilah “cebong” sebutan pendukung Jokowi, sebenarnya didasarkan atas kebiasaan Jokowi yang memelihara katak saat menjabat sebagai gubernur.

Berbeda dengan itu, istilah “Kampret” sebutan pendukung Prabowo, merujuk pada nama koalisi Prabowo kala itu “KMP” yang kemudian diplesetkan menjadi “KMPret”. Kendati pada awalnya julukan itu adalah nyinyiran, toh pada akhirnya, keduanya sepakat dan menerima labeling tersebut.

Yang menarik adalah perpindahan labeling “cebong” dan “kampret” dari makian lawannya sebelum kemudian diamini sebagai identitas masing-masing. Artinya, satu sama lain sebetulnya memiliki kontribusi dalam memberikan identitas tersebut. Hal ini nampaknya, persis dengan tesis Amin Maalouf dalam bukunya, “In The Name of Identity”.

Keterberian identitas, kadangkala bukan hanya dirinya yang menentukan namun sekaligus peran orang lain yang secara represif juga ikut andil dalam mendefinisikan.

Dalam hal ini, ia mencontohkan saat dirinya kesulitan manakala seorang bertanya tentang komitmen keberpihakannya. Ia adalah seorang Kristiani kelahiran Lebanon dan sekaligus juga seorang imigran yang menetap di Perancis.

Saat mendapati pertanyaan macam itu, si penanya seolah mengharuskan ia memilih satu dari keduanya. Hal itu membuat ia mengambil satu kesimpulan, bahwa identitas bukan hanya ditentukan oleh seseorang saja, namun sekaligus orang lain juga berperan aktif dalam mendefinisikan.

Sama halnya dengan kedua identitas dalam tulisan ini, masing-masing saling mendefinisikan diri yang lain, dan masing-masing juga terbantu dalam menemukan identitasnya dirinya juga berkat lainnya. Dengan kata lain, secara garis besar, labeling “cebong” makin terlihat menjadi “cebong” berkat kontribusi lawannya “kampret” begitupula sebaliknya.

Namun, persoalan pokok ialah soal keterbelahan, alih-alih membangun lingkungan sehat dengan wacana alternatif yang segar dan aspiratif, diskursus keduanya justru defensif dan tidak akomodatif bahkan dalam banyak hal hanya berfungsi sebagai buzzer.

Sikap demikian, kian memperkeruh ruang publik kita, utamanya diskursus di dunia maya. Lebih mengkhawatirkan lagi, bahwa narasi identitas tersebut telah benar-benar berhasil mengkonversi isu-isu kritis dengan hanya melekatkan bahwa isu tersebut hanya pesanan “cebong” dan atau “kampret”.

Lantas, bagaimana menyikapi?

Ilusi Identitas Tunggal

Ketiadaan teritori misalnya batasan geografis di dunia maya menyebabkan afiliasi identitas menjadi salah satu batasannya. Dalam hal ini, labeling “cebong” dan “kampret” adalah salah satu pilihan tersebut. Namun, pertanyaannya, apakah partisan Jokowi juga sekaligus menjadi “cebong”? Sementara partisan Prabowo juga akan sekaligus menjadi “kampret”? Tentu jawabannya bisa saja iya, namun sekali lagi, itu sangat mereduksir.

Yang perlu disoroti adalah cara pengkotak-kotakkan tersebut. Yaitu, memandang kedua partisan hanya memiliki afiliasi tunggal bila tidak “cebong” ya pasti “kampret”. Pengkotakan demikian, juga tengah mendorong runcingnya perbedaan keduanya sebagai identitas yang bersaing dan seolah-olah tak terjembatani. Narasi demikian-lah yang barangkali coba terus dipelihara, bahwa keduanya, sekali lagi, seolah-olah tak terjembatani. Tapi benarkah?

Amartya Sen dalam bukunya “Identitas dan Kekerasan” membongkar pandangan soliteris yang meletakkan seseorang hanya memiliki identitas tunggal. Baginya, pandangan demikian merupakan pandangan yang ilusif, sebab pada hakikatnya seseorang memiliki identitas yang majemuk.

Soal ini Sen menawarkan cara seseorang mengidentifikasi kemajemukan identitasnya, yaitu dengan memutuskan identitas yang relevan baginya serta mempertimbangkan derajat kepentingannya. Hal tersebut dapat mematahkan anggapan ilusi tentang identitas tunggal, karena sebetulnya seseorang dapat memiliki lebih dari satu identitas, bahwa identitas tidak-lah “alami” melainkan temuan lengkap dengan pertimbangan derajat pilihan dan kepentingan.

Kendati demikian, memang tak dapat dipungkiri, rasa keterikatan terhadap afiliasi seringkali dipandang sebagai modal, misalnya, untuk mempererat pertalian yang kemudian membuat mudahnya saling berbagi satu sama lain serta sampai melampaui diri. Namun sebaliknya, rasa yang sama juga kerapkali menjadi landasan melakukan kekerasan secara komunal.

Dalam kasus “cebong” dan “kampret” keduanya memiliki keterikatan yang boleh jadi sangat penting untuk mempromosikan agenda masing-masing, namun rasa yang sama juga yang sering melandasi keduanya untuk saling membully, bahkan melazimkan kekerasan terhadap lawannya.

Pengkotak-kotakan tersebut, sebagaimana argumen Sen, sebetulnya merupakan pangkal dari pengabaian peran nalar dan pilihan atas kemajemukkan identitas. Artinya, pengabaian pilihan bagi identitas lain telah mereduksi hanya dengan memberi labeling “cebong” dan “kampret” sebagai satu-satunya kemungkinan identitas. Dengan demikian, pembongkaran labeling ini diperlukan tidak untuk menghapus keduanya dari cakrawala diskursus media sosial, melainkan upaya yang memungkinkan untuk melekatkan afiliasi identitas lain yang lebih majemuk.

Pada akhirnya, keberhasilan upaya tersebut, dengan terbukanya lebar-lebar pilihan identitas. Yaitu, diskursus yang tadinya dikerdilkan dengan labeling “cebong” dan “kampret” lalu beranak pinak menjadi banyak alternatif lain. Misalnya, sama-sama pengguna media sosial, senang ramban menggunakan Google, pecinta Timnas, penyuka musik dangdut, menggunakan waktu WIB, orang Indonesia, bahkan lebih-lebih  bisa saling menyadari bahwa sama-sama sebagai manusia.

Mereka-reka Jawaban

Pelajaran berharga dari tiang listrik Setnov dan kemenangan Timnas adalah bahwa kebencian dan kecintaan bersama dengan sementara dapat menghapus sekat labeling itu. Saat drama tiang listrik Setnov viral warganet segera menjadikan ia sebagai musuh bersama; begitu pula dengan kemenangan Timnas yang juga mengharubirukan perasaan warganet. Lantas, apakah hanya akan menunggu momen-momen demikian?

Tentu tidak! Lagi pula tidak ada yang salah dengan fenomena labeling “cebong” dan “kampret”, yang salah justru jika memandangnya hanya sebagai satu-satunya afiliasi tunggal.

Menjawab pertanyaan di atas, keduanya hilang begitu saja, atau tetap eksis. Keduanya mungkin terjadi. Baik narasi labeling ini tinggal gemanya , atau sebaliknya, tetap eksis. Sekali lagi, tidak ada masalah apa pun dengan kemungkinan itu.

Yang perlu diperbaiki adalah cara pandang kita. Mengingat lagi, bahwa munculnya labeling itu juga berkat bagaimana orang lain –yang berarti kita di dalamnya ikut berperan dalam mendefinisikan (termasuk tulisan ini); berikutnya, cara pandang kita-lah juga perlu dibenahi yang seringkali memandang afiliasi secara tunggal sekaligus mengabaikan pilihan afiliasi lain.

Pada akhirnya yang sebetulnya mendesak diperbaiki adalah cara pandang kita yang seperti ini.

dreiherba
tinggal di Jogja. menulis esai, cerpen, dan puisi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.