OUR NETWORK

Ilusi Identitas Cebong dan Kampret

Bagaimana masa depan identitas “cebong” dan “kampret” setelah KPU merilis pengumuman secara resmi bulan Mei mendatang?

Bagaimana masa depan identitas “cebong” dan “kampret” setelah KPU merilis pengumuman secara resmi bulan Mei mendatang? Apakah keduanya hilang begitu saja, atau sebaliknya, akan tetap eksis dalam cakrawala sosial media? Sebelum menjawab ini, mari lebih dulu menyoal bagaimana kedua identitas ini terbentuk.

Dilansir dari berita tagar.id, momen terbentuk keduanya merupakan kelanjutan dari Pilpres 2014 silam. Istilah “cebong” sebutan pendukung Jokowi, sebenarnya didasarkan atas kebiasaan Jokowi yang memelihara katak saat menjabat sebagai gubernur.

Berbeda dengan itu, istilah “Kampret” sebutan pendukung Prabowo, merujuk pada nama koalisi Prabowo kala itu “KMP” yang kemudian diplesetkan menjadi “KMPret”. Kendati pada awalnya julukan itu adalah nyinyiran, toh pada akhirnya, keduanya sepakat dan menerima labeling tersebut.

Yang menarik adalah perpindahan labeling “cebong” dan “kampret” dari makian lawannya sebelum kemudian diamini sebagai identitas masing-masing. Artinya, satu sama lain sebetulnya memiliki kontribusi dalam memberikan identitas tersebut. Hal ini nampaknya, persis dengan tesis Amin Maalouf dalam bukunya, “In The Name of Identity”.

Keterberian identitas, kadangkala bukan hanya dirinya yang menentukan namun sekaligus peran orang lain yang secara represif juga ikut andil dalam mendefinisikan.

Dalam hal ini, ia mencontohkan saat dirinya kesulitan manakala seorang bertanya tentang komitmen keberpihakannya. Ia adalah seorang Kristiani kelahiran Lebanon dan sekaligus juga seorang imigran yang menetap di Perancis.

Saat mendapati pertanyaan macam itu, si penanya seolah mengharuskan ia memilih satu dari keduanya. Hal itu membuat ia mengambil satu kesimpulan, bahwa identitas bukan hanya ditentukan oleh seseorang saja, namun sekaligus orang lain juga berperan aktif dalam mendefinisikan.

Sama halnya dengan kedua identitas dalam tulisan ini, masing-masing saling mendefinisikan diri yang lain, dan masing-masing juga terbantu dalam menemukan identitasnya dirinya juga berkat lainnya. Dengan kata lain, secara garis besar, labeling “cebong” makin terlihat menjadi “cebong” berkat kontribusi lawannya “kampret” begitupula sebaliknya.

Namun, persoalan pokok ialah soal keterbelahan, alih-alih membangun lingkungan sehat dengan wacana alternatif yang segar dan aspiratif, diskursus keduanya justru defensif dan tidak akomodatif bahkan dalam banyak hal hanya berfungsi sebagai buzzer.

Sikap demikian, kian memperkeruh ruang publik kita, utamanya diskursus di dunia maya. Lebih mengkhawatirkan lagi, bahwa narasi identitas tersebut telah benar-benar berhasil mengkonversi isu-isu kritis dengan hanya melekatkan bahwa isu tersebut hanya pesanan “cebong” dan atau “kampret”.

Lantas, bagaimana menyikapi?

Ilusi Identitas Tunggal

Ketiadaan teritori misalnya batasan geografis di dunia maya menyebabkan afiliasi identitas menjadi salah satu batasannya. Dalam hal ini, labeling “cebong” dan “kampret” adalah salah satu pilihan tersebut. Namun, pertanyaannya, apakah partisan Jokowi juga sekaligus menjadi “cebong”? Sementara partisan Prabowo juga akan sekaligus menjadi “kampret”? Tentu jawabannya bisa saja iya, namun sekali lagi, itu sangat mereduksir.

Yang perlu disoroti adalah cara pengkotak-kotakkan tersebut. Yaitu, memandang kedua partisan hanya memiliki afiliasi tunggal bila tidak “cebong” ya pasti “kampret”. Pengkotakan demikian, juga tengah mendorong runcingnya perbedaan keduanya sebagai identitas yang bersaing dan seolah-olah tak terjembatani. Narasi demikian-lah yang barangkali coba terus dipelihara, bahwa keduanya, sekali lagi, seolah-olah tak terjembatani. Tapi benarkah?

Amartya Sen dalam bukunya “Identitas dan Kekerasan” membongkar pandangan soliteris yang meletakkan seseorang hanya memiliki identitas tunggal. Baginya, pandangan demikian merupakan pandangan yang ilusif, sebab pada hakikatnya seseorang memiliki identitas yang majemuk.

Soal ini Sen menawarkan cara seseorang mengidentifikasi kemajemukan identitasnya, yaitu dengan memutuskan identitas yang relevan baginya serta mempertimbangkan derajat kepentingannya. Hal tersebut dapat mematahkan anggapan ilusi tentang identitas tunggal, karena sebetulnya seseorang dapat memiliki lebih dari satu identitas, bahwa identitas tidak-lah “alami” melainkan temuan lengkap dengan pertimbangan derajat pilihan dan kepentingan.

Kendati demikian, memang tak dapat dipungkiri, rasa keterikatan terhadap afiliasi seringkali dipandang sebagai modal, misalnya, untuk mempererat pertalian yang kemudian membuat mudahnya saling berbagi satu sama lain serta sampai melampaui diri. Namun sebaliknya, rasa yang sama juga kerapkali menjadi landasan melakukan kekerasan secara komunal.

Dalam kasus “cebong” dan “kampret” keduanya memiliki keterikatan yang boleh jadi sangat penting untuk mempromosikan agenda masing-masing, namun rasa yang sama juga yang sering melandasi keduanya untuk saling membully, bahkan melazimkan kekerasan terhadap lawannya.

Pengkotak-kotakan tersebut, sebagaimana argumen Sen, sebetulnya merupakan pangkal dari pengabaian peran nalar dan pilihan atas kemajemukkan identitas. Artinya, pengabaian pilihan bagi identitas lain telah mereduksi hanya dengan memberi labeling “cebong” dan “kampret” sebagai satu-satunya kemungkinan identitas. Dengan demikian, pembongkaran labeling ini diperlukan tidak untuk menghapus keduanya dari cakrawala diskursus media sosial, melainkan upaya yang memungkinkan untuk melekatkan afiliasi identitas lain yang lebih majemuk.

Pada akhirnya, keberhasilan upaya tersebut, dengan terbukanya lebar-lebar pilihan identitas. Yaitu, diskursus yang tadinya dikerdilkan dengan labeling “cebong” dan “kampret” lalu beranak pinak menjadi banyak alternatif lain. Misalnya, sama-sama pengguna media sosial, senang ramban menggunakan Google, pecinta Timnas, penyuka musik dangdut, menggunakan waktu WIB, orang Indonesia, bahkan lebih-lebih  bisa saling menyadari bahwa sama-sama sebagai manusia.

Mereka-reka Jawaban

Pelajaran berharga dari tiang listrik Setnov dan kemenangan Timnas adalah bahwa kebencian dan kecintaan bersama dengan sementara dapat menghapus sekat labeling itu. Saat drama tiang listrik Setnov viral warganet segera menjadikan ia sebagai musuh bersama; begitu pula dengan kemenangan Timnas yang juga mengharubirukan perasaan warganet. Lantas, apakah hanya akan menunggu momen-momen demikian?

Tentu tidak! Lagi pula tidak ada yang salah dengan fenomena labeling “cebong” dan “kampret”, yang salah justru jika memandangnya hanya sebagai satu-satunya afiliasi tunggal.

Menjawab pertanyaan di atas, keduanya hilang begitu saja, atau tetap eksis. Keduanya mungkin terjadi. Baik narasi labeling ini tinggal gemanya , atau sebaliknya, tetap eksis. Sekali lagi, tidak ada masalah apa pun dengan kemungkinan itu.

Yang perlu diperbaiki adalah cara pandang kita. Mengingat lagi, bahwa munculnya labeling itu juga berkat bagaimana orang lain –yang berarti kita di dalamnya ikut berperan dalam mendefinisikan (termasuk tulisan ini); berikutnya, cara pandang kita-lah juga perlu dibenahi yang seringkali memandang afiliasi secara tunggal sekaligus mengabaikan pilihan afiliasi lain.

Pada akhirnya yang sebetulnya mendesak diperbaiki adalah cara pandang kita yang seperti ini.

tinggal di Jogja. menulis esai, cerpen, dan puisi

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…