Jumat, Desember 4, 2020

Ilmu dan Peradaban Islam

Jokowi Akan Tembak Mati Teroris Medsos

Tidak ada kata terlambat apalagi takut untuk membasmi aksi teror di negeri Garuda ini sampai ke akar-akarnya. Peristiwa tragis ledakan bom yang merenggut puluhan...

Pemotongan Salib di Yogyakarta, Hasil Politik SARA?

Tentu sebagian besar dari kita pernah mendengar salah satu kalimat legendaris dari seorang Gusdur yang berbunyi seperti ini “Tidak penting apa pun agama atau...

Menelaah Ilmu dan Kemampuan dalam Penjurusan di SMA

Ketika memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA), kita mengenal adanya penjurusan yang umumnya dilaksanakan pada kelas 11. Namun penjurusan ini dapat dilaksanakan pada kelas 10,...

Hal Kontroversi Dilakukan Trump?

Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat yang terpilih pada (9/11/2016) silam, cukup menarik perhatian masyarakat luar maupun dalam negeri. Trump berhasil mengakhiri dominasi masa...
M Affian Nasser
Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar dan Alumni Pondok Pesantren Modern Babussa'adah Bajo.

Pada masa kegemilangan peradaban Islam ditandai dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan, lahirnya cabang-cabang ilmu baru, munculnya karya-karya yang orisinil, lahirnya ulama dan cendikiawan muslim besar yang produktif, perhatian pemerintah dan masyarakat yang begitu besar terhadap ilmu, dan menjamurnya lembaga pendidikan yang sangat intens mengembangkan ilmu dan pendidikan.

Semua perkembangan dan kemajuan peradaban Islam tersebut tentu tidak dapat dilepaskan dari pengaruh wahyu al-Qur’an yang begitu menekankan pentingnya aspek ilmu.

Ilmu merupakan bagian dari aspek kebudayaan manusia yang sangat penting, yang mendapatkan penghormatan yang tinggi di dalam al-Qur’an. Ilmu dipandang sebagai sarana untuk mencapai kebenaran (al-haqq). Dari sini, ilmu dipahami sebagai salah satu konsep yang mendominasi Islam dalam memberikan bentuk yang berbeda dan kompleks bagi peradaban umat Islam. Sebab itu, tidak ada konsep yang lebih operatif yang menentukan peradaban Islam dalam berbagai aspeknya seluas konsep ilmu.

Sehingga nyaris tidak ada bagian dari kehidupan intelektual muslim, baik dalam kehidupan agama maupun politik serta kehidupan sehari-hari yang tidak tersentuh oleh ilmu, sebagai suatu nilai tinggi dalam kehidupan seorang muslim.

Kemudian, semangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, belajar serta meneliti, banyak tertuang dalam kehidupan sosial umat Islam. Sebagaimana sejarah membuktikan bahwa tidak ada agama satu pun yang dapat dibandingkan dengan Islam yang telah memberikan rangsangan kepada kemajuan ilmu pengetahuan.

Dorongan untuk belajar dan melakukan penelitian saintifik, telah melahirkan masa keemasan peradaban Islam yang dicapai dengan sukses pada masa Umayyah dan Abbasiyah, serta pada masa pemerintahan Arab di Sicilia dan Spanyol.

Farid Esack dalam bukunya “The Qur’an: A User’s Guide”, menerangkan bahwa, al-Qur’an telah memberi penekanan kuat pada ilmu sebagai sebuah nilai (QS. al-Hujurat/49:9), ia juga mengaitkan intelektualitas manusia untuk menyelami kesadaran atas Tuhan, menekankan kompatibilitas antara ilmu dengan iman serta mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu (QS. al-Mujadalah/58:11). Sehingga ayat-ayat Al-Qur’an sering kali memberikan pengaruh terhadap manusia mengenai kebenaran untuk diperoleh sebagai “the knowledge” (pengetahuan).

Dalam sejarah Islam, sejak awal hingga masa keemasan, telah menyaksikan proses perkembangan berbagai cabang ilmu, baik yang termasuk ‘ulum al-naqliyah (ilmu-ilmu tradisional) maupun ‘ulum al-‘aqliyah (ilmu-ilmu rasional). ‘Ulum al-naqliyah berkembang melalui kajian-kajian tafsir, fiqh dan perkembangan ilmu hadits, yang banyak didukung oleh perkembangan bahasa Arab. Sementara ‘ulum al-‘aqliyah memperoleh materialnya melalui literatur klasik Yunani, Persia dan India, dimana kemudian mengalami transliterasi, adaptasi dan kreasi sesuai dengan dinamika internal umat Islam sendiri, termasuk di dalamnya oleh pengaruh al-Qur’an.

Jadi, selain sumber-sumber luar kebudayaan Islam, al-Qur’an telah menjadi sumber penting bagi laju pertumbuhan ilmu pengetahuan. Kemudian, terjadinya kontak intelektual umat Islam dengan tradisi intelektual lain yang jauh lebih tua, melalui gerakan penerjemahan yang berpusat di Bait al-Hikmah (Baghdad) di masa khalifah al-Ma’mun, umat Islam dapat memanfaatkan dan mengembangkan disiplin-disiplin ilmu rasional seperti filsafat, matematika, logika, kedokteran, geografi, astronomi dan sejumlah disiplin ilmu rasional lainnya.

Dari sini, kita dapat meletakkan bagaimana posisi penting al-Qur’an sebagai fondasi utama bagi kemajuan intelektual peradaban Islam, yang kemudian berhasil direkonstruksi oleh umat Islam sesuai dengan kondisi serta kebutuhan mereka pada saat itu.

Pada titik ini pulalah, kita juga dapat melihat bahwa kebesaran peradaban Islam tidak hanya berada di tangan para jenderal dan prajurit yang melakukan banyak ekspansi penaklukan wilayah-wilayah asing ke tangan Islam. Jika saja kebesaran peradaban Islam terletak di tangan mereka, maka wajah peradaban Islam dipandang tidak lebih hanya sekedar pedang dan kekuasaan, dan tak menutup kemungkinan, Islam hanya akan dikenal sebagai agama penakluk yang mengharuskan orang-orang masuk Islam melalui kekuatan militer.

Namun faktanya, kebesaran peradaban Islam justru terletak di ujung pena para ulama, para cendikiawan serta para ilmuwan yang banyak mengembangkan ilmu pengetahuan. Kejeniusan merekalah yang menorehkan dunia Islam dengan cahaya ilmu pengetahuan sehingga Islam mampu bersinar dari Timur sampai Barat dengan ribuan karya-karya intelektual yang cemerlang.

Jejaknya pun masih tetap lestari hingga sekarang, yang bahkan sebagian dari pengaruhnya menyebar ke Eropa melalui kontak budaya dan pendidikan di masa kekuasaan Islam di Spanyol. Eropa pun banyak memanfaatkan warisan intelektual umat Islam dengan menerjemahkan dan mempelajari beberapa karya-karya sains, seperti kimia, fisika, matematika, kedokteran, astronomi dan lainnya.

Hingga pada akhirnya, menjulanglah nama-nama besar para pemantik pijar intelektual peradaban Islam, seperti Ibn Rusyd (Averroes), Ibn Sina (Alvicenna), Jabir Ibn Hayyan (Geber), Al-Razi (Rhazes), Al-Khawarizmi (Algoritm), Al-Farabi (Alpharabius) dan lainnya, dimana karya-karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa latin, serta warisan khazanah intelektual mereka hingga kini masih tetap terus dikaji dan didiskusikan.

M Affian Nasser
Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar dan Alumni Pondok Pesantren Modern Babussa'adah Bajo.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.