OUR NETWORK

Ikhtiar Membangun Indonesia ala HMI

Kongres HMI jangan dipersempit hanya dimaknai sebagai ajang kontestasi perebutan kursi ketua umum semata, melainkan harus dimaknasi sebagai ikhtiar untuk mewujudkan perbaikan dan menunaikan harapan.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan pada tanggal 14 Rabi’ul Awwal 1366 H/05 Februari 1947 M silam, sudah menginjak usia ke-71. HMI sudah tidak muda lagi, namun bukan berarti sudah mulai kehilangan daya. Selama roda regenerasi masih terus berputar, selama mesin perkaderan masih terus dinyalakan, maka selama itu pula HMI akan selalu dalam keadaan muda dan prima.

Pada 14 Februari 2018 kemarin, Kongres HMI ke-XXX bertempat di Kota Ambon provinsi Maluku secara resmi dibuka oleh Presiden Jokowi. Kongres HMI jangan dipersempit hanya dimaknai sebagai ajang kontestasi perebutan kursi ketua umum semata, melainkan harus dimaknasi sebagai ikhtiar untuk mewujudkan perbaikan dan menunaikan harapan.

Kongres HMI merupakan momentum di mana gagasan-gagasan akan perubahan menuju perbaikan dari semua kader HMI yang terhimpun di 210 HMI Cabang, 20 Badko HMI serta lembaga-lembaga khusus HMI lainnya dipadu-padankan dan di ikhtiarkan serta keinginan untuk mewujudkan harapan masyarakat Indonesia atas beragam persolaan keumatan dan kebangsaan hari ini dirumuskan untuk selanjutnya di-ikhtiarkan.

Memang tidak mudah dan sangat menyita waktu, tenaga dan fikiran. Namun, itulah HMI, yang didirikan 71 tahun yang lalu dengan motivasi dasar untuk menjawab beragam persoalan keumatan dan kebangsaan.

Kongres sebagai forum kekuasaan tertinggi di HMI selalu mendapat perhatian sangat serius dari seluruh kader HMI dan alumni HMI se-Indonesia secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum.

Pada pelaksanaan Kongres XXX ini, terlihat jelas di sepanjang jalan-jalan kota Ambon, ada banyak sekali ucapan-ucapan selamat dan sukses Kongres HMI ke-XXX dari semua instansi pemerintah serta beragam organisasi politik, kepemudaan dan kemasyarakatan serta dari tokoh-tokoh lokal maupun nasional. Hal tersebut menandakan bahwa ada suatu harapan yang sangat besar yang dititipkan pada kongres HMI tersebut.

Dalam salah satu sesi seminar pada rangkaian acara Kongres HMI ke-XXX, ketua MPR RI Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa Senayan sangat menunggu hasil rekomendasi kongres HMI bagi kemajuan pembangunan umat dan bangsa di Indonesia.

Terlepas dari itu, memang sudah seharusnya jika Kongres HMI XXX ini dijadikan titik penguatan (enhancement point) untuk melakukan suatu perubahan menuju kemajuan yang nyata dan signifikan. HMI harus selalu mengukuhkan keberadaan dan memaksimalkan peran dan fungsinya sebagai organisasi yang terlahir dari semangat untuk memecahkan persoalan-persoalan keumatan dan kebangsaan demi mewujudkan masyarakat madani yang dicitakan

Dalam melihat beragam persoalan keumatan dan kebangsaan hari ini seperti mulai munculnya gerakan-gerakan teror terhadap tokoh-tokoh dan kegiatan keagamaan, tingginya tingkat penyalahgunaan narkoba, mulai maraknya perilaku LGBT, perilaku koruptif yang masih tinggi, perzinahan dan tingginya tingkat aborsi, tindakan kekerasan di dunia pendidikan dan sebagainya, kader HMI selalu diingatkan dan dibiasakan untuk berempati dan bersimpati, bukan acuh tak acuh.

Kader HMI selalu dituntut untuk harus memiliki suatu gambaran masyarakat ideal  (imagined community) yang ingin diwujudkan di masa depan. Itulah misi utama yang ditanamkan dalam setiap training-training HMI, yaitu menamankan rasa tanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridha’i Allah Swt.

Namun, usaha untuk mencapai tujuan tersebut tentu tidaklah mudah. HMI hanya akan bisa memberikan maslahat secara optimal dalam arti mewujudkan tujuannya, jika HMI sudah bisa berjalan dengan sangat baik, yaitu masyarakat madani ideal yang ingin diwujudkannya dimasa depan (imagined community) sudah tertanam kuat dalam setiap diri kader HMI.

Wawasan serta tingkat pemahaman terhadap beragam permasalahan internal dan internal yang komprehensif , analisis yang tajam dan berdasarkan pada data-data yang valid dan reliabel. Sumber daya yang  tersedia cukup meliputi aparat-aparat organisasi yang cakap dan bekerja baik serta tata kelola organisasi yang berorientasi pada efektivitas dan efisiensi hasil kinerja.

Professor John Daly dalam bukunya Advocacy; Championing Ideas and Influencing Others (2011). Ia menyatakan bahwa “whoever defines the problem wins”. Dalam konteks ke-HMI-an, pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa jika kader-kader HMI ingin menjadi problem solver  atas beragam permasalahan keumatan dan kebangsaan hari ini, maka pemahaman yang mendalam berikut analisis yang tajam berdasarkan data-data valid dan reliabel terhadap permasalahan-permasalahan tersebut merupakan kunci untuk mewujudkannya. Jika tidak, maka langkah-langkah berikutnya akan menjadi sangat sulit dan bahkaan berpotensi salah strategi dan salah fokus sasaran

Oleh karena itu, dalam Kongres HMI XXX ini, ada beberapa hal perlu untuk dijadikan fokus perhatian, yaitu: Pertama, perlu adanya peninjauan ulang terhadap pedoman tata kelola organisasi, yaitu garis hubungan dan kewenangan antar lembaga, utamanya pada tingkatan PB HMI dan Badko HMI sebagai representasi PB HMI di daerah.

Dalam rangka meningkatkan efektifitas dan efisiensi kinerja organisasi, mengingat HMI semakin hari menjadi semakin besar, dan semakin kompleksnya tantangan dan permasalahan yang harus dihadapi dan diatasi.

Kedua, HMI harus meningkatkan peran sentralnya sebagai problem solver atas beragam permasalahan keumatan dan kebangsaan secara terencana dan berkelanjutan.Sejarah telah mencatat dengan sangat jelas bahwa HMI terlahir atas keprihatinan dan kegelisahan melihat situasi dan kondisi keumatan dan kebangsaan waktu itu, yaitu pada tahun 1947.

HMI didirikan dengan motivasi dasar untuk menegakkan kedaulatan NKRI dan meningkatkan harkat dan martabat segenap masyarakat Indonesia serta untuk menegakkan dan mengembangkan ajaran islam.

Namun, tanpa data pendukung yang cukup, usaha untuk meningkatkan peran tersebut hanya menjadi khayal semata. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan kapasitas organisasi dalam menyediakan data-data yang aktual dan valid tentang situasi keumatan dan kebangsaan secara up to date.

Ketiga, HMI harus semakin memantapkan ikhtiarnya dalam mewujudkan insan paripurna yang memiliki wawasan dan kemampuan seimbang dalam domain keislaman dan kebangsaan, mengingat HMI sebagai gerbong pembawa perubahan yang memiliki keinginan besar untuk mewujudkan suatu masyarakat madani ideal yang ingin diwujudkan di masa depan (imagined community), yaitu masyarakat adil makmur yang diridha’i Allah Swt;

Semoga apa yang diharapkan dan di-ikhtiarkan membawa pada perbaikan dan kemajuan dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam dan menunaikan harapan bagi kemajuan masyarakat Indonesia. Wallahu a’lamubisshawab

Akademisi UIN Antasari Banjarmasin; Alumni Program Magister Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.