Minggu, April 11, 2021

Ihwal Jokowi dan Perjuangan Guru Honorer

Capres 2024: Anies atau Prabowo?

Beberapa lembaga survei di awal 2020 berlomba-lomba mengeluarkan hasil survei Pilpres 2024 tentang siapa nama-nama yang bakal maju sebagai capres. Nama Prabowo Subianto dan...

Refleksi Hari Ibu: Idealistis Vs Realistis

Sebagaimana kita ketahui, tanggal 22 Desember merupakan hari spesial bagi kalangan perempuan, khususnya bagi para ibu. Hari di mana ditetapkannya ibu sebagai manusia yang...

Dilema Orang Tua dan Guru di Awal Tahun Baru

Awal tahun 2021 tentu akan menjadi awal tahun yang disertai dilema para orang tua siswa dan juga para pengajar di beberapa sekolah. Bagaimana tidak?...

Together We Remember and Act

Kesempatan semua kalangan bersatu dengan menyuarakan semangat No HIV/AIDS telah tiba. 1 Desember datang dan menggerakan para remaja bangsa menunjukkan kepedulian dan dukungan mereka...
Dr Abdullah Sumrahadi
Dosen Universitas Krisnadwipayana dan Founder The Oakwood Connections

Perjuangan untuk memperoleh keadilan memang tak boleh pernah surut. Perjuangan itulah yang dilakukan ribuan guru berunjuk rasa di depan Istana Negara Jakarta belum lama ini, menuntut diangkat menjadi aparatur sipil Negara (ASN).

Namun, karena ribuan guru itu telah melebihi batas usia, maka mereka gagal. Pengabdian selama berpuluh tahun tampaknya tak dinilai oleh pemerintah. Mereka pun menuntut pemerintah untuk mengangkat mereka tanpa melalui mekanisme normal.

Tuntutan itu kini dipenuhi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Presiden Jokowi akhirnya menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 49 Tahun 2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Aturan itu membuka peluang seleksi dan pengangkatan bagi berbagai kalangan profesional, termasuk tenaga honorer yang telah melampaui batas usia pelamar pegawai negeri sipil menjadi aparatur sipil negara (ASN) dengan status PPPK.

Harapan

Keputusan itu setidaknya membuat lega guru honorer. Mereka mendapat secercah harapan untuk hidup lebih layak. Sebagai catatan hingga saat ini masih banyak guru honorer dengan gaji yang sangat minim.

Bahkan mereka dibayar di bawah upah minum kabupaten/kota (UMK). Banyak guru honorer baik di tingkat sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA) hanya mendapatkan honor Rp. 300.000 per bulan. Angka itu seringkali masih dipotong untuk kegiatan lain-lain. Pendapatan bersih mereka tak lebih dari Rp. 250.000 per bulan. Apakah uang itu cukup untuk kebutuhan sehari-hari? Pasti tidak, uang itu hanya cukup dan bahkan kurang untuk biaya transportasi.

Namun, karena panggilan hati nurani, masih banyak guru yang rela mendapatkan gaji sangat kecil. Panggilan untuk menjadi pendidik inilah yang menjadi obor penyemangat. Mereka seringkali tidak memikirkan besaran penerimaan gaji. Mereka hanya berpikir bagaimana ilmunya bermanfaat bagi orang lain.

Mereka juga berpikir jangka panjang. Artinya, pendidikan hari ini akan mengubah peta masa depan bangsa. Pendidikan hari ini merupakan investasi peradaban. Pendidikan hari ini akan berguna bagi bangsa 100 tahun ke depan.

Keteladanan

Keteladanan dan semangat itulah yang menggerakkan langkah kaki mereka menuju sekolah. Saat di sekolah mereka akan tersenyum riang walaupun rasa pahit harus ditelan. Di hadapan siswa, guru selalu riang dan bersemangat demi menularkan spirit pendidikan.

Di hadapan siswa, mereka juga tidak pernah mengeluh. Keluhan mereka hanya disampaikan kepada para pengambil kebijakan. Mereka sesekali izin meninggalkan ruang kelas untuk menyampaikan aspirasi dengan aksi unjuk rasa. Setalah demo, mereka kembali ke kelas dengan muka berseri-seri. Tabu bagi mereka menampakkan wajah muram, sedih, dan galau dihadapan masa depan bangsa.

Bagi mereka kekuatan hidup bangsa ini adalah pada siswa. Mereka menyadari tidak semua siswa berasal dari keluarga mampu. Maka menyebarkan spirit perjuangan dilandasi cinta kasih merupakan obat mujarab untuk mengurai persoalan kebangsaan. Beruntunglah siswa yang bertemu dengan guru-guru itu.

Mereka akan tertular virus semangat yang tak kunjung padam. Spirit itulah yang akan terus menyala dalam kehidupan siswa sampai akhir hayat nanti. Inilah jasa guru yang tak akan pernah putus amalnya sampai di akherat kelak.

Tak Tergantikan

Kekuatan itulah yang menjadikan guru tak akan pernah tergantikan oleh apapun. Sebagaimana pernyataan Presiden Jokowi dihadapan para guru di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Sabtu (1/12). Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyampaikan bahwa “guru haruslah tetap guru. Guru tidak bisa digantikan oleh mesin secanggih apapun, secanggih apapun tidak bisa”.

Jokowi sadar betul peran dan fungsi guru bagi siswa dan bangsa Indonesia. Guru adalah manusia mulia yang tak tergantikan perannya dalam sistem pendidikan nasional. Guru menjadi pelita di kala gelap bagi siswa dan bangsa ini. Mereka adalah lentera yang teran dan petunjuk kehidupan yang selalu menyala dan menerangi jalan bagi bangsa.

Peran kebangsaan guru itulah yang perlu dipikirkan oleh negara. Artinya, negara perlu hadir menyapa dan mengangkat derajat mereka. Tentu tidak sulit bagi negara menjadikan mereka sebagai ASN atau apapun namanya. Tentu sangat mudah bagi negara untuk membayar dengan upah yang pantas. Negara ini kaya. Aset Negara ini lebih dari cukup untuk menyejahteraan pahlawan tanpa tanda jasa itu.

Amanat

Menyejahteraan guru menjadi bagian timbal balik negara kepada mereka. Hal ini dikarenakan, negara ini juga berhutang budi pada guru. Para foundhing fathers dan mothers bangsa ini adalah para guru. Sebut saja Kiai Haji Ahmad Dahlan, Kiai Haji Hasyim Asy’ari, Ki Hajar Dewantara, Jenderal Sudirman, Juanda, bahkan Soekarno pernah menjadi guru sekolah Muhammadiyah saat diasingkan di Bengkulu. Artinya, bangsa ini didirikan atas keringat dan darah para guru.

Sudah selayaknya saat ini negara membalasnya. Negara menyediakan kemudahan bagi mereka yang telah berjuang melalui guru honorer untuk dapatkan penghasilan yang layak. Pengangkatan menjadi ASN atau PPPK merupakan amanat kebangsaan.

Kini pengangkatan sudah kian dekat. Jokowi seakan ingin membayar jerih payah mereka, walaupun tentunya hal itu masih belum sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan untuk Negara.

Namun, setidaknya, pemerintah sudah mendengar dan melihat serta bertindak nyata untuk kesejahteraan guru. Pemerintah telah berusaha mewujudkan mimpi guru honorer menjadi guru tetap PNS/Non PNS. Dengan demikian, keberpihakan Jokowi terhadap guru sangatlah jelas. Jokowi berusaha meningkatkan kesejahteraan hidup guru dengan skema yang jelas.

Pada akhirnya, semoga PP No 49 Tahun 2018 menjadi jawaban atas penantian guru selama ini. Semoga PP ini dapat segera direalisasikan agar guru dapat mengajar lebih baiknya, karena hak-haknya telah dipenuhi oleh pemerintah. Semoga.

Dr Abdullah Sumrahadi
Dosen Universitas Krisnadwipayana dan Founder The Oakwood Connections
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.