Sabtu, Januari 16, 2021

Identifikasi Fantasmatik Pendukung Capres/Cawapres

Lenyapnya Perkenalan Nyata di Zaman Medsos

Situs atau aplikasi perjodohan/perkencanan semakin hari semakin banyak jumlahnya. Selain Tinder, ada beberapa situs sejenis yang tengah populer dan dianggap valid saat ini, antara...

Fantasi Komunal Tim Prabowo?

Beberapa pekan terakhir ini, negara kita banyak dirundung masalah. Dari hoax politik sampai rekapitulasi surat suara yang tak kunjung selesai. Yang paling fantastatis adalah...

Upah Layak dan Standar Ganda Wartawan Hebat

Belum lama ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menetapkan besaran upah layak jurnalis pemula di Jakarta tahun 2019 sebesar Rp 8,42 juta per bulan....

Gus Dur, Cak Nur, dan Nilai Rasa Sastra

Gus Dur dan Cak Nur adalah salah dua tokoh intelektual yang digelari guru bangsa. Mereka menyemai perdamaian, toleransi, dan pesan-pesan kemanusiaan yang sampai sekarang...
Ricky Manik
santai saja

Muhammad Zainul Madji atau yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB) membuat pernyataan mendukung pemerintahan Jokowi dua periode. Ia digadang-gadangkan mampu menjadi salah satu figur pemimpin bangsa sebagai pesaing petahana.

Posisinya sebagai Gubernur NTB dua periode dan Dai merupakan modal sosial dan kultural yang kuat untuk dirinya bisa masuk dalam Pilpres 2019. Sosoknya menjadi representasi seorang tokoh bangsa dan umat Islam. TGB dibangun dengan citra personal sebagai ulama, cendikiawan, politisi, pemimpin bangsa dan umat, guru, dan teladan.

Dengan pernyataan tersebut, tentu membuat kekecewaan bagi kaum oposisi pemerintahan atau bagi orang-orang yang telah menganggap TGB sebagai pribadi yang objektif dalam sikap politik. Imej atau citraan-citraan yang yang dimiliki oleh TGB menjadi fantasi fundamental bagi para relawan dan penggemarnya.

Akan tetapi, fantasi fundamental akan citraan dirinya seketika runtuh hanya dengan pernyataan dukungan terhadap pemerintahan Jokowi. Hal ini berlaku juga bagi para artis yang menjadi objek hasrat orang lain. Para penggemar Slank, Dewa 19 dengan Ahmad Dhaninya, dan Iwan Fals bisa seketika berbalik tidak menyukai bahkan sangat muak dengan idolanya tersebut ketika membuat pilihan politik yang berbeda dari para fans.

Hal demikian juga terjadi pada pilihan Cawapres. Seperti kita ketahui bahwa Jokowi memilih Ketua MUI Kyai Ma’aruf Amin sebagai pendampingnya, sedangkan Prabowo memilih Sandiaga Uno selaku Cawapresnya. Pilihan kedua cawapres ini menimbulkan banyak riuh karena berada di luar wacana nama usungan yang dikembangkan oleh kedua belah pihak.

Di pihak Jokowi, nama Cak Imin yang jauh-jauh hari mendeklarasikan dirinya sebagai Cawapres juga diikuti oleh ketua umum parpol pengusung Jokowi, seperti ketua umum PPP M. Romahurmuziy, ketua umum Golkar Airlangga Hartarto, dan nama-nama lain seperti Mahfud MD, Chairul Tanjung, dan lain sebagainya.

Sementara itu, di pihak koalisi oposisi, PKS menyodorkan sembilan nama kader terbaiknya untuk mendampingi Prabowo selaku Capres. Sodoran lain juga dilakukan melalui Ijtimak Ulama yang merekomendasikan Ustad Abdul Somad (UAS) dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri untuk menjadi Cawapres Prabowo. PAN sebagai partai koalisi juga membawa nama ketua umumnya Zulkifli Hasan dan Demokrat dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Pilihan Jokowi terhadap Kyai Ma’aruf memunculkan kekecewaan pendukung atau relawan. Terutama para pemilih Ahok di Pilkada DKI 2017 yang menganggap Kyai Ma’aruf memberi andil (dengan kesaksiannya dipersidangan) atas dipenjaranya Ahok terhadap kasus penistaan agama.

Pun pilihan Prabowo yang mengidentikkan pilihannya pada rekomendasi Ijtima Ulama yang dipenghujung pendaftaran malah memilih Sandiaga Uno. Kekecewaan itu dapat dilihat dari reaksi para relawan dari berbagai media sosial yang ancar-ancar untuk memilih golput atas kontestasi pilpres 2019.

Wacana Penanda Identitas

Sejak pilpres 2014 hingga pilkada DKI 2017 dan pilkada serentak dibeberapa wilayah tahun 2018, wacana penanda identitas menguat dan meruncing dalam memproyeksikan calon pemimpin hingga para simpatisan. Hal tersebut terlihat dari alat politik identitas yang disemai sebagai kampanye hitam.

Wacana yang dimainkan adalah wacana yang saling beroposisi: toleran-intoleran, proulama-tidak proulama/prokomunis, nasionalis-tidak nasionalis, proasing/aseng-propribumi, pendatang-pribumi, pluralis-fundamentalis, jujur-korup, dan lain sebagainya.

Kita cenderung membuat identifikasi pada seseorang yang kita hasrati atau idola. Jokowi dan Prabowo secara tanpa sadar kita lekatkan pada suatu identitas. Bagi simpatisan, Jokowi akan diidentifikasi sebagai yang ‘toleran’ dan mengatakan Prabowo dan pendukungnya ‘tidak toleran’.

Begitupun simpatisan Prabowo akan mengidentifikasi Prabowo sebagai ‘Proulama’ dan mengatakan Jokowi dan pendukungnya ‘tidak proulama’, ‘prokomunis’, ‘anti-Islam’, dan sebagainya.

Wacana-wacana ini dimainkan, diperhadap-hadapkan, hingga membentuk polarisasi. Masyarakat terpolarisasi dengan membawa identitifikasi tokoh yang didukung dengan identitas yang saling melabeli. Para pendukung Jokowi juga akan diidentifikasi sebagai orang yang tidak mendukung ulama. Sedangkan para pendukung Prabowo akan diidentifikasi sebagai ‘intoleran’, ‘anti-pancasila’, ‘fundamentalis’, dan sebagainya.

Jelang pilpres 2019 ini, wacana penanda identitas mengalami peralihan. Para pendukung Jokowi yang memposisikan diri mereka sebagai pembela kemajemukan, toleran, tidak menggunakan agama sebagai cara berpolitik, seketika beralih disaat Jokowi memilih Kyai Maaruf Amin.

Jokowi dianggap malah memainkan isu agama oleh lawan politik. Sebaliknya, Prabowo yang diusung melalui ijtimak ulama tidak memilih pilihan ulama sebagai pendampingnya. Prabowo yang direpresentasikan sebagai pemimpin yang membela umat Islam dan membela ulama juga beralih dari penanda identitas tersebut.

Inilah momen di mana subjek (para pendukung) mengalami keterbelahan identitas. Identifikasi fantasmatik terhadap tokoh pilihan oleh para pendukung mengalami peralihan penanda identitas.

Identifikasi “Fantasmatik”

Identifikasi fantasmatik adalah sesuatu yang menjadi objek penyebab hasrat subjek. Dalam konsep psikonalisis Lacan, identifikasi tersebut disebut sebagai objek petit a. Jokowi, Prabowo, TGB, Mahfud M.D., AHY, Uno hingga Via Vallen adalah objek hasrat pendukung-penggemar-fans, sedangkan objek penyebab hasratnya adalah segala penanda identitas yang merepresentasikan tokoh publik atau idola tersebut.

Sesungguhnya, bukan Jokowi, Prabowo atau Via Vallen yang dihasrati oleh para pendukung/penggemar, tetapi penanda-penanda identitas yang melekat pada diri Jokowi, Prabowo atau Via Vallen. Lalu, kita terlanjur berfantasi dengan penanda tersebut untuk kemudian kita identifikasikannya kepada diri kita.

Persoalan yang bisa muncul dari identifikasi fantasmatik ini adalah siapkah kita bila terjadi peralihan penanda pada objek hasrat tersebut? Bahwa ternyata Jokowi sendiri adalah orang yang tidak toleran, suka berfoya-foya, dan bahkan diktator. Hanya dengan peralihan penanda-penanda sebagai identifikasi fantasmatik, kita seketika juga bereaksi: muntah, marah-marah, apatis, bahkan stres. Padahal peralihan identifikasi fantasmatik itu bisa saja hanya permainan penanda-wacana belaka.

Sama halnya disaat kita menghasrati objek hasrat Via Vallen dan disaat yang bersamaan ia mengatakan bahwa dirinya adalah waria, di situlah momen segala identifikasi fantasmatik terhadap Via Vallen rontok. Padahal Via Vallen sebagai objek tidak berubah. Hanya posisi simboliknya saja yang bergeser dan pemaknaan pun menjadi bergeser.

Di politik, pemaknaan atau posisi simbolik dari seorang politisi yang kita idolakan selalu memiliki kecenderungan mengalami pergeseran-pergeseran. Tidak ada yang tetap dan autentik. Kita pada akhirnya hanyalah menjadi permainan-permainan penanda/simbolik yang justru kita buat sendiri, yaitu identifikasi fantasmatik kita.

Ricky Manik
santai saja
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.