Selasa, Maret 2, 2021

Idealisme Pertahanan Prabowo dan Pesan Bagi Generasi Millenial

Analisis Ekokritik pada Film Dokumenter Semesta

Pada era modern ini karya sastra dikelompokkan menjadi empat genre, yaitu prosa, puisi, drama dan film. Meskipun tidak sedikit ilmuan sastra yang tidak mengklasifikasikan...

Aborsi Aman, Jalan Pintas atau Kesempatan?

Agaknya membahas isu aborsi adalah hal yang masih tabu di masyarakat mengingat sebagian besar masyarakat kita masih berada dalam pola pikir yang konservatif. Bahkan...

Belajar dari Mikhail Bakunin tentang Konsep Tuhan dan Negara

Sehari lalu terjadi perbincangan yang cukup seksi di grup WA kampung saya. Grup yang biasanya hanya berisi candaan-candaan biasa, hari itu terjadi perbincangan yang...

Freeport Di Mata Rocky Gerung, Profesor Ahli Kedunguan

Gambar di atas mungkin bagi sebagian orang dianggap lucu. Bagi saya, bila Rocky Gerung berpendapat begini, saya menyatakan bahwa Rocky Gerung benar-benar merupakan seorang...
Burhanudin Faturahman
Burhanudin Mukhamad Faturahman. Pemerhati Politik dan Kebijakan dalam negeri. Dapat dihubungi melalui burhanmfatur@gmail.com dan burhanudin.faturahman@dpr.go.id

Pasca Prabowo dilantik menjadi menteri pertahanan di pemerintahan Jokowi jilid 2 sejumlah agenda telah dipersiapkan untuk menjalankan tugasnya selama lima tahun mendatang.

Dalam rapat perdana di gedung parlemen Senayan, Prabowo mengungkapkan beberapa permasalahan terkait pertahanan Indonesia seperti kelemahan di PT.Pindad yang tidak dijelaskan secara rinci.

Di sisi lain Prabowo juga mengungkapkan tentang doktrin hankamneg yang intinya wawasan pertahanan Indonesia cenderung defensive bukan offensive atau dengan kata lain Indonesia tidak ingin mengganggu negara lain. Namun, di sisi lain Indonesia juga tidak ingin diganggu oleh negara atau bangsa manapun.

Pertahanan defensive yang diungkapkan oleh Prabowo sejalan dengan pembukaan UUD 1945 alinea IV yaitu Komitmen Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Dalam konteks internasional, partisipasi tersebut merupakan indikator penting dan konkrit dari peran suatu negara dalam memberikan kontribusi dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Sedangkan dalam konteks nasional, keterlibatan tersebut merupakan sarana peningkatan profesionalisme individu dan organisasi yang terlibat secara langsung dalam penggelaran operasi internasional.

Strategi Prabowo juga menjelaskan bahwa untuk memperkuat pertahanan Indonesia tidak hanya didasarkan pada doa semata (hope is not a policy) oleh karena itu beberapa strategi pertahanan Indonesia di bawah kendali Prabowo yaitu memperkuat kerjasama bilateral baik dengan negara Amerika, India, Malaysia, Thailand, Filipina, Menhan Vietnam, Brunai Darussalam, Laos.

Kerjasama Prabowo dengan beberapa negara ASEAN di bidang pertahanan dilakukan melalui forum ASEAN Defense Ministers Meeting (ADDM) Plus di bangkok, Thailand. Kerjasama pertahanan Indonesia dengan negara-negara di ASEAN merupakan komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas keamanan regional ASEAN.

Strategi Prabowo lainnya yaitu menciptakan “kader militer” melalui partisipan rakyat non-militer. Penulis menyebut istilah kader militer sebagai sumberdaya yang dipersiapkan secara khusus agar mampu menjaga ideologi dan konsistensi tindakan terhadap suatu tanggungjawab.

Apabila dikaitkan dengan kader militer di kepemimpinan Prabowo maka sumberdaya yang dibutuhkan yaitu sumberdaya militer yang dipersiapkan secara khusus untuk menghasilkan perwira mulai dari kalangan pelajar dari pelajar SMP, SMA hingga perguruan tinggi tentunya berkerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Golongan berpendidikan ini merupakan cadangan pertahanan negara selain TNI sebagai komponen utama perang terbuka.

Idealisme Prabowo tersebut sebenarnya tidak murni berasal dari pemikirannya karena memperjuangkan kemerdekaan adalah jerih payah pahlawan nasional masa lampau saat mengusir penjajah dari negeri tercinta ini.

Kemudian era setelahnya, kemerdekaan merupakan tanggungjawab generasi yang masih hidup sampai saat ini bahkan generasi masa mendatang. Dengan kebijakan non-militer Prabowo yaitu mencetak perwira milter dari kalangan pemuda serta terpelajar maka generasi muda memegang peran strategis sebagai cadangan pertahanan negara.

Sejarah mencatat, bahwa kontribusi pemuda sangatlah penting dan dibutuhkan oleh bangsa ini. Tentunya bukan sembarang pemuda yang bisa membawa bangsa ini lebih baik dan mampu berdiri di atas kaki sendiri. Terlebih, Indonesia dihadapkan dengan bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045.

Menjadi sebuah keharusan bagi generasi paling baru  yaitu generasi millenial untuk turut berkontribusi dalam mempertahankan pertahanan dan kedaulatan bangsa. Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa sebagai pemuda dari golongan terdidik merupakan komponen cadangan pertahanan negara sehingga untuk menjaga pertahanan dan kedaulatan bangsa pemuda tidak berperang secara fisik melainkan memiliki wawasan ketahanan negara yang luas. Aspek pengetahuan dan berpikir rasional-akademis merupakan cara menciptakan ketahanan negara yang ideal.

Generasi millenial sangat diuntungkan karena berbagai kemudahan diperoleh dari zaman yang berlimpah ruah atau abundance saat ini terutama akses informasi berbasis internet, namun di sisi lain generasi milenial memiliki kerentanan justru karena ia hidup dan dibesarkan di zaman abundance ini.

Era abundance ini memberikan berbagai fasilitas dengan mudah, yang berbeda dari generasi sebelumnya. Generasi sebelumnya yaitu generasi X beradaptasi dalam keterbatasan sampai kemudian masuk ke era abundance. Sebaliknya, millenial langsung masuk dalam pusaran abundance tadi tanpa lewati masa keterbatasan. Cara seperti itu mereka mendapat berbagai modal dengan mudahnya.

Lalu lintas barang dan jasa pun semakin murah. Namun boleh jadi, kemudahan itu tak selaras dengan bangunan sikap mentalnya. Sikap mental ini adalah proses yang embedded atau menubuh dalam dirinya. Sebuah kondisi batin seseorang bagaimana ia merespons, meyakini, menilai, menghayati suatu hal.

Dari sinilah perlunya sebuah proses dalam menjajaki kehidupan yang tak seinstan seperti pesanan online. Generasi millenial perlu menapaki anak tangga setahap demi setahap dalam mencapai tujuan bahkan sekarang generasi  Millennial bisa melompati beberapa anak tangga sekaligus.

Proses itu mereka mampatkan seolah sedang berlari untuk mengejar sesuatu. Yang sayangnya, apa yang mereka kejar sebenarnya dibentuk dari media sosial dan pengetahuan yang sifatnya praktis. Lantas Ia membandingkan dirinya dengan yang lain sehingga ia menginginkan hal itu. Generasi milenial juga generasi yang haus  akan eksistensi diri namun masih rentan dalam pola pikir yang konsisten dan berprinsip.

Oleh karenanya, dalam membentuk sikap dan kepribadian yang berkarakter diperlukan pendidikan kuat yang didasarkan pada tujuan bernegara seperti yang diamanatkan pembukaan UUD 1945 sebagai cita-cita bangsa Indonesia yang melindungi segenap bangsa; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan dan menjaga ketertiban, perdamaian dan keadilan.

Terlebih lagi, negara ini berdiri di atas perbedaan-perbedaan sehingga satu sama lain saling memahami dan saling mengerti. Kesatuan dan persatuan karya generasi sebelumnya sudah semestinya kita rawat dan jaga dengan sebaik mungkin.

Burhanudin Faturahman
Burhanudin Mukhamad Faturahman. Pemerhati Politik dan Kebijakan dalam negeri. Dapat dihubungi melalui burhanmfatur@gmail.com dan burhanudin.faturahman@dpr.go.id
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.