Minggu, April 11, 2021

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Meredupnya Ideologi Partai di Indonesia

Pertemuan antara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) pada Rabu (11/12) silam tampak menjadi pertemuan yang bersejarah. Pandangan tersebut tentu...

Media Cetak sebagai Simpul Perjuangan

Pers merupakan alat untuk siapa saja yang ingin menyebarkan informasi, berita, maupun propaganda. Pers telah menjadi pilar dalam demokrasi yang berfungsi bisa sebagai pengimbang...

Generasi Millenial: Pancasila, Semangat Toleransi & Kebhinekaan

Aksi long march mendukung Pancasila dan Perppu Ormas yang dilakukan ratusan anak muda Bali di Jembran, Minggu (27/8).Indonesia selaku negara multi etnis dan agama,...

Mendorong Multilateralisme Vaksin

Vaksin Covid-19 telah menjadi 'barang' paling berharga, paling dicari, dan paling diperebutkan oleh berbagai negara pada saat ini. Betapa strategisnya vaksin itu sehingga disebut...
Yuliana Kristianti
Co-founder Komunitas Lingkar Prestasi

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap “organisatoris” dan “aktivis”. Organisatoris dan aktivis adalah dua hal yang berbeda. Aktif dalam organisasi bukan berarti peduli dengan kemanusiaan. Begitu pun sebaliknya, aktif memperjuangkan  kemanusiaan tidak selalu terikat dalam sebuah organisasi.

Saat ini definisi organisatoris dan aktivis sudah seharusnya dipisah. Tidak semua organisator menjunjung bahasa tanpa kebohongan seperti yang termuat dalam sumpah mahasiswa. Bahkan, tidak semua organisator memperjuangkan keadilan.

Hak Berjuang dengan Menyampaikan Pendapat

Presiden Joko Widodo dikritik karena tindakannya yang meminta kritik. Banyak yang menyampaikan ketakutan untuk mengritik akibat adanya UU ITE. UU tersebut layaknya kartu AS yang bisa digunakan oleh siapapun saat ada yang mengritiknya melalui media sosial.

Kritik memang sebaiknya disampaikan dengan baik. Orang tua yang mengerti etika akan mengajarkan anaknya demikian. Namun orang tua yang beretika juga akan mengajarkan anaknya untuk mendengarkan kritik orang lain, menimbang, dan mengaplikasikan hal-hal yang dianggap benar.

Sebagai negara demokrasi, kebebasan berpendapat menjadi hak setiap Warga Negara Indonesia. Dengan halus pemahaman demokrasi masuk dalam alam bawah sadar. Tanpa direncanakan, mereka yang memahaminya meyakini bahwa bersuara adalah sah-sah saja. Begitupun, mereka yang merenggut hak bersuara sebenarnya sadar bagaimana konsep demokrasi semestinya. Namun, ketakutan akan suara orang lain membuatnya berusaha membungkam dengan cara apa saja.

Demokrasi dalam Pemilihan Presma

Negara merupakan komunitas besar yang memiliki komunitas-komunitas kecil di dalamnya. Salah satu komunitas kecil yang menjadi gudang ilmu pengetahuan adalah kampus. Didiami mahasiswa, kelompok orang yang berlabel agen perubahan. Mereka bahkan memiliki sumpah yang idealis nan nasionalis.

Seolah mengikuti apa yang diajarkan negara, sebisa mungkin demokrasi di kampus harus ditegakkan. Pemilihan Presiden Mahasiswa dilaksanakan dengan pemilihan umum. Setiap mahasiswa aktif diberi hak suara. Ia bebas memilih calon yang mana saja tanpa intervensi dari siapa pun. Pemeroleh suara terbanyak adalah orang yang akan menjadi koordinator untuk mewujudkan cita-cita kolektif.

Namun sayangnya, kerap kali, bahkan sepertinya hampir selalu terjadi di setiap kampus bahwa demokrasi yang selalu digaungkan justru diciderai sendiri oleh mahasiswa. Pemilihan Presiden Mahasiswa menjadi ajang untuk mendapatkan kekuasaan. Akses dengan petinggi kampus adalah tujuan utama dibandingkan menjadi penggerak untuk menyejahterakan mahasiswa lainnya.

Demokrasi Kampus yang Cidera di Tengah Pandemi Corona

Kontestasi pemilihan Presiden Mahasiswa tidak jarang sudah dimulai sejak pembentukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU yang seharusnya netral justru ditunggangi. Mereka membawa kepentingannya sendiri.

KPU membocorkan soal tes wawasan kampus kepada salah satu calon, sengaja membuat aturan yang menguntungkan salah satu calon, bahkan hingga manipulasi pemerolehan suara kerap ditemui pada pemilihan Presiden Mahasiswa.

Hanya ada dua alasan untuk melakukan cara-cara demikian: pertama, ambisi untuk menang dalam kontestasi membuat mereka lupa akan kapasitas diri. Kedua, tidak percaya diri akan kapasitas yang dimiliki. Cara-cara yang jauh dari kata ideal dengan sadar dipilih dengan dalih “untuk mengabdi”.

Selama pandemi COVID-19 kampus-kampus mengadakan pemungutan suara secara online. KPU yang dipercaya menjadi penyelenggara diharapkan bisa bertanggung jawab atas beban moral untuk mewujudkan pemilihan yang demokratis dan beradab.

Penghitungan hasil suara yang dilakukan secara online seharusnya tetap dilaksanakan dengan terbuka. Jika tidak dilakukan secara terbuka, maka dugaan kecurangan yang dilakukan KPU untuk salah satu calon tidak bisa dihindarkan.

Kecurangan sekecil apapun tidak bisa dibenarkan. Mahasiswa yang seharusnya menyadarkan negara, apakah lupa dan tengah belajar pada negara?

Upaya Menegakkan Demokrasi di Kampus

Praktik-praktik curang dalam pemilihan Presiden Mahasiswa harusnya segera diselesaikan. Mengutip kata Pramoedya Ananta Toer “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”

Sebagai upaya menjalankan demokrasi yang adil dan jujur, penentuan pemimpin harus melibatkan penuh aspirasi seluruh orang yang akan dipimpin.

Setiap orang yang akan dipimpin berhak memilih sekaligus melengserkan orang yang memimpinnya. Jika ditemui banyak kejanggalan, setiap orang berhak untuk bersuara karena bagaimana pun kritik adalah bagian yang sangat penting bagi demokrasi.

Selain itu, sikap kritis civil society seperti Lembaga Pers Mahasiswa harus terus dibangun. Lembaga Pers Mahasiswa idealnya bisa menjadi media yang menyadarkan masyarakat mahasiswa.

Bisa diamati bahwa tidak semua pemenang kontestasi bisa menerima lawan kontestasinya untuk berjuang bersama. Jika tujuan utama meraih kemenangan adalah mewujudkan cita-cita kolektif kawan-kawan sesama mahasiswa, seharusnya semua pihak yang terlibat dalam kontestasi bisa terbuka. Pemenang tidak lantas membuang mereka yang kalah. Kepemimpinan seharusnya bisa membawa pencerahan dan pendewasaan politik. Begitu pun yang kalah, seharusnya tidak ragu untuk bergabung.

Rekonsiliasi usai kontestasi politik perlu dilakukan agar tidak ada dampak berkepanjangan yang bisa merugikan mahasiswa lain. Perlu disadari bahwa menjadi agen perubahan tidak bisa dilakukan sendirian.

Berapa banyak Pema atau BEM yang memilih diam akan persoalan birokrasi kampus yang dihadapi kawan-kawan mahasiswanya?

Apa jadinya demokrasi bangsa jika idealisme sudah mati sejak mahasiswa? Belajar dari pandemi corona, PSBB tingkat nasional tidak berhasil menekan laju persebaran virus jika tidak diikuti pencegahan dari lingkup yang terkecil, seperti kampus. ***

Yuliana Kristianti
Co-founder Komunitas Lingkar Prestasi
Berita sebelumnyaDemitologisasi SO 1 Maret
Berita berikutnyaTanah dan Transmigrasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.