Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Ibu Megawati dan Model Politik Ibu Rumah Tangga

Mengacuhkan Gazprom di Piala Dunia 2018

Tahun lalu, tepatnya pada tanggal 18 Juli, Pengadilan Internasional mendakwa Rusia sebesar 5,4 juta Euro terkait tindakan mereka naik ke kapal dengan bendera Belanda...

Gerindra dan PKS Tarik Ulur Kursi Wagub, Warga DKI Terabaikan

Sejak Sandiaga Salahuddin Uno (Sandi) maju mencawapreskan diri, praktis jabatan wakil gubernur menjadi kosong, dan tugas-tugas wakil gubernur menjadi terbengkalai. Dalam melaksanakan tugas, gubernur...

Is the Indonesian Government Becoming State-Terrorist?

Many political scientists often debate the term 'state-terrorism.' However, a highly influential definition is that of Ruth Blakeley's. Ruth fragments that the variables of...

Pemberdayaan Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia

Krisis ekonomi, politik, dan keamanan di dunia telah menyebabkan peningkatan migrasi penduduk ke berbagai negara untuk menghindari konflik dan kekerasan. Pemerintah dan organisasi kemanusiaan...
Galang Harianto Pratama
Pegiat Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Surabaya. Aktivis Majelis Kalam Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Surabaya. Pengurus HIPMI PT Surabaya, lulusan Hubungan Internasional Unair 2012 (soon).

Penilaian terhadap Megawati Soekarnoputri semestinya tidak terbatas pada masa kepresidennya yang hanya setengah periode, tetapi dilanjutkan dengan kepemimpinannya pada sebuah partai yang saat ini berhasil menduduki pucuk kekuasaan.

Partai yang ia pimpin masih lekat sebagai citra partai wong cilik dan kemudian pernah setia menjadi oposisi di era pemerintahan Presiden SBY. Pilihan menjadi oposisi hingga dua periode itulah salah satu bentuk keberanian, dan sangat penting bagi pembelajaran politik bangsa ini. Lantas Megawati layak jika dianggap sebagai salah satu politisi ideologis di tengah gelombang pragmatisme.

Namun dibalik keteguhan ketua umum mengawal hasil Munas yang menetapkan posisi PDIP sebagai oposisi pemerintahan SBY, banyak pihak memiliki penilaian lain. Banyak orang salah tafsir dengan mengira bahwa Megawati seorang pendendam atau menjadikan persoalan pribadi menjadi masalah partai.

Megawati adalah pemimpin yang memiliki karakter kuat. Di tengah kondisi politisi Indonesia yang kebanyakan tidak memiliki karakter. Dengan memegang prinsip semua bisa diatur, asal menguntungkan, Megawati tetap saja kekeh memegang prinsip. Padahal kebanyakan dari politisi kita saat ini, negotiable dan takut jatuh miskin.

Jika Megawati seorang pendendam, seharusnya ia dendam kepada Soeharto. Namun sejarah mencatat, ketika ia memegang kekuasaan, ia tidak melakukan apapun kepada pihak-pihak yang telah melukai keluarga dan pribadinya. Padahal kalau ia mau memerintahkan tentara melakukan character asassination terhadap Soeharto, bisa saja. Seperti yang dilakukan oleh Soeharto kepada Bung Karno. Ia tegas mengatakan, tidak ingin setiap Presiden RI diperlakukan sebagaimana yang terjadi terhadap ayah beliau.

“Tidak berarti saya harus dendam dengan memperlakukan Pak Harto sama seperti bapakku diperlakukan oleh beliau. Karena bagaimanapun, harkat martabat bangsa dan negara Indonesia ini jangan sampai diremehkan oleh bangsa lain, karena kita tidak menghargai tokoh-tokoh atau presiden sendiri, “ ucapnya.

Megawati dianggap sebagai sebuah keajaiban politik kontemporer Indonesia. Kancah politik seorang ibu rumah tangga biasa, bukan seorang ahli politik atau tamatan perguruan tinggi, gelar berderet pun ia tak punya. Dia hanyalah seorang perempuan penuh kasih terhadap keluarga suami, anak, penggemar tanaman, tidak suka bicara, penggemar tanaman dan hobi memasak. Hal inilah yang kemudian memunculkan pandangan bagi sebagian kalangan, bahwa Megawati tidak paham politik.

Bagi penulis sangat salah bila dikatakan Megawati tidak paham politik. Beliau adalah anak putra sang fajar, yang hidup di dalam istana dan bergaul dengan Bung Karno yang selalu berbicara politik dengan tamunya. Kuliah politiknya langsung dari ayahnya. Guru besar politiknya adalah Soekarno. Lantas intuisi politiknya pasti lahir sejak kecil. Ketika beranjak dewasa, ia pun menikah dengan Taufiq Kemas, seorang aktivis. Pondasi inilah yang melahirkan karakter kuat politik ala Megawati.

Salah satu model politik Megawati adalah banyak diam. Sikap diam inilah yang tampaknya menjadi fenomena menarik karena tidak populer dalam dunia perpolitikan Indonesia. Politik Indonesia yang khas dengan kegaduhan elitnya, tidak nampak dalam figur Megawati. Strategi diam ini nampaknya sesuai dengan kondisi, karena mainstream banyak bicara ternyata membuat rakyat pusing. B

ahkan ketika banyak pihak meragukan kualitas pidato dan komunikasi Megawati, enteng ia menjawab, “Di zaman Orde Baru ketika orang takut bicara, hanya saya sendiri yang ngomong dan saya ditertawakan. Di era reformasi ini semua orang berani bicara dan saya memilih diam kok orang pada ribut?.

Melihat jejak perjuangan Megawati melawan Orde Baru, dibuktikan sejak ia masuk Partai Demokrasi Indonesia, seharusnya menjadi hikmah bagi siapa saja yang mengerti makna perjuangan. Tentang peristiwa penyerangan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, intervensi Pemerintah dalam Munas PDI untuk menjegal kemenangan Megawati sebagai Ketua Umum, hingga tidak diakuinya kepemimpinan Megawati sebagai Ketua Umum oleh Pemerintah, makin memantapkan posisi Megawati sebagai simbol perlawanan. Ia menjadi kuat karena dia berikut barisan partainya menjadi kelompok teraniaya oleh kekuasaan negara.

Megawati boleh jadi tenggelam oleh nama besar ayahnya tetapi tidaklah sebuah perjuangan memiliki momentumnya sendiri untuk melahirkan seorang pejuang? Sejarah kemudian mencatat bahwa perjuangan menegakkan demokrasi dan keadilan tak bisa dipisahkan dari aktivitas politik Megawati.

Negarawan

Momentum pemilu 1999, menempatkan PDIP menjadi partai pemenang pemilihan legislatif dengan total perolehan lebih dari 35%. Namun sangat lucu, ketika dalam sidang MPR untuk memilih Presiden, Megawati dinyatakan kalah. Gus Dur dari koalisi poroh tengahlah yang kemudian terpilih. Pendukung Megawati di seluruh tanah air terperanjat. Bagaimana ketua umum partai pemenang kalah oleh Gus Dur calon dari PKB, sebuah partai yang jauh lebih kecil dibandingan PDI-Perjuangan?

Situasi politik tanah air kemudian mencekam. Di setiap kantong massa PDIP, orang-orang menyiapkan drum-drum berisi bensin dan minyak tanah. Di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Riau, Pekanbaru, semua orang siap melakukan aksi bumi hangus.

Kondisi Megawati sebagai ketua umum menjadi muram dan tegang. Pada satu titik ia menyaksikan pengorbanan kadernya di daerah-daerah, satu sisi ia tidak siap dengan politik yang demikian keras. Gus Dur sebelumnya berjanji akan mendukung dan melapangkan jalan bagi Megawati, nyatanya berubah melawan. Di tengah situasi yang kacau, Megawati terbesit untuk bergerak melalui jalan revolusi, berjuang di luar sistem untuk meraih kemenangan.

Namun pada situasi inilah Megawati memancarkan cahaya negarawannya. Ketika ia tersentak oleh tipisnya etika dan fatsoenpolitik, akhirnya Megawati setuju mencalonkan diri sebagai wakil Presiden dan terpilih oleh sidang MPR. Baik juga untuk diingat, bahwa janji Gus Dur untuk melapangkan jalan bagi Megawati terbukti menjadi kenyataan di kemudian hari. Gus Dur berhenti sebagai Presiden pada tahun 2001 dan Megawati dari Wakil, naik menjadi Presiden RI ke-5.

Ketika menjadi Presiden, Megawati membuktikan bahwa ia mampu membentuk kabinet profesional dan menunjuk orang pada posisi yang tepat. Dari 33 Menteri, 28 Menteri berangkat dari kalangan non partai. Hal inilah yang patut diingat, selain juga tampilnya Megawati sebagai perempuan pertama menjadi Presiden RI menjadi tonggak penting untuk merubuhkan pendapat kuno tentang posisi perempuan.

Di era kontemporer, tantangan Megawati yang terbesar adalah bagaimana melanjutkan falsafah, spirit, semangat atau api bangsa yang dahulu dirumuskan oleh Soekarno menjadi kenyataan dalam konteks kekinian. Meskipun memang momentum saat ini telah berbeda.

Alangkah baiknya, jika Megawati menggunakan sumber daya yang ada padanya, untuk merawat dan mengembangkan apa yang dulu ditinggalkan Soekarno, yaitu Pancasila, kemandirian bangsa, nasionalisme dan gotong royong, hingga doktrin merdeka atau mati. Menempuh jalan sebagai penegak pancasila tidak harus menjadi presiden. Posisi itu presidenb sudah terlalu kecil posisi bagi Ibu Megawati.

Galang Harianto Pratama
Pegiat Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Surabaya. Aktivis Majelis Kalam Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Surabaya. Pengurus HIPMI PT Surabaya, lulusan Hubungan Internasional Unair 2012 (soon).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.