Rabu, Januari 20, 2021

Ibn Khaldun Bapak Sosiologi Modern

Kesedihan dalam Perspektif Al-Kindi

“Al-Huznu huwa faqd al-mahbub wa faut al-mathlub”. Kesedihan adalah hilangnya yang dicinta dan luputnya yang didamba. Demikian Filosof Al-Kindi (w. 866) mendefinisikan kesedihan dalam bukunya yang...

Muhammadiyah dan Tantangan Jihad Digital

Dakwah Muhammadiyah senantiasa mengusung misi tajdid atau pembaharuan. Yang dimaksud pembaharuan adalah menyelaraskan ajaran agama sesuai dengan perkembangan dan perubahan zaman. Ketika menyelenggarakan muktamar...

Waspadai Dampak Penggunaan Smartphone

Teknologi dan informasi berkembang pesat di masa kini. Berbagai kemudahan ditawarkan, mulai dari cara akses sampai fasilitas. Kemudahan ini pun dilihat sebagai jalan terang....

Solidaritas Ekologis

Dalam kontestasi politik, perdebatan yang dihadirkan kelompok masyarakat pada akar rumput terkonsentrasi mengenai pilihan politik dengan debat yang tidak berkesudahan. Sementara di saat yang bersamaan,...
Raha Bistara
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prodi Aqidah dan Filsafat Islam

Al-Muqaddimah adalah karya monumental yang ditulis oleh seorang filosof muslim abad XIV, ia adalah Ibn Khaldun. Al-Muqaddimah adalah karya klasik yang dapat ditengok dari berbagai disiplin keilmuan, baik itu filsafat, sejarah, sosiologi, ekonomi, teologi, geografi, dan bahkan mistik. Sampai saat ini banyak cendekiawan yang masih mengkaji terkait karya tersebut. Bahkan para sosiolog modern dari mulai Machiavelli, Aguste Comte, Emil Durheim dan Max Weber mereka semua terinspirasi dari Ibn Khaldun.

Karier Intelektual Ibn Khaldun

Ibn Khaldun yang bernama lengkap Abu Zaid Abdul-Rahman Ibn Muhammad Ibn Khaldun Wali al-Din al-Thusi al-Hadrami (1332-1406 M). berasal dari keluarga yang berkecimpung dalam dunia ilmu pengetahuan dan politik. Kakek bunyutnya Banu Khaldun yang tertua  Khaldun bin al-Khattab pindah ke Andalusia pada abad ke-XVIII. Dengan demikian dia menyaksikan jatuh bangunya kerajaan kekuasaaan Islam di Spanyol.

Pada saat Ibn Khaldun berkecimbung di dunia intelektual, tepatnya pada abad ke-XIV. Dunia pemikiran Islam sedang mengalami kemandegan dan kekacauan politik sedang merajalela di mana-mana. Ditambah masalah ashabiyah kesukuan yang tidak terpusat pada satu pemerintahan, banyak kerajaan kecil yang memisahkan diri dari kerajaan besar yang terpusat. Hal itulah yang membuat kehiduapan Ibn Khaldun bersifat nomaden tidak bisa menetap pada satu kota saja.

Usia muda Ibn Khaldun diwarnai dengan intrik politik bahkan itu terjadi sebelum dia mencapai usia dua puluh tahun. Dengan hal ini menjelaskan bahwa pengamatannya terhadap orang-orang yang terjun dalam dunia politik tidak diragunakan lagi. Persaingan keras, saling menjatuhkan, saling menghancurkan adalah fenomena yang biasa berlaku dalam dunia politik. Politik yang disaksikannya adalah politik yang beradu kekuatan yang mengindahkan kaidah-kadiah moral (Syafii Maarif, 1996:12)

Sebagai seorang yang sudah kenyang berkecempung dalam dunia politik Ibn Khaldun akhirnya sadar politik tidak bisa membuat dirinya merasa tenang dan damai. Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri percaturan politik dan lebih fokus kepada ilmu pengetahuan, di samping sebagai pengajar dan fuqaha. Pada masa-masa inilah Ibn Khaldun menulis karya yang monumental yakni Kitab al-Ibar wa Diwan al-Mubtada wal-Khabar fi Ayyamil-Arab wal-Ajam wal-Barbar wa man Asarahum min Zawis-Sultan al-Akbar yang mana bagian pertama kitab ini adalah al-Muqaddimah.

Al-Muqaddimah

Al-Muqaddimah ditulis berdasarkan pengalaman yang kaya dan pemikiran yag realistis. Itu tampaknya yang menjadikan al-Muqaddimah seperti Injil atau al-Quran di mana setiap golongan yang mengalami konflik dapat menemukan sesuatu di dalamnya untuk mencapai tujuan golongan tersebut. Ini merupakan sebuah masalah setiap karya yang setiap kali muncul karena dilihat dari persepketif yang berbeda dari persepktif pengarang.

Sebagai karya yang monumental al-Muqaddimah salah satu kitab yang dikaji oleh para orientalis klasik. Para orientalis ini yang membawa buah pemikiran Ibn Khaldun ke Eropa. Melalui buah pemikiran ini kemudian mengantarkan Eropa menuju Rennaisance bahkan menuju pada masa keemasannya. Machiavelli misalnya dalam membentuk tatanan yang ada di dalam masyarakat pada saat itu sepenuhnya mengikuti teori-teori yang ada di dalam Muqaddimahnya Ibn Khaldun. Maka al-Muqaddimah disebut sebagai ilmu sosiologi.

Penyebutan al-Muqaddimah sebagai ilmu Sosiologi ini tidak sembarang karena di dalam Muqaddimah berisi ajaran-ajaran dan gejala-gejala yang berkaitan dengan masyarakat. Seperti contoh mengenai kedaulatan, otoritas, meraih penghidupan, perdagangan, ulmu pengetahuan, dan sebab-sebab serta alasan-alasan untuk memilikinya (Abdullah Enan, 2013:157). Kitab ini adalah kita yang paling sering dirujuk dan dikaji oleh para cendekiawan yang ada di Barat atau di Timur.

Ilmu al-Umran dan Ilmu Sosiologi 

Sosiologi adalah bagian terpenting dari ilmu sosial. Secara umum yang sering kita pahami sosiologi adalah ilmu yang mengkaji secara sistematis mengenai masyarakat manusia. Sedangkan secara metodologis sosiologi adalah suatu pengetahuan yang berdasarkan empiris dan teoritis. Mari dengan seksama kita bandingkan antara sosiologi dengan Ilmu al-Umran yang diramu oleh Ibn Khaldun dalam kitabnya yang monumental yakni al-Muqaddimah.

Bila defenisi umum mengenai sosiologi diterapkan dalam al-Muqaddimah, tempat dasar-dasar Ilmu al-Umran ditemukan, maka tidak diragukan lagi bahwa Ibn Khaldun adalah bapak sosiologi modern. Al-Muqaddimah adalah analisis sistematis mengenai masyarakat Arab baik sebelum atau sesudah Ibn Khaldun lahir. Sedangkan Ilmu al-Umran memuat teori-teori sosiologi yang baru dibuat pada abad ke-XIX di Barat oleh tokoh-tokoh Sosiologi seperti Aguste Comte, Herbet Spencer, Karl Marx dan lain sebagainya.

Bilda dibandingkan dengan ilmu sosiologi modern, Ilmu al-Umran lebih komprehensif karena memuat cakupan dengan sudut pandang yang lebih kompleks diramu melalui pendekatan-pendekatan multidisplin, seperti pendekatan sejarah, geografi, ekonomi, teologi bahkan mistik. Dengan demikian untuk melihat periode tertentu melalui sejarah maka harus menggunakan sumber yang banyak dan sudut pandang yang berbeda supaya hasilnya bersifat objetif (Syafii Maarif, 1996:42)

Kata Ibn Khaldun agar terhindar dari kesalahan dalam meramu sebuh toeri sosiologi maka harus dikembalikan kepada sumber pokoknya dan diuji berdasarkan prinsip-prinsip historis (Ibn Khaldun, 1967:10). Kelemahan dalam historiografi Arab Muslim di mata Ibn Khaldun karena mereka tidak mengerti masalah-masalah sosial dan kultur masyarakat secara mendalam. Hal ini yang membuat tulisan-tulisan terdahulu terlihat usang dan mudah dibantah dengan tulisan-tulisan yang bersifat kebaharuan.

Kenyataan inilah pendorong utama bagi Ibn Khaldun untuk menciptakan teori Ilmu al-Umran. Ilmu baru ini ditawarkan sebagai paradigma alternatif untuk memahami sejarah masyarakat dan peradaban Arab yang komprehensif, cermat dan ojektif. Walaupun bangunan terori sosiologinya lebih banyak didasarkan pada observasi dan analisanya terhadap wilayah maghrib, sekalipun wilayah masyriq juga dijadikan sebagai rujukan.

Raha Bistara
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prodi Aqidah dan Filsafat Islam
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Apa Itu Tasalsul? Mengapa Tasalsul Mustahil?

Berbeda halnya dengan para teolog (al-Mutakallimun) yang bersandar pada dalil al-Huduts (dalam kebaruan alam), para filsuf Muslim pada umumnya menggunakan dalil al-Imkan (dalil kemungkinan...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.