in

HUTRI72 – Merawat Kemerdekaan dari Senja di Pantai Losari


Ketika Archimedes sedang berada di toilet ia menyadari volume air naik setelah menenggelamkan bagian tubuhnya. Kemudian terjadilah, ia menemukan hukum Archimedes. Ia berlari dan berteriak, Eureka…Eureka. Ketika Isac Newton berada di bawah Pohon lalu terjatuh sebuah apel. Kemudian terjadilah, ia menemukan hukum Newton. Apakah kita percaya dengan hal-hal sesederhana itu ? Apakah kita percaya dengan peristiwa sederhana yang memberikan spirit?

Barangkali itu menjadi pertanyaan terhadap diri saya, kala menyaksikan kepergian senja di sore hari. Secara kasat mata senja menandakan pergantian siang menuju malam hari. Hari berganti senja pun berganti wajah dan selalu meninggalkan jejak di setiap kepergiannya. Sore itu menjadi momen menyusuri kawasan Pantai Losari.

Menyaksikan Senja di Pantai Losari (Dok. Pribadi)

Kawasan anjungan Pantai Losari merupakan icon kota Makassar yang menjadi ruang publik. Hampir setiap harinya kawasan ini tak pernah sepi, dari pagi hingga malam hari. Terlebih lagi jika ada event-event besar yang akan di selenggarakan. Silih berganti orang-orang datang dan pergi. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa memadati kawasan ini. Jika anda sebagai wisatawan tak lengkap rasanya jika tak mengabadikan momen di Anjungan Pantai Losari. Terlebih lagi kala senja menghampiri menjadi momen yang sangat dinantikan.

Sore itu suasana cukup ramai. Ada yang duduk bercengkrama bersama kerabat serta keluarga, ada pula yang berjalan mencari spot sambil memegang kamera digital lalu mengabadikan setiap momen, ada kalanya terdengar suara riuh sekumpulan orang-orang. Mata saya tak henti untuk meraih setiap sudut tempat hingga kemudian saya tergerak menepi ke pinggiran lalu berdiri sejenak menyaksikan senja.

Setelah menyaksikan senja, saya lalu duduk beristirahat sejenak. Tak lama kemudian datang seorang Ibu pedagang asongan beserta “keranjang” dagangan miliknya. Ia menyodorkan kepada saya, lalu pergi.

Entahlah ia kemana?

Saya agak risih, “masa dagangannya ia simpan lalu pergi begitu saja”. Saya lalu berdiri memperhatikan disekitar saya. “Kemana Ibu itu pergi?” Ternyata dari jauh ia memperhatikan. Saya lalu memanggilnya “Ibu saya mau beli minumannya”. “ambil saja” Sahutnya. Tak lama kemudian ia datang.

Baca Juga :   Identitas Mahasiswa

“Ibu berapa lama menjual disini?” Tanyaku.

“8 Tahun, Nak”. Duh.. lama juga yah Bu.

“Bukannya dilarang menjual disini?” Tanyaku.

“Sebenarnya dilarang sih… Tapi namanya kita cari hidup mau bagaimana lagi, biar jauh kalau cari hidup mau diapa”.

Ibu Pedagang di Pantai Losari (Dok. Pribadi)

Di waktu-waktu yang telah lalu dikawasan ini kerap kali terjadi hal yang sangat tidak mengenakkan. Penjambretan, pencopetan, hingga kehilangan helm sudah menjadi pemandangan yang lumrah. Beberapa tahun terakhir telah mendapatkan pengawasan dari Petugas SATPOL PP setempat. Biasanya mereka berjaga dari pagi hingga malam hari. Hal ini merupakan salah satu kebijakkan yang diambil oleh pemerintah untuk menertibkan dan memberikan kenyamanan bagi masyarakat.

Pertemuan dengan pedagang asongan itu memberikan saya sedikit gambaran dari kebijakan yang kini telah dilaksanakan. Kebijakan yang diambil tersebut tak hanya memberikan angin segar buat sebagian masyarakat. Setidaknya tingkat kejahatan di kawasan ruang publik ini sedikit demi sedikit mulai berkurang, walau tak sepenuhnya hilang serta merta.


Kesaksian pedagang itu memberikan saya gambaran yang berbeda. Bagi para pemaku kebijakkan mereka berfikir keputusannya sudah tepat. Tapi apakah keputusan telah menyentuh seluruh lapisan masyarakat, itu urusan nanti. Jauh di balik setiap keputusan yang diambil, selalu saja ada mereka yang terpinggirkan, selalu saja ada suara getir kehidupan.

Di pagi hari pedagang asongan itu telah bersiap-siap. Setelah mempersiapkan kebutuhan anaknya untuk berangkat ke sekolah. Ia  lalu pergi berbelanja barang-barang yang akan ia dagangkan. Jam 9 Pagi biasanya ia berangkat ke Anjungan Pantai Losari untuk berdagang hingga jam 11 malam.

“Ibu… disini kan ada SATPOL PP yang berjaga.  Apa tidak tegur?” Tanyaku.

Baca Juga :   HUTRI72 - Garam dan Kemerdekaan

“Kalau kedapatan pasti ditegur, saya lalu pergi. Tapi kalau sudah tidak ada petugas, saya dagang lagi”.

“Berapa penghasilan yang di dapat, Bu?” Tanyaku.

“Mungkin hanya cukup untuk sehari-hari. Biasa juga saya sisihkan untuk uang saku anak kalau ke sekolah. Tapi, biar sedikit yang penting berkah. Dari pada banyak, tapi kalau caranya tidak benar. Bagaimana mungkin mau berkah?”

Mendengar ia berucap seperti itu saya lalu tertunduk dan diam. “Ini kah kehidupan?”. Di tengah-tengah kota semegah ini, ada potret kehidupan yang hampir tak ku rekam. Barangkali hal ini tak menarik seperti yang dibayangkan oleh orang banyak. Ketika kehidupan perkotaan menawarkan pertumbuhan industri sebagai geliat ekonomi yang menggiurkan cara pandang terhadap kehidupan pun berubah sehingga menghalalkan segala cara menjadi hal lumrah.

Suatu ketika pernah ada seseorang membeli dagangannya. Kebetulan saja orang itu bekerja di sekitaran Anjungan Pantai Losari. Seminggu berselang, dagangannya tak kunjung di bayarkan. Ia mendengar orang itu mengalami kecelakaan. Ia lalu berujar “setiap perbuatan akan mendapat balasan setimpal. Tuhan itu Adil”. Ia percaya bala bencana mungkin saja datang jika perbuatan itu tak berberkah.  Dari pedagang itu saya kembali merengkuh nasihat-nasihat kehidupan. Saya belajar banyak tentang bagaimana berbuat.

“Ibu kenapa tidak mengambil stan penjualan yang di sediakan?” Tanyaku.

“Bagaimana mau ambil? Itu di bayar 1 juta setengah selama 3 malam. Satu malam 500 ribu”. Ujarnya.

Sebagai pedagang kecil mereka mendapat untuk makan saja sudah cukup. Barangkali berdagang sudah menjadi “pilihan mereka” untuk terus bertahan hidup dan disanalah harkat kemanusiaan di timbang-timbang. Sedang menerima setiap keputusan dari para pemangku kebijakan diluar daya mereka.

Entahlah… Apakah menengok ke bawah bagi para pejabat diatas sana adalah sesuatu yang sulit ketimbang mengetuk-ngetuk palu di ruang sidang.

Baca Juga :   Pengajaran Yang Benar Pembentukan Karakter Siswa Secara Holistik

Dialog Merawat Kemerdekaan

Hari itu menyusuri senja di Pantai losari dan bertemu dengan pedagang asongan barangkali adalah suatu hal yang sederhana. Namun dengan itu membantu saya untuk terus belajar merawat kemerdekaan. Karena kemerdekaan bukan nasi yang di makan kemudian jadi kotoran manusia. Meminjam istilah Penyair Wijhi.

Kemerdekaan bukan hanya berarti sekedar terbebas dari penjajahan. Usia 72 tahun adalah usia sudah cukup dewasa bagi Republik ini. Cita-cita mulia para founding father tentu saja adalah hal yang mulia. Namun tugas untuk merawat cita-cita itu merupakan tanggung jawab generasi mendatang. Seperti konsep cita-cita perekonomian yang rumuskan oleh Bung Hatta tentu saja adalah konsep yang sangat ideal.

Sebagai warga biasa tentu saya terus berharap negara bisa hadir di tengah-tengah masyarakat. Menghadirkan kebijakan lalu menyentuh seluruh lapisan masyarakat adalah bagian dari menjelmakan  tanggung jawab dan amanat negara dalam setiap relung hati manusia Indonesia.

Berdialog dengan pedagang asongan itu adalah hal yang tak pernah terlintas di benak. Tapi Entah apa yang membawa saya. Barangkali semua itu adalah secercah cahaya Tuhan.

ilustrasi (teen.co.id)

 

Pertemuan itu adalah hal yang sederahana. Namun saya percaya hal sederhana itu selalu punya kekuatan untuk mendobrak kesadaran tiap-tiap kita. Bagi saya itu adalah “spirit” yang punya kekuatan untuk terus merawat kemerdekaan dan terus hidup didalam jiwa manusia indonesia. Suara pedagang itu lebih keras ketimbang suara palu di ruang sidang para pejabat. Bahkan suara mereka yang ada di dalam kubur jauh lebih keras ketimbang mereka yang di bumi (Bapak Republik Indonesia). Temukan spiritmu dan rawatlah seperti mereka merebut kemerdekaan ini.

Selamat Merawat Kemerdekaan.

Indonesia Merdeka 72th.

 

Makassar, 17 Agustus 2017

HUTRI72

 

Biodata Penulis

Nama : Firno Ardino

Blog: www.delapan-penjuru.com


Written by Firnoardino

Nama: Firno ardino
Pekerjaan: Pelajar/Mahasiswa