Senin, April 12, 2021

Hubungan antara Agama dan Gerakan Feminis

Menyoal Kebijakan Larangan Bercadar di Perguruan Tinggi

Publik tanah air sontak menjadi heboh usai Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN Suka) pada Senin, 5 Maret yang lalu mengeluarkan surat keputusan...

Guru, Pemilu, dan Demokrasi

Kesuksesan pemilihan umum yang diselenggarakan secara nasional dan lokal di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran para guru. Dalam struktur organisasi kepemiluan, guru banyak...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Jacinda Ardern: Tokoh Kosmopolitan dan Figur Pemimpin Milenial

Setelah tragedi Christchurch yang menjadi hari terkelam di Selandia Baru, Jacinda Ardern tampil menjadi sosok pemimpin yang fenomenal di dunia. Tentang dirinya, seorang politisi...
Rohmatul Izad
Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.

Kemunculan  gerakan feminis telah menjadi babak baru dalam sejarah umat manusia tentang arti penting kesetaraan dan menghapus segala macam penindasan yang menghubungkan  relasi antara laki-laki dan perempuan. Banyak tokoh feminis beranggapan bahwa agama memiliki peranan yang amat penting dalam melegitimasi kekuasaan laki-laki di hadapan perempuan.

Memang, hukum agama memiliki sifat komplementer, yakni saling melengkapi, tetapi tak jarang juga sifat komplementer itu tidak didukung oleh rasa keberpihakan yang tinggi pada nilai-nilai kesetaraan. Sehingga adanya otoritas laki-laki yang menjadi penafsir tunggal memahami doktrin agama justru banyak melahirkan penafsiran normatif yang merugikan perempuan di satu pihak dan di pihak lain melegitimasi kekuasaan laki-laki di atas perempuan.

Ada anggapan kuat bahwa institusi agama memiliki peranan yang penting dalam melahirkan budaya patriarki. Juga, lahirnya berbagai macam gerakan feminis di berbagai belahan dunia merupakan bentuk perlawanan terhadap legitimasi doktrin agama tersebut.

Dalam banyak bentuknya, gerakan feminis melakukan kritik yang tajam terhadap pemahaman agama yang disinyalir mendukung eksistensi budaya patriarki. Mula-mula, gerakan ini memang hanya terbatas sebagai gerakan sosial yang didukung oleh berbagai macam teori sosiologi, tetapi dalam perkembangannya, gerakan feminis mulai merambah ke wilayah teologis.

Secara tipologis, gerakan ini memiliki banyak macam, seperti feminisme radikal, sosialis dan liberal, tujuannya hanya satu yakni memperjuangkan hak-hak perempuan sehingga dapat menyesuaikan dan mencapai kesetaraan di hadapan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan. Berbagai macam tipikal yang berbeda ini, sesungguhnya memiliki kesamaan. Hanya, gerakan feminis yang berangkat dari kritik terhadap agama, memulai gerakannya melalui koreksi pada wilayah teologis yang dijadikan sebagai wahana untuk mencapai tujuannya.

Sebagai gerakan sosial, feminisme ingin memperjuangkan kesetaraan gender melalui perombakan sistem patriarkal dan melakukan rekonstruksi terhadap sistem egaliter dalam struktur masyarakat. Sementara dari segi gerakan keagamaan, feminisme berusaha melakukan reinterpretasi terhadap teks-teks suci yang dianggap mengandung semangat patriarki.

Dalam konteks sejarah, lahirnya gerakan feminis di Amerika Latin tahun 1966 juga terilhami oleh adanya gerakan keagamaan yang mengusung konsep teologi pembebasan. Terbukti bahwa argumentasi teologi pembebasan ini, dengan sedikit dibumbuhi argumentasi Marxis, berhasil melakukan perubahan yang mendasar dalam doktrin Gereja yang kala itu sangat bercirikan strukturalis.

Memang pada awalnya doktrin Gereja sangat bersifat elitis. Kehadiran gerakan feminis ini menjadikan ajaran Gereja menjadi makin praktis dan sangat berpihak pada kaum lemah. Akibatnya, berbagai macam teks keagamaan yang cenderung berpihak pada budaya patriarki mulai ditafsir ulang untuk mencapai tujuan yang substansial dari makna teks yang egaliter.

Gerakan feminis berbasis teologis ini tampak berhasil dalam mereformasi pemahaman keagamaan yang sangat bias kelelakian. Tujuannya jelas, untuk menghapus budaya patriarki yang sudah sangat akut dan mencari landasan teologis atas kesetaraan gender. Jadi tidak benar jika feminisme hanya semata-mata gerakan sosial semata, justru kajian yang merambah ke wilayah ketuhanan memberikan kekuatan baru dalam menciptakan struktur masyarakat yang lebih egaliter.

Dalam perkembangannya, gerakan feminis bercorak teologis ini mempengaruhi berbagai agama seperti Yahudi dan Islam. Menurut para feminis, pemahaman terhadap teks-teks keagamaan seringkali menggunakan ideologi patriarki dan melegitimasi berlangsungnya budaya itu, sehingga superioritas laki-laki di hadapan perempuan dianggap sebagai kodrat Tuhan.

Misalnya, wacana utama  tentang ketidakadilan gender yang terus menjadi polemik adalah terkait dengan asal-usul manusia dan problem kepemimpinan perempuan. Dalam ajaran tiga agama langit, yakni Yahudi, Kristen dan Islam, ada ajaran historis yang mengisahkan tentang penciptaan Adam dan Hawa, di mana Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, kisah ini melegitimasi bahwa adanya perempuan sangat ditentukan oleh laki-laki. Sehingga posisi perempuan selalu dianggap lebih rendah dan merupakan pelayan bagi laki-laki.

Konsep kepemimpinan perempuan juga masih sangat menimbulkan polemis. Ada semacam anggapan umum bahwa perempuan tak layak menjadi pemimpin, di samping lemah, kepemimpinan mereka juga tak didukung langsung oleh teks-teks suci. Berbeda dengan laki-laki, sedari awal ada nash al-Qur’an yang menunjukkan bahwa laki-laki merupakan pemimpin bagi perempuan. Nabi juga pernah bersabda bahwa tak boleh mengangkat perempuan menjadi pemimpin.

Persis pada wilayah inilah, para feminis menggugat konstruksi nalar keagamaan yang mengarah pada budaya patriarki, sebagaimana kedua contoh di atas. Mereka tak mempermasalahkan teks suci, yang mereka lakukan adalah merekonstruksi ulang pemahaman teks suci agar sesuai dengan perkembangan zaman dan memiliki nilai kontekstualisasi. Sebab, jika kita ingin merubah tatanan sosial berbasis agama, kita tak perlu merubah narasi teks dalam kitab suci, tetapi cukup rubah pola interpretasi itu dan sesuaikan dengan kondisi kekinian.

Paling tidak, itulah agenda utama gerakan ini. Dekonstruksi terhadap pandangan teologis menjadi amat penting sebab inilah awal-mula dan akar terjadinya diskriminasi gender. Ideologi patriarki tampaknya memang telah sejak lama mendominasi tafsir agama. Tetapi bukan sesuatu yang mustahil bila dominasi laki-laki sebagai penafsir teks akan digugurkan oleh proses reinterpretasi teks keagamaan oleh para feminis.

Dalam Islam misalnya, sumber pegangan hidup yang paling utama adalah al-Qur’an dan sunnah, maka reinterpretasi harus dimulai dari kedua sumber ini. para feminis tak harus mengambil alih interpretasi yang telah lama didominasi laki-laki, mereka cukup berjuang dalam melakukan pembaharuan dan memikirkan kembali hal-hal yang sudah selayaknya dirubah sesuai dengan keadaan dan tuntutan zaman.

Tampaknya, gerakan feminis cukup berhasil, eksistensi mereka saat ini tak bisa dipandang sebelah mata. Di samping telah berhasil melakukan reinterpretasi ulang terhadap teks, perempuan-perempuan masa kini telah banyak mengambil peran strategis di ranah sosial, seperti di ranah politik pemerintahan. Sekarang, tidak mustahil perempuan menjadi pemimpin, mereka telah membuktikan bahwa perempuan bukanlah makhluk yang lemah. Mereka dapat menjadi apa saja sesuai peran dan fungsi sosial yang mereka inginkan.

Rohmatul Izad
Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.