Jumat, Februari 26, 2021

HTI Menang Banyak

Bukan Sekedar Money Politic, Tapi Patronase

Kurang dari dua bulan untuk menginjak hari-H, hingar bingar yang mengiringi Pemilu serentak terus mengisi ruang-ruang media. Media sosial utamanya, memberikan peranan penting dalam...

Problematika Independensi Hakim Mahkamah Konstitusi

  Presiden Joko widodo(Jokowi) memberikan penghargaan Bintang Mahaputera kepada 5 hakim Mahkamah Konstitusi.pemberian penghargaan tersebut diberikan di Istana Negara pada,Rabu (11/11/2020) Penghargaan yang diberikan oleh Presiden...

Jauhi Bunuh Diri, Semua Ada Solusinya

Ajal bisa datang kapan saja dan dimana saja. Tidak bisa ditunda dan tidak dapat ditolak. Manusia hanya dapat berdoa dan mempersiapkan diri dengan baik....

Dinamika UU Terorisme di Tahun Politik

Beberapa waktu lalu, wacana atasi hoax dengan UU Terorisme bukan hanya menyulut perdebatan di tengah masyarakat, tapi juga menuntut logika tersirat. Menyulut perdebatan karena...
Dicky Wibowo
Mlaku Wae Project / www.mlakuwae.blogspot.co.id

Di pekan sebelumnya, jagad maya ramai memperbincangkan aksi pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid oleh Banser saat upacara hari santri di Garut, Jawa Barat.

Dari sebuah aksi pembakaran bendera tersebut kemudian ramai netizen dan citizen yang mengecam, memposting dan mengibarkan bendera yang bertuliskan kalimat tauhid di akun media sosialnya, bahkan sejumlah netizen membuat petisi untuk membubarkan Banser karena dinilai sudah menghina kalimat tauhid serta telah menistakan agama Islam.

Banyak pro dan kontra terkait aksi penyitaan yang kemudian diikuti pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid tersebut. Berdasar pantauan singkat penulis di media sosial, banyak yang kontra dengan tindakan Banser tersebut dan menganggap tindakan oknum Banser patut dipolisikan.

Memang, bagi umat muslim, kalimat tauhid harus “diletakkan” di tempat tertinggi setiap individu. Isi atau makna dari kalimat tauhid-lah yang wajib dipegang teguh oleh seluruh umat muslim. Sedangkan simbol dari kalimat tauhid, misalnya sebentuk tulisan di bendera atau benda apa pun merupakan cara untuk mengingatkan kita akan makna dari kalimat tersebut yang harus dijunjung tinggi.

Menjadi lain ceritanya ketika bendera bertuliskan kalimat tauhid digunakan sebagai ajang unjuk eksistensi suatu organisasi, seperti Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI, dimana saat ini organisasi HTI telah dilarang beroperasi di Indonesia.

Dalam peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid ini, pihak HTI sebelumnya telah membantah bahwa bendera berlatar belakang hitam dengan tulisan kalimat tauhid tersebut adalah bendera mereka dikarenakan tidak ada tulisan atau logo HTI, dan bendera yang dibakar Banser merupakan bendera tauhid. Bila kita menengok sejenak, simbol dari agama Islam sebenarnya selalu digunakan oleh HTI dalam setiap aksi-aksinya sampai akhirnya organisasi ini dilarang beroperasi di Indonesia.

Mungkin tujuan mereka adalah untuk menarik simpati umat muslim Indonesia akan perjuangan mereka untuk meniadakan eksistensi negara, sehingga banyak umat muslim yang tidak sadar bahwa apa yang HTI lakukan sebenarnya hanyalah nafsu kekuasaan belaka.

Bahkan seringkali organisasi ini membenturkan antara ajaran Islam dengan ideologi terbuka bangsa Indonesia, Pancasila. Padahal, seperti yang pernah diutarakan oleh Nurcholish Madjid dalam jurnal Komunikasi dan Sosial Keagamaan volume XV tahun 2012 oleh M. Tahir, Pancasila adalah final, dimana umat Islam Indonesia dapat menerima Pancasila karena nilai-nilai Pancasila dibenarkan dan sejalan dengan ajaran Islam, serta sebagai titik kesepakatan antara berbagai golongan untuk mewujudkan kehidupan sosial politik bersama.

Menurut hemat penulis, pengibaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di upacara peringatan hari santri bisa jadi merupakan keinginan unjuk eksistensi HTI yang selama ini semakin meredup gaungnya ataupun merupakan strategi licik HTI untuk menciptakan sebuah isu untuk menyerang Banser, dimana isu tersebut akhirnya tercipta juga setelah Banser menyita dari dan membakar bendera tersebut.

Dari peristiwa pembakaran bendera tersebut kemudian banyak asumsi dan juga pernyataan yang beredar terutama di jagad maya bahwa Banser telah menistakan agama Islam dan lain sebagainya yang inti dari pernyataan tersebut adalah menyudutkan Banser.

Dari peristiwa ini, HTI sepertinya menang banyak, dimana eksistensi mereka akhirnya mulai menanjak lagi serta dukungan terhadap mereka mungkin bisa jadi meningkat, serta “rival” mereka, yakni Banser atau GP Ansor mulai dihujat oleh banyak kalangan. Bisa jadi bukan Banser yang dituju, tetapi Nahdhatul Ulama sebagai ormas Islam terbesar sekaligus sebagai “benteng” NKRI, dimana HTI merasa Nahdhatul Ulama merupakan hambatan terbesar untuk memuluskan nafsu berkuasa mereka.

Mungkin ada baiknya pada waktu kejadian, Banser hanya menyita dan menyimpan bendera bertuliskan kalimat tauhid tersebut, tidak sampai membakarnya, karena hal ini bisa menjadi perdebatan seperti yang tengah terjadi beberapa saat lalu.

Namun, membakar bendera tersebut juga bisa jadi merupakan sebuah upaya penyelamatan penggunaan kalimat tauhid tidak pada fungsi dan tempatnya. Dalam hal ini, bendera dengan kalimat tauhid khat modern seperti yang dibakar Banser merupakan bendera yang selama ini menjadi kedok HTI untuk melancarkan aksi-aksinya, serta kalimat tauhid tersebut tidak diletakkan pada tempat dan fungsi yang semestinya.

Kalimat tauhid semestinya melekat di hati yang terdalam setiap muslim dan bukan diumbar untuk dijadikan simbol dalam perburuan kekuasaan. Selain itu, bendera bertuliskan kalimat tauhid dengan khat modern yang dianggap sebagai panji Rasulullah juga sepertinya kurang tepat dalam hal bentuk khat dan fungsinya.

Semua anggota Banser pastilah memahami kalimat tauhid ini, bahkan mereka sudah menempatkan di tempat dan fungsi yang semestinya; percaya di hati, diikrarkan lewat lisan dan diamalkan melalui anggota badan.

Membakar tulisan kalimat tauhid di bendera yang selama ini menjadi ikon HTI bukanlah “membakar” atau menghinakan kalimat tauhid, karena seperti yang sudah diuraikan di paragraf sebelumnya, untuk menghindarkan penyalahgunaan dan mungkin juga memberikan efek jera bagi HTI dan simpatisannya yang masih “ngeyel”. Pe-ngeyel-an HTI di hari santri adalah dilanggarnya aturan panitia peringatan hari santri.

Jika HTI mampu memainkan strategi yang cantik, maka Banser juga harus mampu memainkan strategi yang lebih cantik lagi untuk menangkal aksi HTI beserta pemahamannya di bumi nusantara ini.

Apabila diibaratkan pertandingan bola voli, bola sudah diangkat oleh tosser HTI dan siap di smash oleh smasher HTI. Banser dan kita semua yang waras harus siap menghadang datangnya bola tersebut, jika perlu smash balasan. Indonesia adalah rumah kita bersama, kita hidup damai dengan budaya yang heterogen, jangan sampai strategi HTI membuahkan kerusakan ke-bhinneka-an Indonesia dan jangan biarkan HTI menang banyak lagi.

Dicky Wibowo
Mlaku Wae Project / www.mlakuwae.blogspot.co.id
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.