Senin, Januari 18, 2021

How Democracies Die, Sebuah Telaah Akademis

Kami Santri Nusantara

Santri adalah identitas manusia yang selalu berkerabat dengan ilmu, pengetahuan, dan akhlak. Santi juga merupakan salah satu senjata dari awal beridirinya Indonesia. Sudah begitu banyak...

Keamanan Sistem Bank Mandiri

Sabtu 20 Juli 2019 pagi membuat terkejut sebagian orang. Sebagian orang tersebut merupakan nasabah Bank Mandiri. Terkejut karena melihat saldo di rekeningnya ada perubahan,...

Sedekat Unicorn, Selekat Unikop

Populasi masyarakat virtual kian tak terbendung dengan perkembangan digitalisasi segala lini. Fenomena di masyarakat saat ini dikenal dengan istilah populer “internet of all things”, dimana...

Indonesia Bubar 2030, Ekspresi Panik Prabowo?

Ketua Umum Parpol Gerindra, Prabowo Subianto benar-benar panik luar biasa, ketika dia mengetahui sejumlah lembaga survei melaporkan bahwa elektabilitasnya jeblok. Salah satunya hasil survei...
Alrdi Samsa
Magister Politik Pemerintahan UGM. Seorang Penulis Lepas.

Buku How Democracies Die? terbitan 2018 ini, mendadak menjadi perbincangan setelah Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Twitter dan Facebook sembari membaca buku tersebut. Bagi saya, buku ini  telah lama sebenarnya sudah menjadi bahan acuan diskusi serta kajian ketika duduk di Program Magister Politik Pemerintahan UGM.

Lantas mengapa Anies Baswedan mem-posting buku tersebut? Tentunya banyak spekulasi yang hadir. Sebagian masyarakat mengatakan itu adalah bentuk sindiran pada oligarkhi politik saat ini. Ada juga yang mengatakan menyinggung dirinya sendiri. Pertanyaan yang timbul selanjutnya adalah, mengapa buku ini dijadikan alat oleh Anies untuk seakan-akan merepresentasikan secara psikologis keadaan Anies saat ini? Apa subtansi dasar yang dipaparkan dalam buku How Democracies Die. Mari kita telaah dengan mengkuliti satu persatu subtansi buku karangan Steven Livitsky dan Daniel Ziblatt, dua peneliti politik asal Harvard University.

Cara Demokrasi Mati Perlahan

Jika kita mengenal Vedi Hadiz, ilmuwan politik asal Indonesia sebenarnya karya Livitsky & Ziblatt ini, secara subtansi tidak jauh berbeda. Namun lokus dan fokus studi yang diambil –yakni di Amerika, Brasil, dll– memang menjabarkan novelty –kebaruan–. Kedua profesor asal Harvard ini menyatakan, kematian demokrasi diilustrasikan sebagai satu pembajakan demokrasi yang diinisiasi secara legal. Percis dengan apa yang dianalogikan Hadiz dalam karyanya yang terbit tahun 2010 “Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia: A Southeast Asia Persepective” tentang pembajakan demokrasi.

Lonceng kematian demokrasi akan berbunyi, ketika sistem pemilihan umum yang kita lihat berjalan dengan baik, adanya debat terbuka dan juga partisipasi tim sukses serta relawan berhasil memenangkan tokoh politiknya, baik di lembaga eksekutif atau pun legislatif. Kelak, kemenangan tersebutlah yang justru mengantarkan demokrasi pada proses kematiannya.

Potret kematian demokrasi yang digambarkan oleh Livitsky & Ziblatt adalah peristiwa kemenangan Donald Trump dalam pemilu di Amerika Serikat (AS). Trump berhasil unggul, atas kandidat dari Partai Demokrat yakni Hillary Clinton. Trump dalam Pilpres AS 2016, berhasil menjadi seorang provokator ekstrimis yang menggaungkan ketakutan (Hoax) serta menekankan isu rasisme pada warga kulit hitam.

Alhasil, pemaparan Livitsky & Ziblatt menerangkan bahwa; menangnya Trump adalah satu contoh konkret kematian demokrasi. Dimana demokrasi formal yang dihasilkan oleh pemilu telah melahirkan pemimpin yang ‘terkesan’ diktator. Keduanya menerangkan contoh konkret yang dilakukan oleh Trump ketika mengeluarkan pernyataan yang sangat mengundang polemik. Diantaranya cuitannya pada persoalan membangun tembok perbatasan Meksiko-Amerika Serikat; Kebijakan luar negeri dengan China dan Afghanistan yang memicu perang –baik trade war atau pun perang wacana–. Tentunya, publik juga akan mengingat pernyataan yang mengundang kemarahan dari beberapa warga muslim, ketika Trump mengaku bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel.

Porsi yang disuguhkan dalam buku ‘How Democracies Dies’ memang lebih menitik-beratkan pada fenomena kemenangan Trump, namun ulasan berkaitan fenomena di Brasil, Fillipina dan Peru juga dikupas tuntas. Intinya adalah sebuah fenomena pemimpin yang terkesan diktator yang dihasilkan oleh pemilu itu sendiri.

Jadi untuk menjawab bagaimana demokrasi mati, jawabannya bukan lagi pada persoalan catatan sejarah yang diwarnai oleh kudeta militer. Namun justru oleh hal yang paling dekat dengan demokrasi yakni pemilihan umum.

Ketidaksadaran Masyarakat

Kenyataan ini tidak disadari oleh banyak pihak, padahal hal ini tentunya sudah terjadi berulang kali. Buku ini menitikberatkan pada kematian demokrasi yang diberikan jalannya lewat jalur elektoral yang demokratis.

Rata-rata masyarakat tidak sadarkan diri dan masih percaya bahwa dirinya masih sedang hidup di arena demokrasi lepas dan terbuka, padahal ciri-ciri kediktatoran sedang terjadi di depan mereka. Mengutip dari buku Levitsky& Ziblatt;“Ketika rezim jelas-jelas ‘melewati batas’ memasuki kediktatoran, tak ada yang bisa membuat alarm masyarakat berbunyi. Mereka yang mencela tindakan pemerintah barangkali dianggap berlebihan atau justru bohong. Erosi demokrasi itu hampir tak terasa bagi banyak orang.” 

Proses ketidaksadaran masyarakat juga dihadirkan karena lekatnya masyarakat dengan kharisma seorang figur politik. Tidak perduli lagi apa yang ditawarkan atau justru dari background mana, yang terpenting adalah tentang figur politik yang kharismatik. Kedua profesor tersebut menyebutnya sebagai demagog politik. Para demagog politik inilah yang pada permulaan menganut norma dan nilai serta akar demokrasi, namun setelah memegang kekuasaan dirinya mencampakkannya.

Pada kesimpulannya, buku ini ingin mengatakan bahwa lonceng ancaman kematian demokrasi telah berbunyi. Oleh karenanya untuk menjaga demokrasi tetap hidup, diperlukan adanya satu identifikasi khusus tentang pola kediktatoran yang harus diketahui dan disadari oleh masyarakat. Tidak sekedar mengingat, namun juga masyarakat harus menjadi alarm pengingat bagi yang berkuasa.

Alrdi Samsa
Magister Politik Pemerintahan UGM. Seorang Penulis Lepas.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.