OUR NETWORK

Hoax, Jurnalisme Stadium 4

Terdapat 800.000 situs penyebar hoax

Dewasa ini, merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dibantahkan jika berita hoax di negeri kita tambah hari malah semakin banyak. Jalur berita yang dilalui pun semakin beragam, mulai dari media sosial seperti Instagram, Twitter, Whatshapp, hingga berita online maupun cetak yang mana sekarang menjadi keresahan kita semua.

Di dunia maya, menurut Kementerian komunikasi dan Informatika Republik Indonesia setidaknya terdapat 800.000 situs penyebar hoax, melalui angka ini dapat menjadi sebuah argumentasi bahwa berita tersebut telah meraja-lela. Angka yang baru ditunjukan oleh Kemenkominfo baru di ranah situs online, belum lagi yang lebih luas jangkauannya seperti media sosial bahkan dunia nyata.

Berita hoax yang tersebar melalui jejaring yang cukup semrawut ini setidaknya dapat digolongkan menjadi tiga  kategori. Petama mis-informasi, yakni ketika suatu informasi yang keliru disebarkan tanpa tujuan apa-apa.

Salah satu cara yang biasanya berujung pada mis-informasi ini adalah dengan upaya membagikan sebuah informasi kepada orang lain. Jadi jenis hoax satu ini hanyalah kesalahpahaman yang kemudian dibagikan oleh penerima informasi tersebut. Fenomena ini umum dijumpai melalui persebaran yang ada di media sosial (Whatsapp, Line, Twitter, dll), namun tidak menutup kemungkinan  jika fenomena ini disebarkan secara langsung.

Kedua dis-informasi, yakni ketika suatu informasi yang keliru dibuat dan disebarluaskan dengan tujuan membuat informasi yang asli menjadi tidak valid atau tidak berguna. Hampir sama dengan yang sebelumnya, namun satu hal yang menjadi pembeda adalah dis-informasi merupakan informasi yang sifatnya fabrikasi, sehingga bukan hanya sebagai pembagi informasi miring saja melaikan  juga sebagai pembuat.

Biasanya jenis informasi ini banyak dijumpai pada jenis informasi yang sifatnya memberikan tips-tips kesehatan, kecantikan, teknologi dan lain-lain yang mana belum terbukti secara ilmiah tetapi sudah terekspos ke publik. Dan informasi ini banyak ditemui di portal berita online seperti tribunnews.com, ucnews.id, dan lain-lain

Dan ketiga mal-informasi, yakni merupakan suatu informasi yang sengaja diperuntukan untuk menjerumuskan kepada yang sifatnya membahayakan pihak lain. Konten yang biasanya disebarluaskan dapat berupa ujaran kebencian, pelecehan, maupun membocorkan rahasia.

Garis besar jenis informasi ini adalah cenderung membawa masalah privat ke publik, sehingga apa yang sebenarnya tidak perlu diketahui khalayak luas malah tersebarluaskan. Jenis informasi ini banyak digunakan oleh para jurnalis selebritis, bahkan politisi yang memanfaatkan guna menjatuhkan lawan politiknya.

Fenomena hoax hari ini menunjukan bahwa banyak dari masyarakat kita yang terjerumus dalam lingkaran ‘setan’ hoax, lalu menerima nya sebagai suatu kebenaran. Praktek pada momen naiknya suhu politik hari ini, kita mungkin tidak lagi asing dengan istilah ‘cebong’ dan ‘kampret’. Banyak dari mereka menyebarkan informasi-informasi yang termasuk dalam kategori hoax, baik Mal-informasi, Dis-informasi, maupun Mis-informasi yang mana cenderung digunakan untuk saling menjatukan lawan politiknya dan lebih mengunggulkan pihak yang didukungnya.

Hal lain, algoritma dalam media sosial menjadi faktor yang menambah keruh suasana dan menciptakan sebuah lingkaran siklus yang mana menyebabkan yang ‘cebong’ akan tetap, bahkan semakin, menjadi cebong, begitupun ‘kampret’.

Dari data statistik katadata.co.id pada bulan januari 2017 menyatakan bahwa pengguna internet di Indonesia berjumlah 132,7 juta jiwa dari populasi berjumlah 262 juta jiwa, angka ini pasti lebih meningkat pada hari ini. Artinya lebih dari 50,6% penduduk negeri ini dalam keadaan rentan terkena bahaya hoax melalui internet.

Belum lagi yang melalui sms maupun telepon yang secara data statistik menunjukan bahwa setidaknya terdapat 371,4 juta jiwa (melebihi populasi) pengguna ponsel. Jauh dari itu semua bahwa hoax bukan lagi menjadi masalah pribadi dalam menerima informasi, tetapi terdapat masalah yang jauh lebih besar yakni eksternalitas yang dapat memecah belah bangsa kita. Hal ini bisa terjadi ketika wabah hoax ini telah menjangkiti bangsa dan merajalela yang mana menyebabkan banyak kontradiktif kebenaran, lalu membuat satu sama lain akan saling beradu. Tidak jauh beda dari ‘cebong’ dan ‘kampret’, akhirnya babak baru devide et impera dimulai dengan hoax itu sendiri.

Pemerintah juga tidak memiliki upaya untuk memberantas hoax ini. Bagaimana mungkin, sebab pemerintah sendiri sibuk menyanggah hoax yang menyerang nya demi menyelamatkan status quo, bahkan kemungkinan besar cenderung untuk menciptakan hoax baru lainnya demi kepentingan politiknya.

Meski demikian, ada beberapa media berita yang cukup kooperatif menjadi debunking yang berusaha memberantas hoax di Indonesia, hoaxornot.detik.com menjadi salah satu bagiannya. Namun upaya nya dalam memberantas hal tersebut kurang cukup baik, ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal.

Pertama, tidak cukup banyak media kooperatif di Indonesia yang menjadi debunking, bahkan saya hanya baru menemukan detik.com itu sendiri. Kedua, sebagai debunking, detik.com tidak terlalu intensif  tiap hari menyanggah informasi miring yang beredar, yang mana sangat tidak setara dengan banyaknya berita miring yang beredar. Ketiga, ketika detik.com sedang memerangi hoax, media lain malah memberitakan hoax. Sehingga dapat dikatakan bahwa hari ini tidak ada upaya yang cukup serius mengenai penanganan hoax baik oleh pemerintah, maupun media koperatif.

Mahasiswa departemen Politik Pemerintahan Universitas Diponegoro

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…