Kamis, Februari 25, 2021

Hoaks dan Krisis Simpati

Kyai Ma’ruf Amin Menguntungkan Prabowo?

Kita bayangkan andai Prof. Mahfud MD benar-benar mendampingi Jokowi sebagai cawapres. Siapapun kiranya cawapres yang digandeng Prabowo, rasanya tidak akan begitu signifikan mendongkrak elektabilitas....

Humanisme dalam Kesarjanaan Arab Kontemporer

Beberapa ahli menilai -terutama kalangan Orientalis- bahwa Humanisme adalah produk orisinal peradaban Barat. Dengan kata lain, peradaban Barat, dengan klaim rasionalitas ekslusifnya yang semata-mata...

Media Tontonan, Tren Bersepeda di Kala Pandemi

Di masa transisi pembatasan sosial menuju ‘new normal’, muncul sebuah fenomena dimana banyak pengguna sepeda mulai memenuhi jalanan. Para pesepeda hadir dalam berbagai kesempatan,...

Tuti dan Keroposnya Humanisme Arab Saudi

Tuti Tursilawati, menjadi korban hukuman mati TKI ketiga tahun ini di Arab Saudi. Sebelum Tuti, seorang TKI asal madura Zaini Musrin pun dihukum mati...
Ifadhila Affia
A long-life learner. An amateur yet a persistent writer.

Musibah baru saja terjadi di sektor transportasi udara kita. Indonesia masih berduka atas jatuhnya pesawat Lion Air JT610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang di Perairan Tanjung Karawang pada 29 Oktober lalu.

Kendati kabar yang melukai hati masyarakat ini, ada saja berbagai macam hoaks berkeliaran terkait musibah tersebut. Kabar bohong muncul dengan mudahnya di jagat media sosial di kala kita mengharapkan datangnya kabar baik. Terlebih lagi, masih banyak orang yang langsung main menyebarluaskan berita hoaks tanpa menganalisis serta memverifikasi ulang soal kebenarannya.

Persoalan ini kiranya perlu mendapat perhatian lebih. Indonesia memang tak lagi dikejutkan oleh isu hoaks belakangan ini. Namun, ketika isu hoaks ini juga mulai mencampuri urusan moral bangsa berupa rasa simpati atas musibah, tentu hal ini tak boleh dibiarkan berlanjut.

Hoaks

Hoaks muncul sejak awal terkonfirmasinya pesawat JT610 hilang kontak dengan Bandara Soekarno-Hatta. Salah satu akun besar di Twitter, @AkunTofa dengan 63,1 ribu pengikut sempat menyatakan bahwa pesawat tersebut telah melakukan pendaratan darurat dengan selamat di bandara Halim Perdana Kusuma.

Dengan cepat, kicauan berita tersebut banyak mendapat retweet alias banyak dibagikan oleh pembacanya sebelum dihapus sendiri oleh si pemilik akun. Unggahan tersebut terlanjur tersebar luas ketika ternyata kemudian pesawat tersebut secara resmi dinyatakan jatuh. Bisakah kita bayangkan perasaan keluarga dan kerabat penumpang Lion Air JT610 yang sempat lega dan bahagia mendengar kabar tersebut, namun malah berujung kecewa dan sedih?

Tidak sampai di situ saja, ada juga akun-akun yang sengaja mengunggah foto maupun video kecelakaan pesawat yang pernah terjadi di masa lalu dan kemudian mengklaim unggahan tersebut merupakan dokumentasi dari Lion Air JT610 yang nahas. Seperti beredarnya sebuah foto penumpang tengah memakai masker di dalam pesawat yang diklaim sebagai potret kondisi terakhir penumpang Lion Air JT610 sebelum jatuh.

Ternyata, foto tersebut merupakan foto penumpang pesawat Sriwijaya ketika tengah mengahadapi turbulensi jauh sebelum terjadinya insiden JT610. Selain itu, bermunculan juga akun-akun media sosial yang menggunakan nama dari korban pesawat, seperti @alfianihidayatulsolikhahhh, @alfiani_hidayatul_solikhah, dan @alfianihidayatul_solikhah yang merupakan nama salah satu pramugari Lion Air JT610. Jika diperhatikan, memang unggahan-unggahan seperti itulah yang kerap mendapat banyak perhatian netizen. Hal ini bisa dilihat dari jumlah tombol suka dan berbagi yang bahkan bisa mencapai angka puluhan ribu. Sungguh memprihatinkan.

Motif

Dari sisi sang pembuat hoaks di dunia maya, motif umum para pengunggahnya adalah mencari sensasi demi mendapat sorotan publik. Semakin menarik sesuatu yang diunggah, maka semakin besar kemungkinan jumlah like dan share yang didapatkan tinggi. Sedangkan dari sisi sang penyebar hoaks, bisa dibilang motifnya pun hampir sama meski sedikit berbeda konteks. Mereka senang berlomba-lomba dalam menyebarkan informasi walau informasi yang disebarkan belum tentu benar.

Memang, berdasarkan riset dari World’s Most Literate Nation yang dirilis pada pertengahan 2016, tingkat literasi Indonesia masihlah sangat rendah. Faktor rendahnya tingkat literasi Indonesia inilah yang mungkin menyebabkan masyarakat pengguna internet di Indonesia suka membagikan atau menyebarluaskan berita tanpa mengecek kebenaran dan kepastiannya terlebih dahulu. Pengguna internet di Indonesia cenderung suka membesar-besarkan informasi terkait hal yang viral, meskipun hal tersebut belumlah resmi dari pihak yang berwenang.

Bersimpati

Yang sangat disesalkan ialah, bahkan persitiwa duka seperti ini pun masih sempat dimanfaatkan oleh oknum-oknum pencari sensasi di dunia maya. Bukannya ikut merasa sedih dan bersimpati atas jatuhnya JT610, kejadian ini malah dimanfaatkan untuk menciptakan keviralan. Di tengah-tengah jagat media sosial yang kini semakin modern, tak bisa dipungkiri rasa simpati semakin terkikis oleh keinginan untuk menjadi populer.

Padahal, keberadaan rasa simpati itulah yang membuat kita menjadi manusia. Memiliki rasa simpati berarti menghormati serta memuliakan manusia yang lain. Jangan sampai kita dilanda krisis simpati, karena itu berarti sisi kemanusiaan kita semakin berkurang.

Sebagai saudara satu tanah air, sudah sepatutnya kita bersimpati atas musibah yang menimpa sesama. Terhadap musibah Lion Air JT610 yang baru saja terjadi, rasa simpati dapat kita salurkan melalui sikap kita dalam menggunakan media sosial secara baik dan bijak.

Lebih baik menggunakan akun media sosial untuk menuliskan rasa belasungkawa serta doa untuk para korban daripada ikut-ikutan membagikan informasi yang salah. Masyarakat Indonesia, khususnya pengguna media sosial perlu lebih cerdas dalam menerima dan memercayai berita. Jikalau memang berita tersebut belum terverifikasi oleh pihak yang berwenang, tak usahlah dipercaya terlebih dahulu. Berhati-hati dan menggunakan media sosial secara bijak adalah poin penting dalam memecahkan masalah hoaks di Indonesia.

Ifadhila Affia
A long-life learner. An amateur yet a persistent writer.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Polemik Pernikahan Dini Masa Pandemi

Menyebarnya virus covid 19 di Indonesia sangat cepat dan menyeluruh ke berbagai wilayah dari kota besar sampai daerah pelosok desa. Virus ini terjadi mulai...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

Revitalisasi Bahasa Daerah Melalui Tradisi Santri

Bahasa daerah merupakan bahasa awal yang digunakan manusia dalam berkomunikasi. Melihat bahasa daerah di Indonesia sangat banyak ragamnya dan merupakan kekayaan budaya Indonesia, seiring...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.