Sabtu, Maret 6, 2021

Hitler Dibenci dan Jalan Tol yang Disukai

Mengenalkan Spiritualitas Jawa

Melalui karya berjudul Sunyata The Poetics of Emptiness, Paviliun Indonesia hadir dalam seminar berjudul The Tale of The Void, yang dilaksanakan Minggu (8/7), di...

Benarkah Bertanya Membuat Kita Sesat?

Menghadirkan 20 mahasiswa di satu ruang diskusi yang didominasi kesan putih dari tertuangnya pembacaan presentasi di dinding. Tiga diantaranya sedang duduk berhadapan dengan ke-17...

Lakardowo Potret Birahi Kawasan Industri

PT Putra Restu Ibu Abadi (PT PRIA) adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengangkutan, pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan limbah B3 yang beroperasi di...

Malaysia punya Proton, Indonesia Punya Apa?

Sekelompok anak muda skeptis mencibir Indonesia yang belum mampu membuat produk motor dan mobil sendiri. Kelompok anak muda skeptis ini mencibir Indonesia punya apa, sambil...

Adolf Hitler, lahir 20 April 1889 di Desa Baranau di wilayah Austria yang dekat sekali dengan perbatasan Jerman. Ia adalah Pemimpin Nazi Jerman rentang waktu 1933 hingga kematiannya 30 April 1945.

Pada masa kepemimpinannya, Hitler lebih dikenal akan kekejamannya pada bangsa Yahudi dengan Holocaust dan kebijakan berperang yang menimbulkan Perang Dunia II, sebagai perang dengan kerugian terbesar yang pernah dialami umat manusia.

Kediktatoran Hilter memang tidak diragukan lagi. Pada film berlatar kisah nyata, Der Untergang yang disutradarai oleh Oliver Hirschbiegel, memperlihatkan Hitler sangat mendikte para Jendral Besarnya dalam merancang strategi berperang.

Hitler yang pada dasarnya merupakan Veteran Kekaisaran Jerman pada Perang Dunia I dengan pangkat Gefreiter atau setara Kopral, dengan sangat berani pada masa kepemimpinanya mengatur dan tidak percaya kepada para Jendral Besarnya.

Dalam film tersebut juga mengutip kalimat merendahkan para Jendral Besarnya dengan berkata “Kalian hanya mengaku Jendral di Akademi, saya tidak pernah masuk Akademi, tapi saya menaklukan Eropa dengan kedua tangan saya”.

Hitler memiliki antusias pada melukis, bahkan ia pernah menjadi pelukis jalanan. Benar, Hitler tidak pernah masuk Akademi atau Sekolah Tinggi. Selama hidupnya ia ditolak dua kali oleh Akademi Seni Rupa di Wina, Austria.

Disamping latar belakang ia yang kejam, diktator, seorang tentara berpangkat rendah, dan seorang pelukis amatir, Adolf Hitler merupakan seorang pemimpin yang hebat. Salah satu karyanya yang sangat dikagumi bahkan hingga saat ini banyak pihak yang menggunakannya adalah pembangunan Jalan Tol sebagai akses interaksi antar daerah. Hitler yang saat itu menyatukan daerah berbahasa Jerman dengan mencaploknya, juga menyediakan akses transportasi jalan penghubung antar daerah tersebut dengan Jerman sendiri.

Jalan tersebut dikenal dengan nama Autobahn. Ide membangun jalan khusus kendaraan di Jerman merupakan sebuah bentuk keluhan karena pada masa itu jalanan banyak dijumpai kereta kuda dan sepeda yang menyulitkan mobil dan kendaraan bermotor lainnya.

Proyek Pembangunan ini mulai direalisasikan pada masa Republik Weimar pada tahun 1920an, namun pengerjaan sangat lambat. Proyek Pembangunan tersebut akhirnya diambil alih dan dipercepat pengerjaannya saat Hitler naik ke puncak kekuasaan pada 1933. Ia pun berjanji akan membangung 1.000 km jalan setiap tahunnya.

Proyek Pembangunan Autobahn juga selaras dengan janji Hitler untuk menyediakan lapangan pekerjaan. Proyek ini membuka lowongan hingga 130.000 pekerja yang kondisional bertambah hingga 270.000 pekerja. Meskipun pada masa perang para pekerja ini dijadikan Tentara, Proyek Pembangunan terus berlanjut dengan para pekerjanya merupakan tawanan perang.

Autobahn hingga hari ini masih digunakan, dilansir Wikipedia.org, jaringan jalan tol Jerman ini memiliki panjang sekitar 12.800 km (tahun 2010), yang menempati peringkat jalan tol keempat di dunia setelah Interstate Highway System di Amerika Seriakt, National Trunk Highway System (NTHS) di Republik Rakyat Tiongkok dan National Highway di India.

Disamping sisi buruknya, Hitler memiliki kualitas positif tersendiri sebagai seorang pemimpin negara. Proyek Pembangunan Jalan Tol karya Hitler merupakan sebuah pioner di dunia transportasi untuk membangun jalur bebas hambatan.

Karya itulah yang digunakan oleh banyak negara di dunia pada saat ini termasuk Indonesia. Autobahn adalah nenek moyang dari Tol Cipali, Tol Jagorawi, dan Tol lainnya.

Sumber:

Krisna Wicaksono. Kisah Hitler dan Jalan Tol Tercepat di Dunia. Otomotif-Viva.co.id

Wikipedia. Adolf Hitler. wiki/id.wikipedia.org, 2020.

Wikipedia. Autobahn. wiki/en.wikipedia.org, 2020.

Wikipedia. Autobahn di Jerman. wiki/id.wikipedia.org, 2019.

P.K. Ojong. Perang Eropa-Jilid I.

Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Oktober 2009.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.