Minggu, Januari 24, 2021

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

Peppu Pembubaran Ormas: Sebuah “Kemunduran Berkonstitusi”?

Disahkannya Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) oleh Presiden Joko Widodo beberapa hari...

Meneguhkan Teologi Beragama dalam Tahun Politik

Kini kita tengah berada dalam situasi yang sarat emosionalitas beragama dalam bingkai kehidupan berbangsa. hari ini kita disuguhkan suhu politik yang kian memanas jelang...

Kertas Mengikis Komunikasi Lisan

Mungkin kita sekarang ini harus berterima kasih banyak pada Ts’ai Lun lewat penemuannya. Kertas membuat ilmu pengetahuan menjadi mudah ditransfer pada akhirnya. Sebelumnya kita...

Reformulasi Nalar Paradigmatik dan Transformasi Gerakan PMII

Mengingat eksistensi mahasiswa pada saat itu yang dikenal sebagai sosok yang sangat membahayakan bagi keberadaan para penjajah di Nusantara, karena kaum inilah yang memiliki...
Reyhan Putri
Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran, menulis untuk memenuhi nafsu kreatif

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai 2 miliar pengguna di seluruh dunia.

Perkembangan teknologi hingga saat ini telah membantu manusia pada banyak aspek. Kehidupan manusia pun terasa berjalan lebih cepat dengan adanya teknologi serba instan. Sebagai makhluk sosial, kita telah merasakan banyak manfaat teknologi yang membantu kita berkomunikasi dan mengakrabkan diri satu sama lain. Yang jauh terasa dekat dan yang mustahil kini jadi mungkin.

Interaksi manusia menjadi mungkin dilakukan 24 jam dengan timpal balik yang bisa didapatkan saat itu juga. Tak hanya interaksi, kini saya juga bisa tahu apa yang teman saya sedang lakukan hanya dengan melihat unggahannya di media sosial. Dari teman sejawat, orang tak dikenal hingga penyanyi idola pun terasa lebih dekat dengan kita. Sanak saudara yang tinggal jauh di pulau lain juga bisa bertegur sapa tanpa harus pergi mendatangi kita. Media sosial membuat kita berada dalam lingkaran yang sama dan saling berdekatan.

Namun, saya pikir gemerlap media sosial telah mengubah manusia itu sendiri. Lebih dalam dari sekedar untuk berinteraksi, media sosial kini menjadi dunia untuk saling unjuk diri dengan satu sama lain. Saya yang juga masih aktif menggunakan media sosial sudah melihat fenomena ini sendiri. Bagaimana teman-teman saya berusaha mengunggah swafoto paling bagus dan tampak paling bahagia di Instagramnya hingga kabar gembira seperti menang lomba atau sekedar makan enak bersama keluarga.

Filsuf komunikasi, Marshall McLuhan pada teorinya ekologi media memiliki asumsi terhadap fenomena ini. Menurutnya, keberadaan media mempengaruhi kehidupan manusia dan masyarakat. Lebih jauhnya lagi bersama Harold Innis, mereka berdua berpendapat bahwa media menjadi dominan dalam mempengaruhi tatanan perkembangan manusia.

Contoh fenomena di atas baru menggambarkan sisi media sosial yang bahagianya saja. Lantas bagaimana dengan sisi lainnya? Saya jadi teringat ketika kakak tingkat saya di kampus berkeluh kesah tentang bagaimana dia merasa tak nyaman melihat cuitan temannya di twitter. Unggahan yang ia maksud juga dilampirkan dalam bentuk foto agar saya melihatnya sendiri dan benar katanya, saya sendiri merasa tak nyaman melihat cuitan tersebut yang begitu depresif dan frontal.

Di zaman sekarang, saya paham betul media sosial juga digunakan penggunanya bak buku diari. Apalagi di media sosial, penggunanya lebih bebas dan mudah berpendapat. Selain berbagi kabar baik, banyak orang menggunakan media sosial untuk berkeluh kesah dan menunjukkan versi diri yang berbeda dari yang biasa ia tampilkan sehari-hari. Dari berkeluh kesah mengenai masalah pribadi, mengutarakan pendapat yang mungkin sulit diterima masyarakat hingga mengungkapkan perasaan sebenarnya yang sedang dirasakan akan banyak ditemukan dari sosial media seseorang.

Unjuk diri tak melulu bagian yang senang-senangnya saja tapi bisa juga bagian yang sedih-sedihnya. Selain cerita dan kegiatan, media sosial juga menjadi gudang beragam emosi yang dirasakan penggunanya. Joseph Luft dan Harry Ingham menciptakan Johari Window untuk menjelaskan fenomena ini, sebuah konsep yang memudahkan kita untuk lebih mengenal diri.

Konsep tersebut diibaratkan sebuah jendela yang terbagi menjadi 4 bagian yang masing-masing memiliki wilayahnya sendiri yaitu wilayah terbuka, wilayah buta, wilayah tersembunyi dan wilayah tidak dikenal. Jika kita sehari-hari melihat kepribadian keluarga, teman dan rekan kerja yang biasa kita kenal, itu adalah wilayah terbuka mereka. Namun di media sosial, orang cenderung banyak memperlihatkan wilayah tersembunyinya yaitu pribadi yang tidak dikenal orang lain.

Saya sendiri juga merasa terpengaruh fenomena ini. Di Instagram, saya merasa ada keharusan untuk mengunggah foto-foto yang menurut saya akan dinilai bagus oleh orang lain atau foto-foto prestasi serta hal baik yang sudah saya lakukan. Saya selalu berdalih bahwa hal tersebut akan saya gunakan sebagai portofolio CV atau barangkali ada yang tertarik untuk membaca tulisan saya. Padahal alasan akan dicap tak seproduktif orang lain juga tak dipungkiri menjadi salah satu alasan saya mengunggah hal-hal seperti itu di media sosial.

Ada sebuah ironisme yang menambah daftar hitam putih media sosial. Sebuah penelitian pada 2015 silam yang dilakukan Pew Research Center bekerja sama dengan Keith Hampton menunjukkan bahwa pengguna media sosial yang berinteraksi dengan keluarga dan teman merasakan lebih sedikit stress, khususnya bagi pengguna perempuan. Mungkin dapat mengutarakan perasaan pada ‘diari digital’ ini membuat penggunanya merasa lebih lega.

Namun pada kenyataannya seringkali kita mendengar kalimat “kehidupannya tak seindah konten Instagramnya” atau “kebahagiaan yang ia bagikan di media sosial hanya kebahagiaan semu”. Karena pada penelitian yang sama, selain penemuan fakta yang sudah disebutkan, terdapat pula fakta bahwa pengguna media sosial cenderung lebih sadar mengenai stress yang dialami oleh orang yang mereka kenal. Kesadaran ini pula yang akhirnya menjadi penyebab utama munculnya stress pada diri sendiri. Penggunaan media sosial dapat mengurangi stress namun disaat yang bersamaan sosial media juga salah satu faktor pemicu stres

Maka ada baiknya bagi masyarakat untuk menggunakan media sosialnya dengan bijak. Penggunaan media sosial yang terkontrol akan berdampak tak hanya bagi diri sendiri tapi juga kepada orang lain. Bijak bersosial media berarti mengetahui batasan mana yang baik dan tidak baik dibagikan kepada orang lain, karena dibalik gemerlap kemudahan bermedia sosial, ada lingkungan yang tidak kita ketahui.

Daftar pustaka non-daring:

  • Sagiyanto, A. & Ardiyanti, N. (2018). SELF DISCLOSURE MELALUI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM (Studi Kasus Pada Anggota Galeri Quote). Nyimak Journal of Communication Vol. 2, No .1 Hal. 81-94.
  • Lubis, E. Elysa. (2014). POTRET MEDIA SOSIAL DAN PEREMPUAN. Jurnal Parallela Vol. 1, No. 2. Hal. 97-106

Reyhan Putri
Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran, menulis untuk memenuhi nafsu kreatif
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

NKK/BKK Zaman Now

Menurut kamus politik, Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau yang disingkat dengan NKK/BKK, adalah sebuah penataan organisasi kemahasiswaan, dengan cara menghapus organisasi kemahasiswaan yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.