in

Hindari Sikap Saling Mengafirkan


Dalam kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mencuat ungkapan “kafir” yang ditujukan kepadanya. Dan berbagai tanggapan muncul. Ada dua kelompok tanggapan: mendukung dan menentang. Pendukung Ahok menganggap sebagai isu murahan untuk mengganjalnya dalam perebutan kursi DKI 1. Sementara penentangnya berkata, bahwa memang menurut keyakinan mereka orang yang tidak beragama Islam disebut kafir.
Kini para penentang Ahok nampaknya cukup puas karena isu sara yang mereka lemparkan berhasil mengganjal dia dalam memenangkan Pilkada DKI dan menghasilkan vonis dua tahun penjara baginya. Sementara polarisasi yang terjadi karena kasus tersebut kini sedang dinetralisasi melalui usaha rekonsiliasi oleh berbagai pihak.
Pemahaman penolak Ahok sesuai dengan definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang memberi definisi “kafir sebagai orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya”. Demikian juga dipahami para Muslim di belahan dunia lain. Menurut Wikipedia, semenjak abad ke-15, istilah Kaffir digunakan para Muslim di Afrika untuk menyebut penduduk asli Afrika yang non-Muslim.
Sebatas sebagai pandangan atau keyakinan iman, itu hak setiap orang. Tetapi masalahnya, sikap mengafirkan cenderung berlanjut pada perendahan martabat manusia. Wikipedia dalam artikel tersebut menyebut, banyak diantara para kufari diperbudak dan dijual oleh penangkap mereka yang Muslim kepada para pedagang Eropa dan Asia, terutama dari Portugis, yang pada masa tersebut telah memiliki pusat-pusat perdagangan di sepanjang pantai Afrika Barat.
Lalu, masih dari Wikipedia, di awal abad ke-20 Dudley Kidd menulis, bahwa di Afrika Selatan, kata kaffir seringkali digunakan sebagai penghinaan rasial yang ditujukan secara peyoratif atau ofensif kepada orang kulit hitam Afrika. Dan dalam bahasa Spanyol modern, kata cafre yang diserap dari kata Arab kafir juga memiliki pengertian “orang kasar” atau “tidak beradab”.
Menengok jauh ke belakang, beberapa ribu tahun yang lalu, sikap mengafirkan, dalam keyakinan dan penerapannya yang tidak manusiawi, telah menjadi karakteristik orang Israel.
Israel meyakini memiliki Allah yang benar, yang menyatakan diri dan menyebut diri-Nya Allah Abraham, Ishak dan Yakub (lihat antara lain kitab Keluaran 3:15-16). Dan bangsa-bangsa di luar Yahudi mereka sebut sebagai “kafir.”
Ketika bangsa Israel yang berjumlah sejutaan lebih orang keluar dari Mesir menuju tanah yang mereka yakini dijanjikan Allah untuk mereka miliki, seorang tokoh terpandang dari bangsa bukan Israel menyebut mereka bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau dihitung di antara bangsa-bangsa kafir (lihat kitab Bilangan 23:9).
Lalu mereka memasuki “tanah yang dijanjikan” dengan mengusir dan membinasakan penduduk negeri itu. Dan mereka yang menyerah dijadikannya pekerja-pekerja kasar, diperlakukan sebagai layaknya masyarakat kelas bawah.
Di masa kini, dengan berdirinya Negara Israel, sikap dan perilaku mengafirkan nyata dengan sangat menyolok pada mereka, sehingga banyak orang menyebut Israel sebagai Negara rasialis, istilah modern untuk sikap mengafirkan orang beserta ekses-ekses negatifnya.
Dan yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah dominannya sikap dan perilaku saling mengafirkan, kafir-mengafirkan. Bangsa-bangsa Arab bertekad untuk memusnahkan Negara Israel. Sementara orang Yahudi, yang didukung oleh Negara-negara Barat, merendahkan bangsa Arab dengan menghalangi berdirinya Negara Palestina yang merdeka dan terus membangun pemukiman-pemukiman baru bagi warga Israel yang pulang dari perantauan. Kedua pihak saling menegasikan. Maka berlakulah hukum rimba di sana, siapa kuat dialah yang menang.
Dalam situasi demikian, relevan disampaikan ajaran Yesus atau Isa Almasih, seperti dicatat dalam kitab Matius 5:21-22, Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama.
Kata “kafir” dalam ayat tersebut berasal dari bahasa yang dipakai sehari-hari di Palestina pada zaman Yesus, dan merupakan ungkapan penghinaan yang tajam atau makian yang sangat kasar. Menyebut seseorang “kafir” sama dengan memakinya dungu, bodoh, kosong kepala, kosong pengertian, otak dangkal dan sama sekali tak berguna serta layak diabaikan atau bahkan diperlakukan semena-mena. “Kafir” merupakan ungkapan penistaan, yang muncul dari keangkuhan diri, yang sering diucapkan biasanya dalam kemarahan, oleh orang Yahudi pada zaman itu.
Dalam kondisi demikianlah Yesus mengajar orang Yahudi atau Israel dengan menghubungkan antara “mengafirkan” dan “membunuh”, bahwa sikap mengafirkan cenderung akan berlanjut pada penistaan dan berujung pada pembunuhan. Saling mengafirkan akan berujung pada saling memusnahkan!
Pesan Yesus tersebut relevan disampaikan kepada bangsa Palestina (Arab) dan Israel (dan semua pendukungnya), sesama saudara, anak-anak Abraham, yang sedang bertikai, agar berhenti saling mengafirkan dan saling membunuh.
Dan relevan juga untuk warga negeri ini agar terhindar dari konflik bernuansa SARA, yang mempertajam polarisasi, yang mengancam kesatuan bangsa, yang mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Negeri ini akan menghadapi Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019. Menjauhi sikap saling mengafirkan akan menciptakan pesta demokrasi yang dipenuhi dengan suasana kegembiraan dalam kebersamaan. Yang menang akan menikmati kemenangan secara terhormat, sedangkan yang kalah tidak akan terluka karena merasa direndahkan.


Written by Budi Kasmanto

1994-2017 menggembalakan jemaat, kini fokus menulis.
Penulis buku Panggilan Berkhotbah, Penerbit ANDI Yogya.
Kontributor Majalah Suara Baptis.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR