Jumat, Desember 4, 2020

Hikayat Kritik dan Perihal Kampus UMM yang Doyan Flashmob

Kartini Masa Kini

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini oleh bangsa Indonesia. Tanggal tersebut merupakan tanggal lahir R.A. Kartini pahlawan yang berjuang untuk emansipasi wanita....

Ajak Rakyat Memilih, Bukan Memaksa Rakyat Memilih

Meminjam istilah Almarhum Sutan Batoegana, pemilu tahun 2014 dan pilkada 2017 sangatlah “ngerih-ngerih sedap”. Kita dipertontonkan mengenai pentingnya dan sakralnya sebuah jabatan. Harga mati...

Langkah Mundur Kampanye Pilpres 2019

Tabuh kontestasi pemilu presiden (pilpres) 2019 masih terus berlangsung dengan berbagai dinamika. Masing-masing pasangan calon (paslon), baik nomor urut 01 dan nomor urut 02...

Pemilu Ditengah Kewarasan Publik

Riuh gemuruh menuju perhelatan pesta demokrasi sudah mulai terasa dan begitu membahana di ruang publik. Pemilu 2019 yang dilaksanan secara serentak untuk memilih Anggota...
A.S. Rosyid
Literacy and sustainability enthusiast. Interested in Ethics and Maqasid Studies.

Saya diajari bahwa kritik bukan sekedar mengungkap kesalahan. Kritik adalah kejelian yang terlatih lewat pengalaman membaca dan berdiskusi. Kejelian yang didukung wacana matang. Kejelian karena nalar selalu buncah.

Seorang antropolog yang bersentuhan dengan unikum suatu masyarakat pedalaman, pada suatu ketika, memutuskan untuk membuang kejayaan karirnya dan menjadi warga masyarakat pedalaman itu. Si antropolog kemudian dicemooh karena keputusannya itu “gagal dipahami” sebagai kritik atas ideologi tertentu di tengah masyarakat asalnya. Padahal, keputusan si antropolog hanyalah sebuah batu loncatan.

Kasus lain yang lebih masyhur: seorang sarjana didorong menjadi pegawai negeri oleh orang tua yang siap menyogok. Si sarjana menolak, dan ia diberangi keluarga. Si sarjana paham niat menyogok itu adalah wujud “cinta”, namun ia menolak bila cinta membolehkannya mengambil hak orang lain. Sayangnya, penolakan si sarjana juga gagal dianggap sebagai kritik.

Mengapa ada pihak yang tidak mampu melihat kritik? Mengapa ada yang mencemoh?

Kemampuan mengkritik adalah kemampuan merasakan yang tak seharusnya, tak ideal; hal yang dianggap lazim dan wajar namun sesungguhnya keliru. Banyak yang gagal melihat kritik karena tak semua orang memiliki kejelian dan wawasan yang sama. Meski hari ini hampir semua orang pernah sekolah, tapi hanya sedikit sekolah yang menjembatani peserta didiknya dengan critical thinking—sekedar ability to think pun jarang.

Ada yang tidak suka kritik karena disampaikan tanpa akhlak. Kritiknya benar, tapi sayang tak santun. Saya kira itu alasan saja demi membela hati yang terluka. Ego kuasa akan mengambil peran ketika nalar sudah angkat tangan tak mampu berargumen. Ego kuasa biasanya akan bekerjasama dengan otot.

Ada tiga pihak yang biasanya menunjukkan sikap sengit terhadap kritik: (1) awam, yakni mereka yang tidak tahu perspektif kritikus; (2) anti, yakni mereka yang tidak suka perspektif kritikus; dan (3) awas, yakni mereka yang kepentingannya terancam oleh kritik kritikus.

Tiga pihak tersebut melawan kritik (dan kritikusnya) dengan reaksi gamang dan banal: acuh, cemooh, marah, histeris, apologetis, retoris-diplomatis, provokatif, otoriter, dan menindas. Hal yang dapat dimaklumi karena mereka berasal dari lingkungan yang minus tradisi berpikir, surplus hasrat praktis, dan hanya tahu logika kalah-menang.

Para kritikus, dan orang yang mampu menangkap kritik, pastilah terbiasa dengan berbagai polah pikiran. Mereka paham beda antara “mengkritik A” dan “mengkritik B dengan A sebagai batu loncatannya”. Antropolog tadi hanya melepas karir. Sarjana tadi hanya menolak permintaan. Tapi reaksi orang-orang terdekat mereka terpaku pada objek parsial (pilihan mereka, bukan kritik besarnya).

Karenanya wajar demonstrasi mahasiswa atas kenaikan harga minyak dicemooh rekan-rekannya. Wajar bila aktivis lingkungan yang melawan tambang dituduh komunis. Bukan sekedar minyak dan tambang yang mereka kritik, tapi ideologi politik dan ekonomi yang bekerja mengeksploitasi bangsa. Karena para tukang nyinyir itu gagal melihat kritik, dan itu wajar. Naif menganggap mereka pernah membaca buku Dandhy Laksono, “Indonesia For Sale”. Apalagi membaca teori-teori sosial kritis.

Kemampuan menangkap kritik tidak ditentukan oleh ijazah. Asalkan terbiasa berpikir luas dan jauh, pemulung pun bisa. Justru mereka yang terlanjur menganggap diri pintar dan mulia yang sulit menangkap kritik.

Di sebuah WAG mahasiswa Lombok, ada sindiran untuk kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang lebih doyan memamerkan flashmob daripada memastikan kampus memenuhi kualitas-kualitas lembaga dan pendidikannya. Sindiran itu disertai data kuat terkait “kualitas-kualitas” yang UMM dianggap lalai terhadapnya.

Sindiran adalah kritik. Dalam hal ini, bukan ‘tanduk sapi’ yang sedang dikritik, melainkan ‘jeroan’ yang dianggap problematis. Tapi mahasiswa yang berasal dari kampus UMM dengan lekas merespon gamang dan banal. Mereka mempersoalkan apa salahnya membuat flashmob. Padahal flashmob hanyalah batu loncatan, bukan ….. ah, sudahlah.

A.S. Rosyid
Literacy and sustainability enthusiast. Interested in Ethics and Maqasid Studies.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.