Minggu, Februari 28, 2021

Hermeneutika: Ulasan Ringkas dan Hukum Menggunakannya

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Kebaya oh Kebaya, Masihkah Menjadi Busana Nasional?

Perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia telah berlalu. Masih segar dalam ingatan berita-berita yang mengetengahkan tentang kemeriahan itu baik di layar kaca, media online,...

Kehidupan yang Genit cum Semholai

Dangdut sempat dan masih lekat dengan lema seputar biduan seksi, goyangan seronok, musik kampungan, minuman keras, dan lema-lema picisan lain. Kendatipun begitu, dangdut kian...

Papua dan Krisis Nilai-Nilai Keberagaman Bangsa

Menanggapi peristiwa Dinoyo 1 Juli 2018 lalu, mahasiswa Papua yang diusir dan mengakibatkan bentrok antara warga Dinoyo, Malang dengan mahasiswa Papua, banyak media memberikan...
Yahya Fathur Rozy
Mahasantri Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran, Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir

Pesan Allah berupa Al-Qur’an yang terdokumentasikan dalam wujud mushaf Utsmani, menjadi pedoman hidup seluruh umat Islam yang meyakininya sebagai kitab suci yang penuh dengan pesan, hikmah dan hidayah-Nya. Upaya yang dicurahkan dalam penggalian rangkaian pesan Allah yang bersemayam di dalamnya sudah dimulai sejak kisaran 13 abad yang lalu, yaitu pada masa Dinasti Umayyah. Model upaya yang diterapkan guna menggali pesan Allah menggunakan metode “tafsir/penafsiran”.

Bermunculannya para mufassir dari Arab (seperti Muqatil bin Sulaiman hingga Ibn Katsir) pada masa awal-awal islam, secara kuat mengindikasikan bahwa dunia Arab sangat menganut pada peradaban teks. Pemahaman dan pencarian pesan Allah lewat teks tersebut (Mushaf Utsmani), menjadi sarana dan jalan utama dalam mencari pesan Allah di dalamnya (Nasr Hamid Abu Zaid: 2001).

Dari upaya penggalian pesan Allah tersebut, terdapat beberapa metode pelengkap dalam penafsiran seperti Ushul Fiqh, Ulumul Qur’an, Balaghah dan lain sebagainya. Namun, pengkristalan klaim kebenaran dan keotentikan pesan Allah yang didapatkan melalui penggunaan metode penafsiran tersebut meniscayakan timbulnya asumsi bahwa makna objektif sudah melekat pada lafal atau bahasa teks mushaf Utsmani. Hal inilah yang menyebabkan “penafsiran” sebagai metode/pendekatan yang otoritatif nan sakral dalam pencarian wahyu Allah.

Maka, metode berpikir mereka hanya terpaku pada teks dan bahkan struktur internal teks menjadi patokan utama dalam mecari pesan Tuhan, tanpa melihat realitas eksternal teks, kecuali realitas penutur bahasa asli.

Namun disayangkan, makna yang mereka peroleh dengan pendekatan tersebut dipahami sebagai pesan Allah yang obyektif. Padahal, makna yang diperoleh tersebut didapatkan dari penafsiran yang termasuk metodologi kreasi manusia yang sangat mungkin mengalami kekurangan dan dapat diperbaharui sesuai konteks zaman, terbukti dari banyaknya penafsir yang bermunculan silih berganti dengan variasi metodologi penafsiran masing-masing.

Sekilas Tentang Hermeneutika

Penafsiran (Tafsir) dalam definisi yang sudah mapan, bukanlah satu-satunya metode mutlak yang digunakan dalam menggali pesan Tuhan, dan tidak ada satu orang pun yang memutlakannya. Bahkan dalam Al-Qur’an pun, kata “tafsir” hanya disebutkan satu kali berbeda dengan kata “takwil” yang disebutkan sebanyak tujuh belas kali (beberapa kalangan mengaitkan takwil dengan istilah hermeneutika).

Fazlur Rahman dalam bukunya Islam and Modernity menyatakan metode penafsiran selama ini, yang diterapkan dalam bentuk penulisan komentar-komentar terhadap karya-karya yang telah ada tidak memberikan sumbangan apapun pada kemajuan diskursus/wacana ilmu-ilmu keislaman sejak zaman pertengahan hingga saat ini. Hal tersebut dapat dipahami karena mereka hanya membubuhkan komentar tambahan tanpa menawarkan gagasan wacana pemikiran yang baru.

Hermeneutika sebagai metodologi penggalian pesan Tuhan yang tertuang dalam bahasa manusia, hadir sebagai diskursus keilmuan kontemporer yang turut memeriahkan kontestasi keilmuan Al-Qur’an yang ada. Istilah hermeneutika merupakan turunan dari kata kerja Yunani, Hermeneuin yang berhubungan dengan kata benda hermens dan terkait dengan dewa dalam mitologi Yunani kuno, bernama “Hermes”.

Hermes merupakan utusan para dewa untuk membawa pesan ilahi yang memakai bahasa “langit” kepada manusia yang menggunakan bahasa “dunia”. Untuk tujuan itulah diperlukan interpretasi heurmenetis. Tentu dalam pembahasan ini, Hermeneutika diulas pemakaiannya dalam  menggali pesan Allah dalam Al-Qur’an (Richard E. Palmer: 1996).

Persoalan utama hermeneutika terletak pada pencarian makna teks, apakah makna obyektif atau makna subyektif. Karena itu ada 3 bentuk hubungan hermeneutika; hubungan penggagas (pemilik pesan: Allah) dengan teks, hubungan pembaca dengan penggagas, dan hubungan pembaca dengan dengan teks. Perbedaaan penekanan dalam pencarian makna pada ketiga unsur hermeneutika: penggagas, teks, pembaca, menjadi titik beda masing-masing hermeneutika. Titik beda itu dapat dikelompokan menjadi tiga kategori: teoritis, filosofis, dan kritis (Joseph Bleicher: 1980).

Pertamahermeneutika teoritis, menurut Nasr Hamid Abu Zaid hermeneutika ini menitikberatkan pada problem “pemahaman”. Yakni bagaimana memahami dengan benar. Adapun makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna objektif yang dikehendaki penggagas teks (Allah). Karena tujuannya memahami secara objektif maksud penggagas, maka hermeneutika model ini dianggap juga sebagai “hermeneutika romantis” yang bertujuan untuk “merekonstruksi makna”.

Keduahermeneutika filosifis, penekanan dalam hermeneutika ini ialah problem bagaimana “tindakan memahami” itu sendiri, bukan memahami teks dengan benar dan objektif. Gadamer, sang penggagas hermeneutika ini, menjelaskan bahwa hermeneutika ini berbicara watak interpretasi bukan teori interpretasi. Karena teori interpretasi apapun untuk menggali makna objektif dari penggagas teks (Allah) ialah mustahil dicapai karena sang pembaca tidak bisa berharap menempatkan dirinya dalam posisi penggagas teks (Allah) untuk mengetahui makna aslinya.

Ketigahermeneutika kritis, hermeneutika ini bertujuan untuk mengungkap maksud/risalah/ kepentingan dibalik teks, dengan tokohnya Habermas. Habermas menempatkan dimensi ideologis penafsir dan teks sebagai medium utama dalam penafsiran. Sehingga dia mengandaikan teks sebagai medium dominasi dan kekuasaan. Di dalam teks tersimpan maksud pengguna teks. Oleh karena itu selaian horizon penafsir, teks juga ditempatkan dalam ranah yang juga perlu dibahas.

Dari ketiga kategori hermeneutika tersebut, jika kita amati, tidak menyimpang dari metode penafsiran teks klasik, namun memberikan tawaran metode dan teori baru dalam penggalian pesan Allah di dalam mushaf Al-Qur’an.

Hukum Menggunakan Hermenutika 

Ada tiga kelompok pemikir dalam menyikapi penggunaan hermeneutika dalam studi Al-Qur’an, yaitu;

1. Menolak penggunaan hermeneutika dalam studi mushaf Al-Qur’an dengan alasan, hermeneutika berasal dari Yunani yang kemudian diadopsi oleh Kristen. Pandangan dunia yang melahirkan hermeneutika berbeda dengan pandangan dunia Islam. Andaikata ia digunakan dalam studi mushaf Al-Qur’an, maka akan menghilangkan dimensi ilahiyah Mushaf Al-Qur’an. (Hamid Fahmi Zarkasyi: 2008)

2. Menerima secara mentah-mentah dan bahkan mengizinkan penggunaan hermeneutika apa saja ke dalam studi mushaf Al-Qur’an tanpa memilah-milah model hermeneutika. Mereka berkeyakinan, dari manapun datangnya sesuatu, selama ia membawa manfaat, maka harus diambil. Lebih-lebih teori tafsir yang selama ini menguasai pentas penafsiran mushaf Al-Qur’an tidak lagi mampu menawarkan pemahaman baru yang mampu menjawab pelbagai tantangan modernitas. (Nazaruddin Umar: 2006)

3. Kelompok ini muncul mengambil jalan tengah sebagai alternatif dari sikap ekstrem diatas. Kelompok ini mengambil teori hermeneutika tertentu guna mendukung upaya mengungkap pesan ilahi tanpa mengenyampingkan ke-Ilahian Mushaf Al-Qur’an. Kelompok ini sejalan dengan hadis Nabi “hikmah itu milik orang-orang yang beriman, dimanapun ia ditemui maka mereka lebih berhak tehadap hikmah itu”.

Mungkinkah pesan Allah ditemukan melalui hermeneutika?

 

Yahya Fathur Rozy
Mahasantri Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran, Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.