Minggu, Februari 28, 2021

Hentikan Sebutan ‘Cebong’ dan ‘Kampret’

Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Membangun Civil Society

Pergulatan Muhammadiyah dengan globalisasi bukanlah sesuatu yang bisa dihidari. Sebagai organisasi modern  yang telah berusia 106 tahun pada tanggal 18 November 2018 lalu, Muhammadiyah...

Kemana Humor Khas Jokowi?

Tensi Pilpres 2019 yang makin tinggi tampaknya membuat petahana gerah juga. Komunikasi politik Joko Widodo terasa lebih agresif belakangan, sehingga membuatnya tampak tertekan, panik,...

Star Wars: The Generals Strike Back

As most have predicted, the 2019 presidential election is a repetitious 2014 move. Only this time, both candidates – Joko Widodo & Ma’ruf Amin...

Kyai Ma’ruf Amin Menguntungkan Prabowo?

Kita bayangkan andai Prof. Mahfud MD benar-benar mendampingi Jokowi sebagai cawapres. Siapapun kiranya cawapres yang digandeng Prabowo, rasanya tidak akan begitu signifikan mendongkrak elektabilitas....
FERIUB25
Feri Irawan, mahasiswa UB yang selalu ingin menulis dan berkarya untuk bangsa

Di bulan Ramadhan ini, perdebatan pasca pemilu masih berlanjut antara kedua kubu. Banyak para ulama dan tokoh politik mengimbau masyarakat untuk menghentikan sebutan “cebong” dan “kampret” yang dirasa meresahkan suasana demokrasi di Indonesia. Mau tau siapa saja mereka?, simak selanjutnya.

Pertama, dari Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa’adi mengimbau dan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengakhiri konflik pasca pemilihan umum tahun 2019 untuk menghormati kemuliaan bulan suci Ramadhan 1440 Hijriyah.

Zainut mengatakan bahwa masyarakat yang selama ini berbeda pilihan politik pada dasarnya tetap bersaudara. “Pada momentum bulan Ramadhan yang mulia ini, saatnya kita mengakhiri semua silang sengketa, saling tuduh, fitnah dan saling olok dengan penyebutan ‘kampret’ dan ‘cebong’,” kata Zainut.

Selain itu, Zainut mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan semangat persaudaraan Islamiyah maupun berkebangsaan menjadi penting dalam momen ramadhan tahun  ini. Menurut dia, sudah cukup masyarakat terpecah belah dan bertengkar karena perbedaan pilihan selama masa kampanye dan pemilu berlangsung, “Sehingga kita sering ‘perang’ di media sosial maupun dalam kehidupan keseharian kita,” ujarnya.

Maraknya panggilan ‘kecebong’ dan ‘kampret’ juga membuat gerah KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). “Jadi jangan panggil dengan gelaran yang buruk. Yang satu panggil kecebong, yang satu panggil kampret,” kata Aa Gym dalam acara Kajian Tauhid di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Imbauan Aa Gym itu disambut Sandiaga Uno. Dia sendiri mengaku sebal dengan panggilan itu. “Setuju, saya paling nggak suka itu kata-kata itu. Saya paling sebel banget dengar kata kecebong-kampret. Menyebut nama-nama yang merendahkan. Kita sepakat banget sama Aa Gym,” kata Sandiaga.

Senada dengan Aa Gym, Gubernur NTB TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) tak ingin ada lagi panggilan kecebong dan kampret di tengah masyarakat. Dia meminta masyarakat saling menghargai. “Sesama manusia saling menghargai. Menurut saya, itu (cebong dan kampret) bagian-bagian yang harus dihilangkan dari ruang publik,” kata TGB.

Relawan pendukung Jokowi yang tergabung dalam Projo (Pro-Jokowi) juga sepakat dengan ajakan tersebut. “Kami setuju dengan saran Aa Gym. Politik di Indonesia harus selalu dan tetap menampilkan wajah kemanusiaannya.

“Menurut saya tak elok menyebut satu atau kelompok tertentu dengan sejenis hewan, palagi itu dalam konteks politik,” tutur Ketum Projo Budi Arie Setiadi. “Kami setuju dengan saran Aa Gym. Politik di Indonesia harus selalu dan tetap menampilkan wajah kemanusiaannya. Menurut saya tak elok menyebut satu atau kelompok tertentu dengan sejenis hewan. Apalagi itu dalam konteks politik,” tutur Ketum Projo Budi Arie Setiadi.

Ajakan untuk menyetop panggilan cebong dan kampret itu juga datang dari Neno Warisman. Dia mengaku tidak pernah memakai istilah itu. “Saya memang dari awal tidak pernah sekalipun menggunakan kata tersebut. Saya itu sangat menyayangi manusia. Bagi saya, mereka belum tahu apa yang kita lakukan dan mungkin juga hal itu yang menjadi kekurangan kita, karena kita belum artikulatif, belum mampu menjelaskan kenapa kita tidak mau. Misalnya memilih presiden yang baru atau yang lain,” ucap Neno.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding mengingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah momentum baik untuk membangun rekonsiliasi politik antar bangsa yang terbelah karena perbedaan pilihan pada Pilpres 2019.

Dirinya pun mengajak semua pihak untuk menghentikan saling caci-maki dan menyampaikan ujaran kebencian, termasuk sebutan bagi para pendukung capres. “Jangan ada lagi sebutan-sebutan yang diskreditkan kepada mereka yang berbeda seperti cebong atau kampret,” kata Karding di Jakarta.

Dari sekian banyak tokoh baik tokoh agama maupun tokoh politik menginginkan denokrasi Indonesia dapar berjalan sesuai nilai-nilai Pancasila terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab dan persatuan Indonesia.

Di sila pertama, kita sebagai warga negara dituntut menjalankan kehidupan berdasarkan nilai-nilai agama. Jadi sangat tidak pantas panggilan ‘cebong’ dan ‘kampret’ diujarkan karena tidak sesuai dengan ajaran agama yang kita anut.

Di sila kedua, ujaran tersebut sangat merendahkan martabat manusia dan tidak beretika. Kita dituntut menjadi pribadi yang beradab dan menjiwai nilai keadilan. Di sila ketiga, ujaran tersebut telah memecah belah rakyat menjadi dua kubu yang saling memusuhi sehingga nilai persatuan dan perdamaian bangsa menjadi terdegradasi.

Di bulan suci ramadhan ini, marilah kita bersama sama meningkatkan ibadah dan kebaikan, membangun kembali iman dan taqwa, etika dan moral yang beradab serta rasa persatuan dan cinta tanah air Indonesia. Sudah saatnya kita menghentikan panggilan ‘kecebong’ dan ‘kampret’  dikarenakan telah merusak seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga demokrasi Indonesia kedepannya semakin lancar dan sehat serta sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Semangat.

FERIUB25
Feri Irawan, mahasiswa UB yang selalu ingin menulis dan berkarya untuk bangsa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.