OUR NETWORK

Hentikan Sebutan ‘Cebong’ dan ‘Kampret’

“Pada momentum bulan Ramadhan yang mulia ini, saatnya kita mengakhiri semua silang sengketa, saling tuduh, fitnah dan saling olok dengan penyebutan ‘kampret’ dan ‘cebong’,” kata Zainut.

Di bulan Ramadhan ini, perdebatan pasca pemilu masih berlanjut antara kedua kubu. Banyak para ulama dan tokoh politik mengimbau masyarakat untuk menghentikan sebutan “cebong” dan “kampret” yang dirasa meresahkan suasana demokrasi di Indonesia. Mau tau siapa saja mereka?, simak selanjutnya.

Pertama, dari Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa’adi mengimbau dan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengakhiri konflik pasca pemilihan umum tahun 2019 untuk menghormati kemuliaan bulan suci Ramadhan 1440 Hijriyah.

Zainut mengatakan bahwa masyarakat yang selama ini berbeda pilihan politik pada dasarnya tetap bersaudara. “Pada momentum bulan Ramadhan yang mulia ini, saatnya kita mengakhiri semua silang sengketa, saling tuduh, fitnah dan saling olok dengan penyebutan ‘kampret’ dan ‘cebong’,” kata Zainut.

Selain itu, Zainut mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan semangat persaudaraan Islamiyah maupun berkebangsaan menjadi penting dalam momen ramadhan tahun  ini. Menurut dia, sudah cukup masyarakat terpecah belah dan bertengkar karena perbedaan pilihan selama masa kampanye dan pemilu berlangsung, “Sehingga kita sering ‘perang’ di media sosial maupun dalam kehidupan keseharian kita,” ujarnya.

Maraknya panggilan ‘kecebong’ dan ‘kampret’ juga membuat gerah KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). “Jadi jangan panggil dengan gelaran yang buruk. Yang satu panggil kecebong, yang satu panggil kampret,” kata Aa Gym dalam acara Kajian Tauhid di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Imbauan Aa Gym itu disambut Sandiaga Uno. Dia sendiri mengaku sebal dengan panggilan itu. “Setuju, saya paling nggak suka itu kata-kata itu. Saya paling sebel banget dengar kata kecebong-kampret. Menyebut nama-nama yang merendahkan. Kita sepakat banget sama Aa Gym,” kata Sandiaga.

Senada dengan Aa Gym, Gubernur NTB TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) tak ingin ada lagi panggilan kecebong dan kampret di tengah masyarakat. Dia meminta masyarakat saling menghargai. “Sesama manusia saling menghargai. Menurut saya, itu (cebong dan kampret) bagian-bagian yang harus dihilangkan dari ruang publik,” kata TGB.

Relawan pendukung Jokowi yang tergabung dalam Projo (Pro-Jokowi) juga sepakat dengan ajakan tersebut. “Kami setuju dengan saran Aa Gym. Politik di Indonesia harus selalu dan tetap menampilkan wajah kemanusiaannya.

“Menurut saya tak elok menyebut satu atau kelompok tertentu dengan sejenis hewan, palagi itu dalam konteks politik,” tutur Ketum Projo Budi Arie Setiadi. “Kami setuju dengan saran Aa Gym. Politik di Indonesia harus selalu dan tetap menampilkan wajah kemanusiaannya. Menurut saya tak elok menyebut satu atau kelompok tertentu dengan sejenis hewan. Apalagi itu dalam konteks politik,” tutur Ketum Projo Budi Arie Setiadi.

Ajakan untuk menyetop panggilan cebong dan kampret itu juga datang dari Neno Warisman. Dia mengaku tidak pernah memakai istilah itu. “Saya memang dari awal tidak pernah sekalipun menggunakan kata tersebut. Saya itu sangat menyayangi manusia. Bagi saya, mereka belum tahu apa yang kita lakukan dan mungkin juga hal itu yang menjadi kekurangan kita, karena kita belum artikulatif, belum mampu menjelaskan kenapa kita tidak mau. Misalnya memilih presiden yang baru atau yang lain,” ucap Neno.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding mengingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah momentum baik untuk membangun rekonsiliasi politik antar bangsa yang terbelah karena perbedaan pilihan pada Pilpres 2019.

Dirinya pun mengajak semua pihak untuk menghentikan saling caci-maki dan menyampaikan ujaran kebencian, termasuk sebutan bagi para pendukung capres. “Jangan ada lagi sebutan-sebutan yang diskreditkan kepada mereka yang berbeda seperti cebong atau kampret,” kata Karding di Jakarta.

Dari sekian banyak tokoh baik tokoh agama maupun tokoh politik menginginkan denokrasi Indonesia dapar berjalan sesuai nilai-nilai Pancasila terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab dan persatuan Indonesia.

Di sila pertama, kita sebagai warga negara dituntut menjalankan kehidupan berdasarkan nilai-nilai agama. Jadi sangat tidak pantas panggilan ‘cebong’ dan ‘kampret’ diujarkan karena tidak sesuai dengan ajaran agama yang kita anut.

Di sila kedua, ujaran tersebut sangat merendahkan martabat manusia dan tidak beretika. Kita dituntut menjadi pribadi yang beradab dan menjiwai nilai keadilan. Di sila ketiga, ujaran tersebut telah memecah belah rakyat menjadi dua kubu yang saling memusuhi sehingga nilai persatuan dan perdamaian bangsa menjadi terdegradasi.

Di bulan suci ramadhan ini, marilah kita bersama sama meningkatkan ibadah dan kebaikan, membangun kembali iman dan taqwa, etika dan moral yang beradab serta rasa persatuan dan cinta tanah air Indonesia. Sudah saatnya kita menghentikan panggilan ‘kecebong’ dan ‘kampret’  dikarenakan telah merusak seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga demokrasi Indonesia kedepannya semakin lancar dan sehat serta sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Semangat.

Feri Irawan, mahasiswa UB yang selalu ingin menulis dan berkarya untuk bangsa

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…