Kamis, Oktober 29, 2020

Hariman, Mahasiswa, UU Cipta Kerja, Ada Apa?

Media Tontonan, Tren Bersepeda di Kala Pandemi

Di masa transisi pembatasan sosial menuju ‘new normal’, muncul sebuah fenomena dimana banyak pengguna sepeda mulai memenuhi jalanan. Para pesepeda hadir dalam berbagai kesempatan,...

Pelajaran dari Ratna Sarumpaet

Kebohongan aktivis perempuan yang dikenal galak dan garang terhadap pemerintahan Jokowi, Ratna Sarumpaet, beberapa hari yang lalu telah menghebohkan seluruh penduduk negeri ini. Dia...

Teror di Masjid Christchurch, Sayap Kanan dan Islamofobia

Sebagai salah satu negara dengan indeks keamanan tertinggi di dunia, Selandia Baru baru saja mendapat teror yang mengejutkan. Tragedi penembakan di Masjid Al Noor,...

Menelaah Dampak Buruk Sinetron

Budaya menonton televisi telah melekat dalam kehidupan masyarakat kita. Tidak heran jika berbagai stasiun televisi berlomba-lomba untuk menarik sebanyak mungkin penonton. Berbagai program bermunculan,...
Ahmad Zacky Makarim
Mahasiswa S1 Finance, International Islamic University Malaysia. Wakil Kepala Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia 19/20. Sekretaris Umum HMI Malaysia.

Masih dalam suasana demonstrasi mahasiswa yang menolak UU Cipta Kerja. Sebelum Subuh tadi, saya melihat masih ada demonstrasi yang akan dilakukan pada hari ini, Senin (12/10), di berbagai tempat.

Artinya perjuangan belum berakhir. Mahasiswa masih konsisten untuk menjadi jembatan balada suara rakyat.

Namun, demonstrasi sepertinya tidak gayung bersambut oleh pemerintah. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI menerbitkan surat untuk perguruan tinggi di Indonesia (9/10). Isinya adalah imbauan pembelajaran daring dan sosialisasi UU Cipta Kerja.

Di dalam surat tersebut berisi 8 butir arahan Kemendikbud RI. Dari semua poin, ada hal yang menarik pada poin nomor 4 dan 6. Poin 4 berisi anjuran untuk mahasiswa agar tidak ikut unjuk rasa yang dapat membahayakan keselamatan diri.

Sementara itu, poin 6 menginstruksikan para dosen agar mendorong para mahasiswa untuk menyelenggarakan kegiatan intelektual dalam mengkritisi UU Cipta Kerja. Intinya supaya tidak turun ke jalan.

Jika ditelaah lebih dalam, isi arahan dalam surat tersebut mengandung paradoks. Di satu sisi mendorong adanya kegiatan secara intelektual namun melarang adanya demonstrasi. Hal ini tentu menjadi pertanyaan banyak pihak.

Sebab mustahil lahir sebuah gerakan tanpa kajian. Demonstrasi merupakan langkah konkret dari kajian intelektual yang dilakukan di pojok-pojok kampus dan dari berbagai sudut ruang kelas.

Menjadikan pandemi sebagai alasan melarang demonstrasi juga tidak benar. Meskipun tujuannya baik, namun kurang tepat. Demonstrasi tidak lahir tanpa alasan. Tidak ada api tanpa gesekan korek api.

Demonstrasi muncul karena institusi politik mengalami disfungsi. Karena dianggap tidak mampu menjalankan social control secara optimal. Ihwal inilah yang mendorong para mahasiswa sebagai kaum intelektual untuk melakukan check and balance kepada pemerintah.

Pertanyannya, benarkah gerakan mahasiswa harus ditakuti hingga harus ada pelarangan struktural?

Gerakan mahasiswa tidak perlu ditakuti

Melihat secara konteks historis, teringat kumpulan tulisan bernas Hariman Siregar di dalam buku ‘Hati Nurani Seorang Demonstran’. Hariman Siregar merupakan tokoh legenda peristiwa Malam Lima Belas Januari (Malari) 1974.

Malari merupakan peristiwa yang terjadi akibat membengkaknya jumlah pengangguran, kemiskinan yang begitu nyata, dan penanaman modal asing yang berlebihan.

Dalam wawancara majalah Politika tahun 1992, Hariman Siregar menjelaskan bahwa gerakan mahasiswa sering ditakuti oleh pemerintah. Karena acap kali diidentikkan dengan perubahan kekuasaan secara revolusioner. Kerap dikaitkan dengan huru-hara dan perusakan fasilitas publik.

Padahal gerakan mahasiswa di Prancis misalnya, ternyata mampu mengubah kurikulum pendidikan. Sementara di Amerika Serikat, gerakan mahasiswa muncul karena menentang perang Vietnam. Inilah bukti bahwa gerakan mahasiswa sejatinya memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Mahasiswa adalah para kaum elitis yang memiliki kesadaran sosial yang lebih tinggi daripada masyarakat awam. Peran para mahasiswa dan kaum muda dalam melakukan perubahan dan pembaharuan tidak perlu diragukan.

Sejarah mencatat peristiwa Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 1945 adalah bukti bahwa gerakan tersebut dimotori oleh semangat mahasiswa dan kaum pemuda. Untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan.

Mahasiswa Tetap Menjadi Tumpuan Masyarakat

Demokrasi akan menemui masalah jika para penguasa melakukan maksiat struktural dan moral. Sementara itu aspirasi masyarakat tidak diindahkan oleh para mandataris rakyat. Padahal suara rakyat adalah suara Tuhan. Vox populi vox dei.

Realita demokrasi berbeda antara kenyataan (das sein) dan keharusan (das sollen). Buntutnya adalah kehidupan yang semakin menantang untuk mencari sesuap pagi dan sesuap petang.

Atas hal tersebut, Hariman Siregar menyatakan bahwa mahasiswa dan kaum muda diharapkan mengemban amanat penderitaan masyarakat. Tatkala kontrol sosial mandeg. Para mahasiswa menjadi tumpuan masyarakat untuk menjadi pemecah kebuntuan (Media Indonesia, 1992).

Walaupun dewasa ini dinamika mahasiswa sering ditekan namun penekanan itu tidak bisa selamanya. Sepanjang ada krisis dan masalah yang mendorong mahasiswa berkiprah, mereka akan ikut ambil bagian.

Kondisi Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Pengesahan UU Cipta Kerja disaat pandemi COVID-19 belum usai menambah situasi menjadi carut-marut.

Tidak tahu apa urgensi mengesahkan UU Cipta Kerja menjelang tengah malam. Yang jelas, hal tersebut patut dipertanyakan alasannya. Apalagi sedari awal terkesan tergesa-gesa dan kurang melibatkan partisipasi banyak pihak.

Terakhir, by the way, dokumen final UU Cipta Kerja yang sudah final kapan akan dirilis ya? yang 1028 atau 905 halaman? Ditunggu bapak ibu anggota dewan untuk rilis resminya.

Ahmad Zacky Makarim
Mahasiswa S1 Finance, International Islamic University Malaysia. Wakil Kepala Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia 19/20. Sekretaris Umum HMI Malaysia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.