Minggu, Maret 7, 2021

Hari Pahlawan Bagi Generasi Milenial

Jangan Salahkan Arek Suroboyo Hadang Prabowo

Kedatangan calon Presiden nomor urut 02 Selasa, 19 April lalu, di Tambak Beras Surabaya. Mendapat sambutan kurang simpatik. Tidak hanya dengan yel-yel, masyarakat sekitar...

Kemenangan Joe Biden Bagi Muslim Amerika

Berita terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat sudah menyebar luas. Hal ini tentu saja merupakan kabar gembira bagi sebagian besar penduduk Amerika. Bahkan...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Ada Apa dengan Pajak E-Commerce?

Di era sekarang dunia seakan terasa sempit dan penuh dengan kemudahan. Hal ini tidak terlepas dari peranan teknologi yang semakin canggih sehingga tak bisa...
Abdul Rasyid
Milenial

Sebagaimana biasanya, setiap tanggal 10 November bangsa ini memeringatinya sebagai hari besar nasional, yaitu Hari Pahlawan. Momentum ini tentunya bukan hanya sekadar hadiah atau sekadar seremonial semata, melainkan untuk menegang para jasa pahlawan yang telah gigih berani, rela mengorbankan jiwa, raga, dan hartanya dalam rangka memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang usianya masih relatif sangat muda.

Beberapa bulan sebelum meletusnya peristiwa 10 November, momen bahagia itu telah berkumandang ke seluruh penjuru Indonesia pada 17 Agustus 1945, yang artinya bangsa Indonesia telah bebas dan merdeka dari belenggu penjajahan. Bangsa Indonesia telah memiliki otoritas penuh untuk menentukan nasib bangsanya ke depan. Namun rupanya para penjajah yang masih bercokol di tanah air masih belum rela melepaskan belenggu kekuatannya yang telah lama bercokol di tanah yang subur dan kaya ini.

Hari-hari setelah kemerdekaan itu berkumandang, tentunya hari itu menjadi harapan baru bagi seluruh rakyat Indonesia di berbagai penjuru Indonesia setelah berabad-abad lamanya hidup dalam hiruk-pikuknya penjajahan, penindasan dan jauh dari kata manusiawi. Namun harapan itu diusik oleh para penjajah dengan adanya insiden yang terjadi di Hotel Yamato Surabaya.

Pada saat itu hotel tersebut bernama Hotel Oranje. Setelah ditetapkannya kemerdekaan Indonesia dari pihak Jepang, Pemerintah Indonesia saat itu mengeluarkan maklumat yang mengatakan bahwa bendera Sang Saka Merah Putih agar terus dikibarkan ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk Surabaya.

Namun demikian, pada 18 September 1945 sekelompok masyarakat Belanda yang dipimpin oleh Mr. Ploegman mengibarkan bendera Belanda tanpa persetujuan dari Pemerintah Indonesia Daerah Surabaya, hal ini tentu saja menyulut amarah warga Surabaya yang menganggap apa yang dilakukan oleh Mr. Ploegman merupakan penghinaan terhadap kemerdekaan Indonesia yang baru saja diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Mr. Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dari Hotel Yamato, tentu hal ini membuat geram rakyat Surabaya. Setelah diadakannya perundingan yang mengakibatkan tewasnya Mr. Ploegman, kemudian terjadi baku tembak antara masyarakat Indonesia dengan tentara Inggris yang berlangsung pada 27 Oktober 1945.

Peperangan ini melibatkan masyarakat Indonesia dengan tentara Inggris berlangsung hari demi hari sampai ditandatanganinya gencatan senjata antara kedua belah pihak pada 29 Oktober 1945, keadaan sempat mereda dan puncaknya berlanjut hingga 10 November 1945.

Peran Pemuda

Peristiwa 10 November 1945 tidak lepas dari peran penting sosok muda yang dengan lantangnya menyerukan orasi melalui radio. Siaran Bung Tomo melanglang ke berbagai radio di Surabaya. Buku Indonesia dalam Arus Sejarah Edisi ke-6 menjelaskan, siaran Bung Tomo selalu dibuka dengan “Allahu Akbar! Allahu Akbar!”, yang berhasil menggerakan hati warga, terutama masyarakat santri di Surabaya kala itu.

Pekik takbir dan orasi penyemangat oleh Bung Tomo dibarengi dengan Resolusi Jihad yang dideklarasikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 yang menyeru perlawanan terhadap penjajahan. Orasi menggelegar itu lah yang akhirnya mampu membangkitkan para pemuda, santri, dan warga Surabaya untuk melawan tentara Inggris hingga menewaskan pimpinan perang AWS Mallaby.

Sejarah mencatat, bahwa kontribusi pemuda sangatlah penting dan dibutuhkan oleh bangsa ini. Tentunya bukan pemuda kaleng-kaleng yang bisa membawa bangsa ini lebih baik dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Apalagi kita akan dihadapkan dengan bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045. Sudah menjadi hal yang pasti bahwa sebagai anak muda, penentu nasib bangsa di kemudian hari kita harus bersiap-siap diri.

Soempah Pemoeda dilaksanakan pada 28 Oktober 1928 yang dipelopori oleh pemuda-pemudi dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka berkumpul, bersatu, memiliki visi yang sama yakni Indonesia Merdeka.

Penantian itu tidaklah sebentar, lebih kurang 17 tahun lamanya hingga Indonesia akhirnya bisa menjadi negara dan bangsa yang merdeka. Kemudian ketika detik-detik proklamasi, peran pemuda juga tidak kalah pentingnya, mereka berani mendesak golongan tua untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Mampukah pemuda hari ini bersatu menggalang kekuatan untuk visi Indonesia Emas 2045 sebagaimana pemuda pada masa itu?

Pesan

Presiden Soekarno pernah mengatakan “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri”. Mungkin pada waktu itu ketika Indonesia baru merdeka, kalimat ini sulit dimengerti. Bagaimana mungkin melawan bangsa sendiri lebih sulit dari melawan penjajah. Bahkan kemungkinan melawan bangsa sendiri juga sepertinya hal yang sangat aneh.

Namun seiring berjalannya waktu, sejarah membuktikannya. Justru narasi-narasi perpecahan dan kekerasan bermula dari anak bangsa sendiri. Perbedaan yang dulunya dijadikan sebagai kekuatan untuk membangun semangat melawan penjajah, cita-cita Indonesia merdeka, dan mempertahankan kemerdekaan. Tetapi hari ini, perbedaan seolah-olah menjadi alat yang paling ampuh untuk memecah belah antar anak bangsa dari suku, agama, ras, dan antar golongan yang berbeda.

Perbedaan menjadi dua mata pisau yang bisa menyatukan, kadang juga bisa memisahkan. Di Hari Pahlawan ini, marilah kita sejenak merefleksikan diri, mengheningkan cipta seraya berdoa untuk para pahlawan yang telah memperjuangkan negara ini untuk anak dan cucunya. Di atas semua perbedaan itu, mereka mampu bersatu menggalang kekuatan untuk cita-cita mulia, yakni Indonesia yang bebas dari penjajahan.

Negara ini berdiri di atas perbedaan-perbedaan, satu sama lain saling memahami dan saling mengerti. Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Generasi muda hari ini wajib mengetahui sejarahnya agar tidak mudah untuk dipecah belah antar anak bangsa. Kesatuan dan persatuan yang telah dirajut oleh founding fathers kita, sudah semestinya kita rawat dan jaga dengan sebaik mungkin.

Abdul Rasyid
Milenial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.