Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Hari Ibu Tak Sekadar Cokelat dan Bunga Mawar

Melacak Inferioritas Rasial Bangsa Kita dari Orientalisme

Masih segar di ingatan kita bahwa media-media arus utama beberapa waktu lalu “membombardir” linimasa  masyarakat digital dengan komodifikasi pernikahan lintas-ras antara surfer asal Magelang...

Khazanah Pemikiran Islam Obama

Barack Hussein Obama merupakan presiden Amerika Serikat ke-44 yang sangat fenomenal di era pencalonannya sebagai capres pada saat itu. Sebelum mencalonkan diri sebagai presiden...

Amien Rais Minta Dukungan FPI, Rizieq Shihab Siap (Fiksi)

Dikecam habis-habisan seputar pernyataannya tentang tuhan malu, Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais melakukan klarifikasi melalui akun Instagram amienraisofficial. Amien menyebut dia...

Jalan Terjal Penuntasan BLBI

Keputusan Mahkamah Agung melepaskan Syafruddin Arsyad Temenggung, terdakwa kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) menimbulkan kekecewaan di kalangan masyarakat dan pegiat antikorupsi. Kekecewaan ini tentu...
Belia Ayu
Ketua Bidang Immawati IMM Renaissance FISIP UMM Periode 2018-2019

Hari ibu biasa kita kenal dengan sebuah momen untuk mengungkapkan dan mencurahkan segala bentuk kasih sayang berupa ucapan kepada ibu. Hal tersebut merupakan wujud kasat mata penghargaan tentang peranan seorang ibu yang telah intens keluarga. Kasih ibu sepanjang masa, begitu kira-kira kalimat yang sering kita dengar jika berada pada momen “kangen” ibu.

Kita sadari bahwa ibu tak pernah berhenti berdoa dan tentu melakukan segalanya dengan baik demi anaknya. Sejak dalam kandungan hingga mampu berpikir tentang yang terbaik bagi diri sendiri, anak tak pernah terlepas dari kasih seorang Ibu. Pemaknaan hari Ibu sebenarnya tidak sesederhana itu. Lalu seperti apa?

Ditetapkannya hari ibu sebenarnya untuk mengenang dan menghargai sekaligus merefleksikan perjuangan kaum perempuan kala itu. Peringatan tersebut ditujukan bukan hanya untuk mengenang jasa perempuan yang disebut ibu. Namun perempuan secara keseluruhan. Mereka yang memperjuangkan adalah kaum perempuan yang juga ambil andil dalam perebutan kemerdekaan Indonesia bersama laki-laki.

Semuanya berawal dari perjuangan kaum perempuan pada zaman kolonialisme Belanda. Perjuangan perempuan dimulai dengan gerakan individu lalu disusul oleh gerakan kolektiv melalui organisasi–organisasi yang sifatnya masih kedaerahan. Hal tersebut didasari oleh permasalahan yang berbeda-beda di setiap daerah. Maka dari itu hampir setiap daerah mempunyai gerakan kolektiv perempuan.

Seperti yang sudah dibayangkan, maka organisasi-organisasi yang bersifat kedaerahan tentu saja akan bergerak sendiri-sendiri. Pada tahun 1928 tepat pada 22 Desember hingga 25 Desember diadakan Kongres Perempuan Indonesia (KPI). Organisasi–organisasi yang bersifat kedaerahan dan masih bergerak sendiri–sendiri dikumpulkan menjadi satu forum. Kongres Perempuan Indonesia pertama diinisiasi oleh tujuh organisasi perempuan mapan Indonesia. Wanita Utomo, Wanita Taman Siswa, Putri Indonesia, Aisyiyah, Jong Islaminten Bon Bagian Wanita, Wanita Katolik dan Jong Java Bagian.

Kongres Perempuan tersebut berlangsung selama 4 hari dari tanggal 22-25 Desember 1928 di Pendopo Joyodipuran, Yogyakarta. Dari Kongres Perempuan Pertama dibahaslah isu–isu terkait pendidikan yang kala itu lebih condong untuk laki- laki. Perempuan pun juga memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dalam hal pendidikan.

Isu yang kedua adalah terkait perkawinan, menginginkan pencegahan perkawinan terhadap anak. Kondisi objektif saat itu perempuan anak-anak atau setidaknya umur sembilan tahun sudah dipingit untuk dinikahkan. Saat itu, perempuan hanya ditempatkan pada ranah-ranah domestik seperti memasak dan membersihkan rumah. Padahal tidak pernah ada pembedaan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan yang demikian.

Dirasa tak cukup sekali kongres untuk menanggapi isu–isu kaum perempuan, dilaksanakanlah lagi Kongres Perempuan  Indonesia yang ke dua pada tanggal 20 hingga 24 Juli 1935 yang dilaksanakan di Jakarta. Kongres Perempuan Indonesia kedua ini dipimpin oleh Ny. Sri Mangoensarkoro. Adanya kongres kedua ini untuk mempererat organisasi –organisasi perempuan dan membahas lebih mendalam terkait nasib kaum perempuan.  Banyak dialektika yang terjadi di kongres perempuan tersebut sehingga menghasikan beberapa keputusan terkait pemberantasan buta huruf terhadap kaum perempuan.

Selain itu perempuan diharapkan menjadi Ibu bangsa. Artinya adalah menjadi seorang ibu yang mampu melahirkan generasi berikutnya untuk Indonesia. Tentu generasi yang tertanam jiwa nasioanlis dan kesatuan serta persatuan untuk memerdekakan Indonesia utama memerdekakan Indonesia dari penjajah kolonial.

Karena masih dirasa masih ada beberapa hal yang mesti dibahas lebih detail, dilanjutkanlah Kongres Perempuan Indonesia ketiga. Hasilnya yakni terus melanjutkan perjuangan pemberantasan buta huruf.

Selain itu, kondisi perempuan saat itu bisa dipilih diparlemen tetapi tidak memiliki hak pilih. Hal tersebut juga membuat perempuan–perempuan yang ada di KPI berjuang untuk mendapatkan hak pilih bagi perempuan. Untuk mewujudkan itu dibentuklah Komite Perlindugan Perempuan dan Anak Indonesia (KPKPAI).

Selanjutnya juga pembahasan terkait kaum buruh perempuan Indonesia dan penetapan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu. Penetapan tersebut adalah doa dan harapan perempuan KPI untuk hidup perempuan Indonesia yang lebih baik kedepan. Hal ini sangat jelas, bahwa hari Ibu bukan saja untuk mengenang dan momen menghargai jasa Ibu. Namun juga seluruh perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak dan agar dapat menjalankan kewajibannya di kehidupan sosial.

Hari ini, perempuan dapat mengenyam pendidikan yang setara dengan laki-laki, perempuan dapat menjadi partner dalam setiap bidang pekerjaan adalah berkat perjuangan kesadaran. Bilmana tidak ada orang-orang yang ingin sadar dan bersuara tentang perempuan, maka tak akan ada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang kita rasakan seperti hari ini.

Peringatan hari ibu tak tepat bila hanya diperingati untuk mengenang jasa ibu. Namun, hari ibu adalah titik rutin yang kita temui setiap tahun untuk bersama-sama sadar akan hak dan kewajiban sebagai penggerak bangsa Indonesia. Kesadaran memahami hak antar laki-laki dan perempuan tak selayaknya hanya dipahami perempuan. Laki-laki juga perlu paham, agar praktek patriarki tak mengakar kuat dan dapat tumbang suatu saat nanti. Selamat Hari Ibu, Jaya!

Belia Ayu
Ketua Bidang Immawati IMM Renaissance FISIP UMM Periode 2018-2019
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.