Selasa, Maret 2, 2021

Hari Guru Nasional dan Perhatian Pemerintah

Freeport Di Mata Rocky Gerung, Profesor Ahli Kedunguan

Gambar di atas mungkin bagi sebagian orang dianggap lucu. Bagi saya, bila Rocky Gerung berpendapat begini, saya menyatakan bahwa Rocky Gerung benar-benar merupakan seorang...

Pilpres 2019 Demokrasi Zonder Literasi

Ibarat menyaksikan pementasan drama, jalan cerita menuju Pilpres 2019 terasa makin hambar, membosankan, bahkan menjengkelkan. Narasi yang disuguhkan ke hadapan rakyat sebagai pemilih, masih...

Timnas Kita Kalah Adu Strategi

Tim sepak bola Nasional Indonesia U-23 bertanding kembali dengan tim Nasional Vietnam dalam babak final di ajang SEA Games 2019 di Stadion Rizal Memorial,...

Negeri “Liga Settingan”

Sebagai penikmat bola khususnya zona lokal, saya sangat gembira sekali melihat begitu tinggi tingkat animo suporter Indonesia. Bahkan, dalam skala liga nusantara saja para...
Aziz Muhtasyam
Penulis yang bernama lengkap Aziz Muhtasyam dilahirkan di Jakarta pada tanggal 28 Februari 1993. Penulis saat ini bertugas sebagai Guru Matematika pada MAN 2 Pandeglang. Untuk berinteraksi dengan penulis, dapat menghubungi Email azizmu2802@gmail.com serta Whatsapp di nomor 0857-1016-6782.

Masyarakat Indonesia sedang merayakan hari guru nasional 2019 yang jatuh tepat pada hari senin, tanggal 25 November 2019. Banyak cara untuk merayakan hari guru nasional, mulai dari upacara seremonial memperingati hari guru nasional, memotong tumpeng, hingga mengadakan beberapa kegiatan perlombaan di Sekolah. Semua dilakukan dengan perasaan senang dan bahagia.

Tak lupa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, memberikan teks pidato menteri pendidikan dan kebudayaan yang dibacakan dalam upacara bendera peringatan hari guru nasional tahun 2019 di setiap Sekolah. Beberapa arahan disampaikan Menteri Nadiem dalam teks pidato tersebut, yang terkesan menggembirakan para guru di Indonesia.

Namun dibalik euforia peringatan hari guru nasional tersebut, masih terdapat beberapa masalah pendidikan khususnya terkait guru yang mestinya menjadi perhatian pemerintah. Salah satu masalah yang mungkin terdengar klasik adalah kesejahteraan guru. Guru yang disebut awal dan akhir dari setiap perubahan dalam pidato Menteri Nadiem, belum diperhatikan dari segi kesejahteraan terlebih khusus kesejahteraan bagi guru honorer.

Guru honorer yang jumlahnya tak sedikit masih banyak mengeluh terkait kesejahteraannya. Terdapat kesenjangan sosial antara guru honorer yang memiliki tugas dan beban kerja tidak jauh berbeda dengan guru PNS.

Kesenjangan tersebut perdah dilontarkan oleh Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim, menurutnya kesenjangan tersebut sangatlah jelas dipertontonkan oleh pemerintah. Guru honorer yang memiliki tugas setara dengan guru PNS hanya diberikan Rp 100.000 per bulan yang sangat tidak manusiawi. (jpnn.com)

Sebelumnya pemerintah telah memiliki itikad baik untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer melalui rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Namun lagi-lagi itu hanya seperti angin surga bagi guru honorer yang telah dinyatakan lulus tes rekrutmen PPPK, pasalnya 50 ribuan honorer K2 belum mendapat kejelasan setelah hampir 9 bulan dinyatakan lulus.

Perkumpulan Honorer K2 Indonesia (PHK2I) telah mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan Perpres tentang jabatan PPPK, namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut dengan alasan belum ada aturan pendukung. (cnnindonesia.com)

Alih-alih menyelesaikan permasalahan tersebut, pemerintah malah membuka rekrutmen CPNS 2019 yang sebagian besarnya adalah formasi guru. Dengan adanya puluhan ribu guru honorer yang belum mendapat kejelasan, apakah tepat keputusan untuk merekrut CPNS formasi guru?

Ramli, Ketua IGI, menilai hal ini membuat resah para guru yang statusnya tak jelas karena sangat berpotensi digeser oleh para CPNS. Menurutnya, jika Menteri Nadiem tidak sanggup menuntaskan masalah guru, maka jangan berharap pendidikan Indonesia akan lebih baik. (liputan6.com)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baru, Nadiem Makarim, melalui pidatonya telah membangkitkan harapan kebanyakan guru di Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Semoga harapan ini terus terjaga asanya dan ditangan menteri yang baru arah kebijakan pemerintah terhadap pendidikan di Indonesia semakin membaik dan tentunya dapat menyelesaikan masalah-masalah guru yang ada.

Aziz Muhtasyam
Penulis yang bernama lengkap Aziz Muhtasyam dilahirkan di Jakarta pada tanggal 28 Februari 1993. Penulis saat ini bertugas sebagai Guru Matematika pada MAN 2 Pandeglang. Untuk berinteraksi dengan penulis, dapat menghubungi Email azizmu2802@gmail.com serta Whatsapp di nomor 0857-1016-6782.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.