OUR NETWORK

Hari Guru dan Strategi Mendikbud Pak Nadiem

Nadiem Makarim dalam pidato tersebut sepertinya tahu kalau para siswa-siswi yang upacara bendera justru akan senang dengan pidato tipis yang akan dibacakan oleh setiap kepala sekolah, namun walaupun tipis isi dari pidatonya sungguh sangat menarik.

Hari guru yang akan dirayakan tanggal 25 November 2019 memiliki pidato menteri yang tebalnya hanya 2 halaman. Nadiem Makarim dalam pidato tersebut sepertinya tahu kalau para siswa-siswi yang upacara bendera justru akan senang dengan pidato tipis yang akan dibacakan oleh setiap kepala sekolah, namun walaupun tipis isi dari pidatonya sungguh sangat menarik.

Hal pertama yang membuat saya gembira adalah adanya setiap salam keagamaan dalam pidato tersebut. Mulai dari salam Agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, dan salam nasional kita “Selamat Pagi”.

Di sini menteri pendidikan sepertinya ingin mengatakan bahwa pendidikan tersebut harus dinikmati oleh semua kalangan tanpa mengenal apapun latar belakang mereka, karena seluruh generasi pelajar saat ini adalah tulang punggung negara pada saat mereka besar nantinya.

Menanamkan jiwa kebersamaan dalam perbedaan ini sungguh sangat penting di era sekarang ini, karena dengan adanya sosial media yang sungguh memudahkan kita untuk beropini di internet sulit untuk menyaring mana yang positif dan mana yang negatif.

Pada bagian pembuka dari pidato ini Nadiem Makarim berempati dengan para guru yang sedang berjuang memajukan pendidikan di Indonesia dari Sabang Sampai Merauke. Beliau berargumen bahwa guru terpaksa untuk mengandalkan hasil ujian sebagai tolak ukur kepandaian siswa-siswinya, padahal ada beberapa orang yang memiliki kemampuan diluar pelajaran.

Paksaan ini membuat sekolah berusaha keras membuat siswanya untuk mendapatkan nilai tinggi bagaimanapun caranya, bahkan dengan membebankan mereka dengan jam belajar tambahan setelah jam sekolah.

Sistem pendidikan indonesia yang menitikberatkan pada kemampuan menghafal murid juga menurut beliau sudah kurang relevan pada jaman teknologi seperti sekarang ini. Pada zaman modern ini, kemampuan mengingat sudah digantikan dengan Google, bahkan revolusi industri 4.0 yang sering digaungkan dengan semangat oleh berbagai pihak mengedepankan penggunaan teknologi dalam kegiatan sehari-hari.

Kata-kata “saya tidak akan membuat janji kosong” pada pidato menteri pendidikan ini sungguh menggelitik saya. Di sini seolah-olah mengatakan bahwa pidato menteri sebelumnya membuat janji kosong, suatu hal yang sangat berani untuk dituangkan pada pidato yang akan dibacakan pada saat upacara bendera di setiap sekolah dari Sabang sampai Merauke.

Strategi pendidikan yang akan beliau laksanakan ternyata menghimbau para guru untuk melakukan perubahan pada cara mereka mengajar dikelas. Para guru dianjurkan untuk melakukan diskusi dan memberi kesempatan murid mengajar dikelas.

Di atas kertas, anjuran ini sungguh terlihat luar biasa, namun dalam praktenya mengembangakan diskusi di kelas sungguh sulit, karena murid terbiasa untuk mendengarkan ceramah dari gurunya dan mengemukakan hanya apa yang ada di buku pelajaran mereka.

Jika di kelas diwajibkan untuk diskusi dan mengajar, justru ini akan kontra produktif dengan memberikan kesempatan bagi para siswa untuk berkembang sesuai dengan bakat masing-masing karena ini akan mendorong siswa untuk semakin menghafal dan penghafal terbaik adalah yang akan menjadi siswa teladan.

Mencetuskan proyek bakti sosial mungkin merupakan anjuran terbaik yang saya lihat pada pidato ini. Jika siswa dilatih dari dini untuk melakukan bakti sosial dan membuat susunan panitia diantara mereka ini akan mengembangkan kemampuan berorganisasi dan soft skill, sesuatu yang sangat mereka butuhkan di dunia kerja.

Jika proyek bakti sosial ini sukses juga akan memberikan pengalaman tak terlupakan dari para siswa yang akan mereka kenang sepanjang hidup merka. Tugas ini akan melatih mereka untuk membuat sebuah keputusan dan menanggung konsekuensinya, sehingga guru harus mengawasi agar mereka melakukannya dalam koridor yang aman.

Menemukan bakat dan mengembangkan bakat siswa adalah hal tersulit yang mungkin bisa dilakukan oleh seorang guru. Guru bukanlah manusia super yang mengetahui segalanya, biasanya guru hanya mengetahui salah satu mata pelajaran dan hanya tau sedikit mengenai hal lain.

Jika ada seorang murid yang memiliki bakat menyanyi, sepertinya guru di sekolah negeri akan kesulitan untuk mengembangkan bakat tersebut karena baakt tersbut sangat langka dan tidak diuji pada ujian nasional.

Pada dasarnya guru itu adalah manusia yang memiliki kebutuhan dalam hidupnnya dan sekolah adalah tempat ia bekerja untuk mendapatkan nafkah. Jika guru di sekolah tersebut mengembangkan pendidikan seperti yang tertuang dalam pidato, mungkin siswa-siswinya akan sangat gembira dalam proses belajarnya.

Namun ketika ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi, siswa-siswi di sekolah tersebut akan dikalahkan oleh sekolah lain yang mengajar sesuai dengan sistem yang mengedepankan penghafalan dibanding kemampuan analitik. Hal ini akan mengakibatkan nama sekolah jelek karena sedikit yang lolos masuk perguruan tinggi favorit dan kemungkinan penghasilan dari para guru akan menurun.

Langkah yang dilakukan oleh Nadiem Makarim yang mengedepankan pengembangan kemampuan di setiap murid hanya akan berhasil jika ia mampu menetapkan mindset bahwa setiap orang bisa sukses dimanapun ia bekerja.

Pemerintah juga perlu mensosialisasikan mengenai sekolah khusus seperti sekolah seni untuk melatih seseorang menjadi pelukis, penyanyi atau pemahat dan memastikan bahwa tidak ada stigma negatif pada sekolah itu.

Jika anggapan masyarakat masih mengutamakan orang sukses adalah orang yang bekerja di ruang ber-ac dibelakang meja, dan menganggap montir sebgai pekerjaan kasar untuk orang yang tidak sukses, maka pidato ini hanya merupakan angan-angan yang susah untuk dicapai.

Mahasiswa DIV Politeknik Keuangan Negara STAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.