Senin, April 12, 2021

Harga Barang Naik, Fenomena Tahunan Ramadhan

Kartun dan Pendidikan Anak

Di zaman era digital seperti sekarang ini, perkembangan media sudah semakin maju dan pesat. Sehingga berbagai informasi mudah didapat pada zaman ini, disebabkan oleh...

Diaspora dan Keragaman, Dua Hal Pelestari Bahasa Jawa

Bahasa Indonesia lahir pada 28 Oktober 1928 melalui kongres Sumpah Pemuda. Butir ketiga Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan...

“Bumi Datar” dan Pesan Singkat

Tulisan ini bukan sedang membicarakan Bumi Datar dalam teori konspirasinya Eric Dubay (The Flat-Earth Conspiracy). Tulisan ini akan membicarakan "Bumi Datar" (red Dunia Datar...

Banjir Jabodetabek, Inkonsistensi Aktor Politik

Sikap optimisme menyongsong tahun 2020 menjadi slogan yang sering kita baca atau kita dengar ketika menjelang pergantian tahun. Namun ketika kejadian yang muncul di...
junaidihamid1
Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN

Tak sedikit orang yang sangat menantikan bulan penuh berkah ini. Keimanan para umat Muslim biasanya akan meningkat di bulan Ramadhan, namun bukan hanya keimanan saja yang meningkat, tetapi kebutuhan hidup juga ikut meningkat di bulan Ramadhan, terutama kebutuhan akan makanan dan minuman.

Pedagang makanan menjelang berbuka puasa bertaburan di mana-mana, pedagang minuman menghiasi trotoar jalanan. Jalanan yang biasanya sepi akan pedagang seketika berubah seperti menjadi bazar makanan dan minuman saat bulan Ramadhan.

Sehingga kenaikan harga barang saat menjelang bulan Ramdhan sampai dengan saat menjelang Hari Raya Idul Fitri, bak fenomena tahunan yang kerap terjadi di Indonesia. Lalu, kenapa harga-harga bisa ikut naik?

Kenaikan harga barang ketika bulan Ramadhan ini terjadi karena meningkatnya kebutuhan akan makanan dan minuman yang tidak diimbangi dengan kenaikan jumlah pasokan yang disediakan untuk diperdagangkan ke masyarakat.

Secara hukum ekonomi, ketika permintaan yang dibutuhkan rumah tangga (masyrakat) melebihi penawaran maka harga keseimbangan di pasar akan naik di atas harga biasanya. Bagaimana bisa kebutuhan akan makanan dan minuman meningkat sementara saat bulan Ramadhan umat Muslim hanya makan sehari dua kali dibandingkan biasanya sehari tiga kali atau bahkan lebih?

Nafsu dan “Budaya Tahunan” adalah yang menyebabkan kebutuhan makanan dan minuman meningkat. Ketika kebutuhan akan makanan dan minuman naik, maka bahan-bahan makanan dan minuman (sembako) harganya akan beriring naik juga. Hal ini berefek tidak hanya kepada umat Muslim yang melaksanakan ibadah puasa saja, namun semua masyarakat di Indonesia baik yang Muslim ataupun tidak akan merasakan fenomena tahunan ini.

Nafsu, salah satu penyebab kenaikan harga bahan-bahan pokok ketika bulan Ramadhan. Karena ketika berpuasa biasanya orang-orang akan cenderung memiliki keinginan untuk menyantap makanan lezat dan minuman yang menyegarkan ketika berbuka puasa.

Sehingga ketika saat makan malam biasanya cukup dengan satu menu sayuran dan satu atau dua lauk, namun ketika puasa, berbuka puasa tidak cukup hanya dengan satu menu sayuran dan satu atau dua lauk.

Harus ada kue atau gorengan sebagai hidangan pembuka atau makanan ringan seperti mie dan yang lain sejenisnya. Lauknya yang biasanya cukup dengan tahu atau tempe, namun saat bulan Ramadhan kedua lauk itu menjadi tidak cukup, harus ada daging ayam, telur atau daging sapi.

Biasanya saat makan cukup hanya dengan minuman berupa air putih atau teh manis, namun saat puasa harus ada es buah, es campur atau jenis-jenis minuman manis lainnya yang menyegarkan. Sehingga harga bahan pokok untuk membuat makanan dan minuman tersebut seperti telur ayam, gula, daging ayam, daging sapi, dan bahan pokok lainnya menjadi melonjak naik dari harga biasanya.

“Budaya Tahunan”, penyebab kedua naiknya harga-harga barang terutama bahan pokok saat bulan Ramadhan. Karena terbiasa menuruti nafsu setiap bulan Ramadhan untuk membeli atau membuat lebih banyak makanan dan minuman dari biasanya, maka setiap tahun ketika bulan Ramadhan datang kebutuhan juga meningkat.

Seakan-akan ada sesuatu yang kurang jika saat bulan Ramadhan makanan dan minuman tidak lebih “mewah” dari biasanya sehingga terciptalah “Budaya Tahunan “ ini. Setiap tahun fenomena ini selalu terjadi, seolah-olah kita tidak pernah belajar dari masa lalu. Keledai saja tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Maka bagaimana cara menghentikan fenomena ini?

Jika kita kembali ke hukum ekonomi yang menyatakan harga akan naik ketika permintaan (kebutuhan masyarakat) lebih tinggi daripada penawaran. Maka ada dua peran penting di sini, yaitu peran masyarakat dari sisi permintaan dan peran pemerintah dari sisi penawaran.

Tidak semata-mata ketika terjadi kenaikan harga bahan pokok yang menjadi kambing hitam adalah pemerintah, tentu masyarakat juga memiliki peran penting di sini. Masyarakat harus lebih cerdas dan bijaksana dalam mengontrol kebutuhannya saat bulan Ramadhan, ingat yang dibutuhkan ketika bulan Ramadhan adalah meningkatkan iman bukan meningkatkan jumlah makanan.

Memasak atau membeli makanan dan minuman secukupnya saja. Jangan jadikan “bermewah-mewah” makan dan minum saat bulan Ramadhan sebagai “Budaya Tahunan” jika ingin fenomena tahunan ini tidak terus meneurus terjadi.

Pemerintah harus mampu memastikan kecukupan kebutuhan ketika bulan Ramadhan melalui regulasi-regulasi yang diperlukan untuk meningkatkan angka penawaran sehingga angka permintaan tidak melebihi angka penawaran. “Pedagang nakal” yang mampu mengontrol harga pasar harus bisa ditangani oleh pemerintah agar harga barang di pasar tetap stabil.

Jumlah permintaan akan kebutuhan pokok pasti akan mengalami peningkatan ketika bulan Ramadhan, mengingat jumlah umat Muslim yang sangat banyak di Indonesia. Namun dengan mengontrol kebutuhan akan sangat membantu untuk menekan peningkatan angka permintaan di pasar.

Sehingga permintaan akan bahan pokok meningkat, namun peningkatannya tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan hari-hari biasa. Tentu hal ini juga harus diimbangi dengan peningkatan jumlah pasokan bahan pokok makanan oleh pemerintah yang bekerja sama dengan pemasok bahan pokok, sehingga angka penawaran di pasar dapat menyeimbangi angka permintaan dan untuk menyeimbangi peningkatan angka permintaan tersebut tidak dibutuhkan peningkatan penawaran yang terlalu besar karena permintaan yang telah terkontrol oleh masyarakat.

Pada dasarnya jika masyarakat dan pemerintah dapat bekerja sama untuk menanggulangi fenomena tahunan ini, maka fenomena ini bisa saja tidak terulang setiap tahunnya. Hanya ada dua pilihan yang dapat kita lakukan sebagai masyarakat yang cerdas, belanja secara bijakasana selama bulan Ramadhan atau mempersiapkan ekonomi yang lebih selama bulan Ramadhan.

 

junaidihamid1
Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.