Jumat, Januari 15, 2021

Hardiknas: Menyikapi Moralitas Guru

Polemik Pemilihan Presiden yang Tak Kunjung Tuntas

Pemilihan Umum terkait kursi pemimpin negeri Republik Indonesia periode 2019-2024, pemilihan kepala daerah tingkat provinsi dan kota, DPR RI hingga DPD RI telah dilakukan...

Menyoroti Pernikahan Dini

Terjadi kembali pernikahan anak usia dibawah umur  pada 1 Mei 2019 di Sulawesi Selatan. Satu bulan sebelumnya, hal serupa juga terjadi di provinsi yang...

Memilih Berdaulat Dengan Prinsip Pancasila

Dewasa ini kita telah disuguhkan bagaimana riuhnya suasana menjelang Pemilu 2019, mulai dari deretan kampanye masing-masing calon ,hingga debat-debat yang terjadi di dunia maya...

Politik Sekolahan dan Minimnya Pendidikan Politik

Nelty Khairiyah, guru SMA Negeri 87 Jakarta Selatan beberapa waktu lalu menggemparkan dunia pendidikan Indonesia. Dugaan mengenai doktrin politik yang disampaikannya di dalam kegiatan...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Anda tentu masih ingat kasus seorang oknum guru di SD 104302 Cempeda Lobang, Kecamatan Sei Rempah, Kabupaten Serdang, Sumatera Utara yang menghukum siswanya untuk menjilat kloset kamar mandi sekolah, karena sang siswa tidak membawa tugas yang diperintahkan berupa tanah subur (kompos).

“Mulai hari ini, oknum guru tersebut sudah dimutasikan ke sekolah lain,” kata Kabid Pembinaan Dinas Pendidikan Serdang Bedagai, Joni Lukman, kepada pers di ruang kerjanya, Jalan Negara Sei Rampah, Kamis 15 Maret 2018 lalu.

Kasus guru lainnya yang juga tak kalah hebohnya ialah seorang oknum guru yang menampar muridnya di Purwokerto. Video penamparan itu sempat viral di sosial media dan mendapat kecaman keras publik.

“Ini benar-benar di luar dugaan, sebuah pembelajaran bagi kami,” ujar Wakil Kesiswaan SMK Kesatrian Purwokerto, Inayah Rahmawati kepada wartawan, Kamis 19 Maret 2018 lalu.

Kebejadan moral seorang guru semakin lengkap dengan adanya kasus pelecehan seks yang dilakukan guru terhadap siswi kelas 2 di sekolah menengah kejuruan di Karawang, Jawa Barat, tahun 2014 lalu. Perbuatan bejadnya itu dilakukan selama setahun. “Saya disetubuhi sejak kelas satu,” ujar korban saat mendatangi Mapolres Karawang untuk melapor. Korban mengatakan bahwa untuk menutupi kejahatan seksnya, guru itu terus mengancamnya.

Moral guru dalam dunia pendidikan nasional sungguh semakin memprihatinkan, kalau kita berkaca terhadap tiga kasus di atas. Saat ini, sebagian besar orang tua siswa merasa was-was dan khawatir dengan keadaan anaknya di sekolah.

Di sisi lain, masih banyak sekolah yang memiliki guru-guru berkualitas dan profesional ketika mengajar. Bahkan, mereka mampu menunjukkan etika dan moralitas kepada murid-muridnya untuk diteladani.

Lantas, pertanyaannya ialah ada apa dengan moralitas guru di Indonesia? Masihkah profesi guru layak mendapat predikat sebagai pahlawan tanpa tanda jasa? Terus terang saja, secara umum saya mulai sedikit meragukan moralitas guru. Namun demikian, saya dan Anda rasanya wajib untuk berpikir jernih saat menilai kualitas seorang guru, terutama dalam soal mendidik dan membimbing siswa.

Bejadnya moral generasi muda sebuah bangsa sangat ditentukan oleh sistem pengajaran guru terhadap siswa di sekolah. Semakin baik pengajaran guru, maka moralitas dan mentalitas generasi masa depan bangsa akan semakin baik. Kurikulum pendidikan bukanlah penentu moral siswa.

Kalau cara guru mengajar dan mendidiknya buruk, maka kemungkinan besar anak didiknya bukan hanya daya intelektualnya saja yang jeblok, tetapi juga moralnya dipastikan rusak berat. Guru tidak hanya dituntut cerdas dan cerdik dalam mengajar, tetapi juga mampu menunjukkan moral yang beradab kepada siswanya. Terus, mengapa masih ada guru yang moralnya bejad?

Sekolah bonafit dengan biaya selangit bukan jamiman bisa melahirkan generasi bangsa yang berkualitas secara intelektual dan moral. Begitu juga dengan sekolah yang biasa-biasa saja alias murah meriah, belum tentu anak didiknya akan bermoral buruk dan berintelektual rendah.

Guru memainkan peran sangat penting dalam mengajar, mendidik dan membimbing anak. Seorang guru tidak cukup hanya memiliki kualitas intelektual semata, tetapi juga dituntut untuk mempunyai kualitas moral, mental, spiritual dan etika yang baik. Guru bukan hanya berfungsi mengajar ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing mental dan moral siswa.

Di Indonesia, umumnya kualitas intelektual seorang siswa ditentukan oleh prestasi akademik dalam wujud penilaian angka-angka. Selama ini, guru-guru di sekolah lebih banyak memberi perhatian dan mengutamakan kualitas intelektual siswa semata. Sedangkan, pembinaan moral, mental dan etika siswa seringkali diabaikan. Maka, tak heran kalau generasi muda masa depan bangsa banyak yang pintar, tetapi bermoral dan bermental bejad.

Tentunya dalam membimbing moral dan mental siswa, guru tidak hanya melulu berteori, tetapi juga harus memberi contoh kongkret agar bisa ditiru siswa. Tujuannya agar siswa bukan cuma hebat secara intelektual, tetapi juga memiliki kualitas moral, mental yang baik. Saya percaya, di Indonesia masih banyak guru yang bermoral dan beradab. Tetapi, tidak sedikit juga guru yang bermoral bejad masih tetap mengajar di sekolah. Bagaimana moral guru anak Anda di sekolah? Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2018.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.