Rabu, Desember 2, 2020

Hanya untuk Satu Kata, “Pulang”

Nurdin Abdullah; Pemimpin Berkelas yang Patut Diteladani

Nama Nurdin Abdullah menguat. Ia mengungguli nama-nama kandidat lain sebagai calon gubernur Sulawesi Selatan. Darimana data ini diperoleh?Antara 11 September – 11 Oktober 2015,...

Dilema Pekerja Lembaga Sosial

Segala keterbatasan memang sungguh menjadi suasana dilematis dalam menjalani hidup di situasi zaman yang serba modern saat ini. Manusia saat ini dipertontonkan dengan cepat...

Dilema Masa Depan Pemberantasan Korupsi

Beberapa hari ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang menjadi sorotan publik. Ada optimisme, ada pula pesimisme menyelimuti berbagai wacana mengenai masa depan lembaga anti...

Tatkala Realisme Memandang IMF [II]

Tulisan pertama bisa klik di sini. Asumsi realis mendapatkan dukungan dari beberapa peneliti yang fokus mengkaji terkait lembaga moneter internasional tersebut. Misalnya saja seperti...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Ramadhan hampir usai, Hari Kemenangan kian dekat. Setelah hampir sebulan penuh ditempa dan dibina, sudah saatnya umat muslim merayakan hari kemenangan. Kemenangan atas perjuangan melawan hawa nafsu dan kenikmatan dunia yang melenakan. Perjuangan demi mendapatkan ampunan serta memperbanyak amal untuk belal menuju dunia setelah datangnya kematian.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, semakin dekatnya Hari Kemanangan ditandai dengan berbagai hal. Siaran berita dipenuhi dengan tagar Mudik Lebaran 2019. Sebuah tradisi yang sudah mendarah daging di tengah masyarakat Indonesia. Tradisi di mana berjuta manusia akan merayakan hari kemenangan di kampung halaman. Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi bahkan memperkirakan jumlah pemudik tahun ini akan mencapai angka 22 Juta orang. Jumlah yang tentu tidak sedikit.

Berjuta orang itu berjejal di Terminal, di Bandara, dan di Stasiun . Berjuta kendaraan juga mengular di sepanjang jalan tol yang kian meroket tarifnya. Hal yang wajar mengingat tidak sedikit pemudik beralih ke mobil pribadi setelah harga tiket Pesawat kian melambung tinggi.

Tidak hanya lonjakan manusia, kebutuhan uang menjelang lebaran juga tidak mau ketinggalan ikut bergeliat. Dilansir dari bisnis.com (27/5/19), Bank Indonesia pun telah memprediksi peningkatan kebutuhan uang selama masa libur Idul fitri sebesar Rp217,1 triliun atau naik sebesar 13,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Prediksi itu terbukti dengan ramainya tempat perbelanjaan, pasar tradisional, toko perhiasan dan juga tempat pegadaian. Kenaikan harga pangan tidak menyurutkan niat menyambut kemenangan dengan berbagai hidangan yang nikmat. Semua disulap untuk menjadi baru: pakaian baru, perhiasan baru, dan kendaraan baru.

Bagi mereka kaum hedonis yang terjangkiti gaya hidup mewah, lebaran adalah untuk menunjukkan eksistensi diri. Memperlihatkan nilai keberhasilan material seseorang lewat penampilan yang glamor. Lebaran menjadi momen tepat untuk saling pamer dan tentu juga mengatakan, “Ini loh saya sekarang. Orang yang sukses, tidak lagi sama seperti yang dulu.”

Hanya untuk satu kata, “Pulang”

Bagi berjuta orang lainnya, yang tidak bisa hidup bermewah-mewahan, tentu beda lagi. Mereka rela berdesak-desakan, berkucur keringat di jalan hanya untuk satu kata, “Pulang.” Sebuah kata yang menembus ruang dan waktu. Tidak hanya sebatas rindu kepada kampung halaman atau sekedar kembali ke tempat di mana bumi pertama kali dipijak. Pulang juga berarti kembali kepada orang tua, kepada ayah dan bunda yang menunggu dengan penuh harap-harap cemas.

Mereka tidak disibukkan untuk memperlihatkan penampilan mewah, tidak pula disibukkan mempersiapkan tumpukan oleh-oleh, bagi mereka, membawa kefitrahan lahir dan batin sudahlah cukup. Asal datang dengan badan yang utuh serta nafas yang masih berembus.

Sesampainya di kampung halaman, memeluk orang tua adalah hal pertama yang akan mereka lakukan. Memohon maaf atas segala kesalahan serta kekhilafan. Mengentaskan kerinduan di tanah perantauan. Begitulah mereka yang menjadikan hari kemenangan hanya untuk satu kata, “Pulang”.

Meminjam istilah budayawan Cak Nun, “Kita baru bisa merayakan atau ber-Hari Raya. Belum mampu untuk masuk pada wilayah ber-Idul Fitri. Karena itu, baru sebatas merayakan, maka yang ada hanya nafsu dan kenikmatan.”

Bagi mereka yang menjadikan lebaran hanya untuk satu kata, “Pulang”, nafsu dan kenikmatan akan terganti dengan tulus keikhlasan. Mereka benar-benar ber-Idul Fitri dan tidak sebatas merayakan Hari Idul Fitri. Maka berbahagialah mereka menjadi orang-orang yang bersyukur dan bertafakur. Satu bulan perjuangan sekaligus peperangan melawan hawa nafsu berhasil dimenangkan dan saatnya mengecap kemenangan itu dengan satu kata, “Pulang.”

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.