Sabtu, Oktober 31, 2020

Halal Bihalal, Setelah Ketupat dan Idul Fitri

Prabowo Subianto dan Reuni 212

"Ada 8 juta umat muslim yang ikut dalam Reuni Alumni 212 di Monas, ujar Novel Bakmukmin. Reuni Alumni 212 kali ini berada dalam posisi...

Merawat Toleransi dari Pulau Bali

Konon katanya Indonesia merupakan negara majemuk yang paling demokratis, bahkan bagi para intelektual Muslim moderat seperti Nur Cholis Majid dan KH. Abdurrahman Wahid, tidak...

Identitas Mahasiswa

Mahasiswa adalah orang yang belajar di suatu Universitas, Institute, ataupun Akademi. Sedangkan menurut KBBI mahasiswa adalah seseorang yang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Beberapa...

Sayap Kecil di Kaki Anak-anak

Konon, di kota, anak acapkali terbaca sebagai sosok yang lekas melampaui kodratnya sebagai sosok anak-anak. Anak-anak di kota memang lebih banyak tumbuh bersama gadget,...
Abid Rohmanu
Dosen Pascasarjana IAIN Ponorogo dan Ketua PC ISNU Ponorogo

Umat Islam Indonesia sedang merayakan Idul Fitri 1440 H. Hari Raya ini sangat lekat dengan tradisi ketupat dan halal bihalal. Konon, ketupat untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Sunan Kalijaga.

Ketupat bermakna “ngaku lepat” yang bermakna “mengaku bersalah”. Makna ini disimbolisasi dalam bentuk makanan ketupat yang dihidangkan kepada tetamu atau dihantarkan kepada sanak saudara sebagai bentuk permohonan maaf. Menerima dan memakannya dimaknai sebagai penerimaan dan pemberiaan maaf.

Ketupat atau ngaku lepat ini menjadi kesadaran komunal masyarakat Jawa khususnya pada momen Idul Fitri. Maka, menjadi tradisi masyarakat ini setiap aktivitas silaturrahim yang muda selalu menyatakan ke yang tua: “ngaturaken sedoyo kalepatan”. Sebaliknya yang tua tidak kemudian merasa benar sembari menjawab: “sing tuo akeh lupute”. Dalam konteks ini orang lebih banyak berebut salah dari pada berebut benar.

Tentu harapannya, tradisi di atas tidak hanya bersifat formal tetapi menjadi kesadaran setiap individu. Bergemanya takbir sebagai tanda usainya Ramadan, bulan pelatihan ruhani, perasaan ke-aku-an dan keangkuhan tergantikan dengan perasaan kemahabesaran Tuhan.

Tidak ada yang lebih besar selain Tuhan, tidak ada yang sempurna selain Tuhan, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka memohon dan memberi maaf adalah keniscayaan yang manusiawi.

Jika berebut salah tidak hanya bersifat formal, jika berebut salah tidak saja menghiasi bulan Syawal, tentu keselamatan dan perdamaian sebagai pesan sosial Islam lebih mudah terwujud. Harus diakui, berbagai bentuk kegaduhan dan konflik sosial lebih banyak dilatarbelakangi oleh egosentrisme individu dan kelompok. Artinya individu dan kelompok lebih banyak berebut benar sembari menyalahkan individu atau kelompok lain.

Tradisi kupatan yang khas nusantara ini kemudian dikuatkan lagi dengan tradisi “halal bi halal”. Tradisi yang terakhirnya dimunculkan pertama kalinya oleh K.H. Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri NU.

Tradisi halal bi halal awal mulanya adalah bentuk rekonsiliasi politik pasca perang kemerdekaan yang kemudian bertransformasi menjadi gerakan sosial-keagamaan yang masif di Indonesia.

Nyaris tidak ada organisasi dan institusi baik formal maupun informal yg melewatkan tradisi ini. Maka, momentum halal bi halal 1440 H ini menjadi sangat strategis untuk merekatkan kembali kerenggangan sosial – politik pasca pilpres dan pileg.

Islam Akomodatif-Apresiatif terhadap Tradisi

Tradisi kupatan dan halal bihalal adalah inovasi dalam keberagamaan. Inovasi ini pararel dengan subtansi agama tentang persaudaraan dan perdamaian. Media dan sarana untuk keduanya adalah silaturahmi.

Tiada persaudaraan dan perdamaian tanpa silaturahmi. Islam menegaskan bahwa prasyarat keberimanan adalah menyambung tali silaturrahmi apapun bentuknya (man kana yu’minu billah wa al-yaumi al-akhir fal yashil rahimah). Dalam konteks hadis, Tidak tanggung-tanggung Rasul menjadikan silaturahmi sebagai prasyarat keimanan seseorang.

Substansi agama memang selalu mengambil baju budaya dan tradisi. Dialektika agama dan budaya mengajarkan tentang transformasi nilai agama dengan media budaya. Dalam sejarah pelembagaan hukum Islam misalnya, respon Islam terhadap tradisi Arab lebih banyak bersifat akomodatif-apresiatif ketimbang destruktif.

Sikap akomodatif-apresiatif Islam terhadap budaya dan tradisi bermakna penerimaan terhadapnya sembari menyempurnakan aturan-aturannya serta merubah karakter tradisi jika dinilai tidak sesuai dengan pesan inti Islam.

Berdasar hal di atas, maka pendekatan terhadap tradisi lebaran (kupatan dan halal bihalal) seyogyanya lebih bersifat subtantif, tidak semu. Ketulusan dalam meminta dan memberi maaf perlu dihadirkan dalam hati. Ketulusan ini perlu dibarengi dengan sikap tawadlu, tidak merasa lebih dari yang lain.

Berbarengan dengan ini semua sikap kesetiakawan sosial terhadap yang kurang beruntung juga perlu ditingkatkan. Sikap tabzir perlu dihindakan, dan komitmen untuk melanggengkan hablun min al-nas yang baik pasca Idul Fitri perlu ditanamkan. Semoga!

Abid Rohmanu
Dosen Pascasarjana IAIN Ponorogo dan Ketua PC ISNU Ponorogo
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.