Banner Uhamka
Kamis, September 24, 2020
Banner Uhamka

Hal Meniru Suatu Kaum

Sains, Pendidikan, dan Kekerasan Seksual

Sains dan teknologi dapat membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Kira-kira itulah esensi dari pesan Presiden Joko Widodo dalam pembukaan Indonesia Science Expo...

Calon Independen, Potensi Transaksi Atas Meja

Pada akhirnya, seluruh argumen kita tentang demokrasi substansial di tingkatan lokal akan diuji secara empirik berdasarkan pra-kondisi dan produk kepemimpinan yang dihasilkan. Asumsi dasarnya, terutama...

Dangdut di Masa Pandemi

Sebagai pecinta dangdut, pengalaman saya bergelut dengan musik tersebut tidak terjadi hanya dalam tempo sepekan dua pekan. Saya sudah diperkenalkan dengan musik dangdut sejak...

SBY dan Media Asing dengan Sejuta Taktik Politik

Saat elite partai disibukkan dengan usulan debat pilpres 2019 dengan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab, saya justru tertarik dengan isu miring tentang Susilo...
R. Widi Nugroho
Alumni Fakultas Sains & Matematika Universitas Diponegoro

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad menyatakan bahwa barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka. Bagaimana penjelasannya?

Kepada anak saya yang masih duduk di bangku sekolah, saya sering menyarankan untuk mencari teman sebanyak mungkin dan pilihlahyang menguntungkan. Teman sangat penting, terlebih karena usianya yang masih remaja di mana pandangan dan sikap hidupnya kelak akan banyak dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia sekarang bergaul.

Berteman dengan penghuni rangking 3 besar akan memacu dia untuk menjadi yang terbaik. Saya selalu tekankan kepadanya bahwa mencontek hanya buruk pada saat ujian, tetapi selain itu mencontek adalah cara cerdas untuk meraih sesuatu. Conteklah kaum penghuni 3 besar itu yaitu cara belajarnya, membagi waktu, keantusiasan dalam mengikuti pelajaran dan tentu saja bukan tas, potongan rambut, ataupun parfum yang dipakainya karena itu tak kan memberi dampak.

Di lain waktu ketika berteman dengan keturunan Tionghoa, saya segera mendorongnya untuk lebih masuk ke dalam keluarganya. Orang-orang Tionghoa biasanya sangat ulet menjalankan bisnis, selalu memperhitungkan semua pengeluaran dan karenanya kebanyakan sukses. Tapi apa rahasia dapur mereka yang sesungguhnya hanya akan terkuak jika kita masuk ke dalam lingkarannya.

Sepulang dari beberapa kali kunjungan ke rumah temannya itu, anak saya sudah pintar makan mie dengan menggunakan sumpit. Apakah kemudian ia menjadi menyerupai kaum Tionghoa, tentu saja belum. Kecuali jika nantinya ia menjadi pebisnis yang ulet maka boleh jadi itu karena berkahnya meniru keluarga Tionghoa tersebut. Tetapi dalam masalah akidah, tetaplah ia meniru bapak dan emaknya.

Bill Gates dan Imam Khomeini adalah dua orang besar dilihat dari pengaruhnya kepada dunia. Satu persamaan dari kedua orang itu adalah kedisplinan dalam urusan waktu. Bill Gates menjadwalkan seluruh kegiatannya sehari-hari dalam interval waktu 5 menit (bayangkan, sementara kita seringkali membiarkan waktu mengalir dan akhirnya terbuang sia-sia).

Adapun Imam Khomeini kesehariannya adalah seperti jam berjalan. Imam Khomeini mengatur secara rinci dan melaksanakannya secara sangat teratur aktifitas kesehariannya, sehingga orang di sekitarnya dengan melihat aktifitas yang dikerjakan beliau bisa menebak jam berapa saat itu.

Apakah kita bisa menjadi orang besar dengan meniru jeans yang dikenakan Bill Gates ataupun jubah Imam Khomeini ? Tentu tidak, melainkan harus dengan meniru hal-hal esensial yang mereka lakukan.

Gang di kampung saya banyak dihuni oleh manula. Alhamdulillah orang-orang zaman dulu tetap sehat meski sudah memasuki usia sangat senja. Bila berbincang dengan mereka, butuh kesabaran ekstra untuk mendengarkan cerita-cerita tentang masa lalu.

Hal yang wajar karena yang mereka miliki tinggal masa lalu sedangkan masa depan hanya menunggu penjemputan malaikat Izrail. Tetapi kegemaran bercerita tentang masa lalu ini tidak hanya ada di kampung.

Di zaman now, cerita model manula ini banyak dijumpai di pengajian-pengajian. Bahwa penemuan-penemuan bangsa Barat sebenarnya telah dilakukan oleh umat Islam pada zaman dahulu, bahwa peletak dasar-dasar ilmu pengetahuan yang sekarang banyak diadopsi oleh Barat adalah umat Islam, bahwa umat Islam pernah mencapai kejayaan dan menguasai peradaban dunia hingga ratusan tahun.

Apakah menceritakan zaman keemasan Islam itu sesuatu yang buruk, tentu tidak. Cerita-cerita itu akan sangat berguna bagi orang-orang yang masih ragu terhadap agama Islam. Tapi bagi mereka yang tidak ada lagi keraguan mengenai Islam, cerita-cerita itu bukanlah sesuatu yang penting. Apa yang penting adalah bagaimana menjadikan Islam sebagai jawaban terhadap tantangan zaman. Hanya kaum manula yang disibukkan dengan masa lalu.

Umat Islam itu besar tapi tambun. Terlalu banyak lemak hingga lamban. Bandingkan dengan Yahudi. Kecil, tapi lincah dan gesit. Pada tahun 2012 populasi Yahudi di dunia sekitar 15 juta orang, sedangkan Muslim mencapai 1,5 milyar orang. Meskipun jumlahnya hanya 1% dari populasi Muslim, Yahudi berhasil meraih 178 Nobel dibandingkan dengan Muslim yang baru meraih 10 Nobel sejak penghargaan Nobel diberikan pada tahun 1895. Dengan perbandingan 1 : 100 tersebut artinya 1 orang Yahudi jauh lebih efektif dan hebat dibanding 100 orang Muslim.

Satu rahasia yang bisa kita tiru dari Yahudi adalah tradisi Yahudi dalam mempersiapkan generasi penerus sejak dalam kandungan. Para ibu Yahudi begitu mendapatkan kehamilan maka segera menambah aktifitasnya dengan mengerjakan soal-soal matematika dan bermain musik. Ini dilakukan terus sampai anak yang dikandungnya lahir hingga tumbuh dewasa.

Albert Einstein, Marck Zuckerberg, Bill Gates, adalah sedikit dari contoh keturunan Yahudi yang mengubah dunia. Perusahaan teknologi seperti Google, Android, Paypal, Whatsapp, Dell, Oracle, juga didirikan orang-orang Yahudi.

Umat Islam bisa belajar dari apa yang dilakukan pendahulunya untuk mencapai kegemilangan seperti yang sering diceritakan. Zaman keemasan Islam dimulai pada dinasti Abbasiyah saat Khalifah Harun Al Rasyid mendirikan Baitul Hikmah di Bagdad dan mencapai puncak kegemilangan di tangan putranya Khalifah Al Makmun yang berkuasa pada tahun 813 – 833 M.

Baitul Hikmah adalah perpustakaan, lembaga penerjemahan, dan pusat penelitian berbagai disilplin ilmu. Baitul Hikmah menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab seperti karya-karya Aristoteles, Plato, Hippocrates, dan lain-lain. Para ilmuwan dan sastrawan tanpa memandang agamanya diundang dari seluruh penjuru untuk mengembangkan Baitul Hikmah. Segera setelah itu Baitul Hikmah menjadi kiblat ilmu pengetahuan yang melahirkan penemuan-penemuan berkelas dunia.

Keterbukaan dan rendah hati adalah kunci dalam menjawab tantangan zaman. “Hikmah itu aman bagi seorang mukmin dari manapun berasal” (Al Hadits).

R. Widi Nugroho
Alumni Fakultas Sains & Matematika Universitas Diponegoro
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

Menilik Komunikasi Publik Tokoh Politik

Komunikasi merupakan sarana yang memiliki signifikansi tinggi dalam mengkonstruksikan sebuah interaksi sosial. Hal ini dikarenakan melalui jalinan komunikasi, seseorang akan mengaktualisasikan suatu konsepsi diri...

Seharusnya Marx Menjadi PNS!

Duduk dan berbincang dengan teman-teman di warung kopi, tak lepas dengan sebatang rokok, saya bersama teman-teman lain kerap kali membicarakan dan mengolok-olok pelamar Calon...

Hubungan Hukum Agama dan Hukum Adat di Masa Kolonial

Dalam rangka memahami sistem sosial dan nilai-nilai yang berada di masyarakat, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk mengangkat seseorang penasihat untuk membantu mereka dalam mengetahui...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.