Jumat, Maret 5, 2021

Hagia Sophia dan Tirakat Terberat Umat Manusia

Merawat Keragaman Melalui Bahasa Ibu

Ali (1995:77) menyatakan bahwa bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga...

Filosofi Korupsi

Kasus Korupsi di Indonesia setiap tahunnya menjadi hal yang marak diperbincangkan. Negeri yang kaya ini terus menerus diperas oleh koruptor, dan pada akhirnya semakin...

Refleksi Haul Nurcholish Madjid XIII

29 Agustus 2005 adalah hari berkabung bagi seluruh warga bangsa Indonesia. Negeri ini, 13 tahun yang lalu telah kehilangan seorang begawan teladan, guru bangsa...

Budaya Main Hakim Sendiri

Budaya main hakim sendiri, Pada zaman sekarang ini yang seharusnya pola pemikiran masyarakat sudah terbuka dalam menyikapi suatu masalah. Namun kita masih dapat menemukan...
Ahmad Natsir
Dosen IAIN Ponorogo, Fans FP Waskita Jawi, Member Institut Kajian Agama dan Sosial (IKAS)

Suatu malam, saya membaca judul sebuah berita mengenai transformasi Hagia Sophia dari museum menuju masjid. Judulnya “Akhirnya Hagia Sophia Ditetapkan sebagai Masjid”. Mata saya tertuju kepada sebuah kata ‘akhirnya’ yang penuh dengan nuansa kelegaan, layaknya berbuka puasa sehari penuh, atau layaknya pengantin baru yang sedang memadu mesra di malam pertama setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun penantian.

‘Akhirnya’ kata itu tiba-tiba melambungkan imajinasi liar saya: “Bagaimana seandainya Hagia Sophia kembali beralih ke gereja?” Akankah kita akan mendengar juga sebuah berita mengejutkan dari ‘tetangga sebelah’: “Akhirnya Hagya Sophia Beralih Fungsi Menjadi Gereja Setelah 567 Tahun”. Diam-diam saya mempunyai kesimpulan bahwa Umat Kristiani telah ‘berpuasa’ jauh lebih lama dari Umat Islam bahkan masih berlangsung hingga sekarang.

Ah. Bicara tentang imajinasi, lagi-lagi saya terlempar kepada sebuah pengandaian yang sia-sia. Seandainya Sultan Mehmet II saat itu tidak mengalihfungsikan Hagya Sophia menjadi masjid melainkan membiarkannya begitu saja dan membuat masjid megah 1 atau 2 kilometer di sampingnya, saya meyakini dua bangunan megah itu akan menjadi monumen toleransi termegah sepanjang sejarah umat manusia. Imajinasi yang luar biasa bukan?

Entahlah, saya tidak tahu menahu urusan politik pada saat itu di belakang itu semua. Imajinasi tidak mengajarkan hal itu pada saya.

Kita tinggalkan perkara besar nan berbau politik internasional ini. Masih dengan tema tempat ibadah, saya ingin bercerita kepada pembaca kisah pembangunan musala di dusun sebelah tempat saya tinggal.

Minggu ini, dusun tetangga sebelah sedang geger. Ini gegara musala baru yang akan dibangun hanya berjarak 50 meter dari musala lama yang sudah ada. Permasalahannya cukup pelik bagi penduduk sekitar, terdapat tokoh agama beserta masyarakat yang tidak ingin bergabung dengan musala lama karena menolak direnovasi. Alhasil, para penduduk mencari dermawan yang berkenan mewakafkan tanahnya dan membangun musala baru di atasnya.

Bertambahnya Musala baru juga menandakan bertambahnya juga pengeras suara. Orang-orang suka menyebutnya dengan Toa atau speaker. Tentu pembaca bisa menebak apa yang selanjutnya terjadi.

Saya pun tinggal rumah mertua, di mana 100 meter ke arah barat rumah saya terdapat sebuah masjid tempat yang biasa kami melaksanakan ibadah salat jumat. Di belakang rumah saya terdapat musala khusus santri-santri TPA yang juga berfungsi untuk salat lima waktu.

Sebagai Muslim yang lumayan sering salat berjamaah baik di masjid maupun di musala saya menikmati azan keduanya pada lima waktu, salawatan, iqamat, ditambah lagi dengan acara khataman Alquran yang diadakan rutin satu bulan sekali.

Tapi rasa nikmat itu—saya sadari atau tidak—menghilang manakala saya, atau keluarga saya sedang sakit dan sulit tidur nyenyak manakala dua tempat ibadah itu sedang ‘unjuk gigi’ terutama saat bulan puasa.

Otak saya tiba-tiba mengingatkan saya kepada Meiliana seorang nonmuslim yang mengeluhkan volume azan yang akhirnya berakhir dengan vonis 18 bulan penjara. Mengingat hal itu, saya mengurungkan diri untuk hanya sekedar berniat menegur mereka agar mengecilkan volume pengeras suara.Tidak, saya tidak ingin menjadi Meiliana kedua, atau mengalami seperti apa yang telah dialami kakak ipar saya.

Syahdan, putri kakak ipar saya sakit panas dan sulit tidur karena terganggu dengan suara khataman Alquran yang biasa diadakan sepanjang malam bulan puasa. Tidak tahan dengan keadaan anaknya yang terus merengek, ditambah dengan desakan neneknya yang terus saja menuntut cucunya untuk segera ditenangkan, kakak ipar saya dengan terpaksa mendatangi masjid itu dan menegur dengan halus agar sang qari’ menggunakan ‘speaker dalam’.

Namun apes, yang didapatkannya adalah emosi dari sang qari’ hingga dicap sebagai—maaf—ibu setan yang kepanasan mendengar lantunan ayat suci Alquran dan di sebarkan ke warung-warung dan menjadi guneman para tetangga. Jujur saya perihatin mendengarnya.

Saya sadar betul dan saya tidak ingin mengikuti jejak langkahnya. Bersabar menerima tekanan mertua, mendengarkan tangis anak, atau menahan rasa sakit tiba-tiba menjelma menjadi solusi yang menyenangkan.

Kita para manusia memang sulit untuk tidak menjadi gagah manakala kita memenangkan segalanya. Kita berhasil mendirikan masjid atau pun musala dengan bergotong royong, setelah masjid itu berdiri dengan megahnya, kita merayakan kemenangan kita dengan mengisi masjid dengan banyak acara. Kita merasa kurang dengan satu speaker, kita tambah dua, tiga, hingga enam speaker.

Kita lantunkan ayat-ayat suci dengan suara keras agar tampak syiar-nya. Masa bodoh dengan tetangga yang sedang sakit gigi, anak-anak sedang menangis minta ditenangkan, atau para perempuan berhalangan yang bahkan dilarang melaksanakan ibadah tertentu. Sedetik pun kita tidak ingat.

Padahal pepatah luhur Jawa bilang menang tanpo ngasorake (menjadi pemenang tanpa menghinakan). Ternyata pepatah itu gampang kita ucapkan tapi sangat sulit untuk kita laksanakan.

Jika pembaca tidak keberatan, itulah tirakat paling berat umat manusia.

Boleh lah kita berhasil puasa sehari penuh, atau terjaga semalam penuh untuk bertasbih kepada-Nya. Namun apakah kita sanggup menahan perih saat karyawan seumur jagung mendapatkan promosi terlebih dahulu daripada kita karyawan senior? Atau, akankah kita rela adik kelas kita di pesantren menjadi imam salat yang disegani masyarakat?

Lebih jauh lagi, seandainya kita adalah seorang raja umat Islam dan menguasai Konstantinopel kota yang paling sulit ditaklukkan dan menemukan gereja super megah di sana, akankah kita siap untuk memilih membiarkannya dan membangun rumah ibadah sendiri yang baru?

Ah. Tidak, lupakanlah. Saya baru ingat besok ada kerja bakti mencari tanah hurug untuk pembangunan ruangan makmum putri di masjid barat rumah saya. Tentu saya akan datang.

Ahmad Natsir
Dosen IAIN Ponorogo, Fans FP Waskita Jawi, Member Institut Kajian Agama dan Sosial (IKAS)
Berita sebelumnyaAkademi Ilmu Berkuasa
Berita berikutnyaChairil di Sekitar Sjahrir
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.