Rabu, Maret 3, 2021

Haedar Nashir, Sang Peredam Badai

Sisi Ambigu dalam Pengesahan UU Ormas

Hukum atau regulasi seolah masih menjadi satu alat yang ampuh untuk menangani segala macam permasalahan negara tanpa pernah memprioritaskan konten, lembaga implementor, kelompok sasaran...

Krisis Penalaran, Skripsi, dan Mental Kepakaraan

Dunia kampus adalah dunia yang sering didambakan oleh banyak pemuda setelah menamatkan jenjang pendidikan SLTA, mereka berharap diterima di universitas yang menawarkan jurusan yang...

Newsdifabel, Media yang dari Umum ke Khusus

Mari bicara soal stigma difabel. Labelisasi kaum difabel tentunya sudah menjamur bagi banyak masyarakat awam. Jahatnya lagi, kaum difabel sudah terlalu lengket dengan pekerjaan...

Tanah Air Bebas dari Konflik, Apa Mungkin?

Dibalik identitas keramah-tamahan dan pluralitas budaya di kancah internasional, bangsa kita menyimpan album tragedi kemanusiaan yang menyayat hati nurani. Menurut Bambang W. Soeharto (2013), negara...
Ahmad Fahrizal Azizhttp://www.insight-blitar.my.id
Penikmat Sejarah, Tinggal di Blitar

Menarik jika menyimak sikap Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, yang tetap tenang di tengah dua magnet politik yang begitu kuat. Padahal, sebagai ketua umum sebuah ormas besar, jelas banyak sekali bisikan dan mungkin “godaan” kepada tokoh berdarah Sunda ini.

Sebagai organisasi besar, Muhammadiyah tentu punya nilai tawar tersendiri. Apalagi, selain basis massa, Muhammadiyah punya banyak “sumber” yang bisa dimanfaatkan, yang belakangan baru disadari Muhammadiyah sendiri.

Karena itu, jelas banyak sekali yang mendekati Muhammadiyah dengan bermacam kepentingannya. Meski perlu juga disadari, Muhammadiyah tidak bisa berdiri sendiri, perlu banyak jaringan agar amal usahanya terus bangkit dan berkembang, termasuk jaringan politik.

Posisi Haedar Nashir kian berat sebab situasi politik sekarang yang serba terpola dalam dua kubu besar, dan salah satu kubu melibatkan tokoh penting sebuah Ormas Islam. Karenanya tak sedikit yang menunggu serta menanti, bagaimana sikap Muhammadiyah? Apakah akan jadi bandul penyeimbang dengan merepat ke kubu sebelah atau bagaimana?

Sosok Haedar Nashir kian disorot, dinantikan, dan dielu-elukan pendapat-pendapatnya. Bahkan tak jarang yang menyebut Haedar Nashir memilih tiarap, menjauh dari kerumunan. Sekalinya keluar pendapat, selalu bersifat moderat dan umum, tidak spesifik seperti seniornya Prof. Amien Rais yang jelas dalam menentukan dukungan.

Apalagi, pengaruh Prof. Amien Rais di akar rumput juga masih kuat. Desakan serta riak suara akar rumput tentu terus terngiang di telinga Haedar Nashir selaku “Imam besar” Muhammadiyah. Terlebih selama ini mayoritas warga Muhammadiyah teridentifikasi lebih condong mendukung calon tertentu.

Namun di lapangan, tak sedikit juga kader, warga, atau simpatisan Muhammadiyah yang mendukung calon satunya, yang ini makin memberikan gambaran betapa berat berada di posisi ketua umum Muhammadiyah di tengah tarikan dukungan politik yang sedang terjadi.

Apalagi, Haedar Nashir adalah sosok yang terbuka dan akomodatif. Tidak mau menggunakan cara-cara politik dengan misalnya, menyingkirkan orang di struktural hanya karena berbeda sikap dan pandangan.

Maka tidak ada kasus kader A atau pimpinan B dicopot karena menjadi tim kampanye pasangan capres cawapres, atau karena berbeda pandangan dengan ketua umum.

Maka, sepertinya sulit mengharapkan akan keluar statemen dari Haedar Nashir yang membahagiakan tim kampanye atau paslon yang sedang berkompetisi. Sikap dan pandangan Haedar Nashir sepertinya akan tetap moderat hingga musim pemilu usai dan badai politik mereda.

Sikap dan pandangan Haedar Nashir sebenarnya sejalan dengan sikap Muhammadiyah secara organisasi. Bahwa secara kelembagaan Muhammadiyah tidak berpolitik praktis. Karena itu bersikap moderat dan menjadi “wasit” dari dua kubu yang sedang mengeras.

Mungkin banyak yang mengira bahwa Haedar Nashir memilih main aman, dan santai. Padahal sebagai ketua umum ormas besar, jelas tidak mudah bersikap demikian. Sebab momentum politik juga sekaligus momentum untuk meraup simpati, dengan misalnya memanfaatkan arus isu yang tengah berkembang.

Dalam dua aksi massa besar bertajuk 212 misalnya, Haedar Nashir tak nampak masuk kerumunan dan memanfaatkan momentum tersebut. Namun sekaligus juga tidak antipati. Tetap proporsional dan moderat. Mengambil sikap seperti ini jelas tidak mudah.

Lalu bagaimana Haedar Nashir menyikapi riak suara akar rumput, dengan tanpa mengesampingkan realitas yang terjadi? Karena itu hingga saat ini belum, dan semoga tidak terjadi, PWM atau PDM tertentu menolak PP. Juga belum, dan semoga tidak terjadi pula, ada tokoh daerah Muhammadiyah yang kontras bahkan antipati dengan Haedar Nashir atau pimpinan pusat.

Ini menjadi ujian konsistensi bagi Muhammadiyah sebagai organisasi, juga bagi Dr. Haedar Nashir sebagai pribadi, selaku nahkoda Muhammadiyah. Maka sikap tenang beliau ibarat sedang menaklukkan badai besar di lautan. Nahkoda harus tetap tenang dan fokus mengemudikan kapal, agar bisa melalui badai.

Blitar, 29 Januari 2019

Ahmad Fahrizal Azizhttp://www.insight-blitar.my.id
Penikmat Sejarah, Tinggal di Blitar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.