Sabtu, Desember 5, 2020

Habib Rizieq dan Peta Politik 2024

Merajut Persatuan Pasca Dualisme Demokrasi

Menjelang akhir masa perhitungan suara pemilu 2019, masyarakat Indonesia sebenarnya sedang tidak dalam kondisi terbaiknya. Khusus untuk saat ini suhu politik Indonesia bagaikan air...

Kekuatan Literatur

Habakuk  2:2 Lalu  TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan  ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanyaMenulis Adalah Salah Satu Perintah...

Metafisika Muhammad Iqbal

Dalam bukunya Prolegomena, Kant mengajukan pertanyaan: Apakah metafisika itu mungkin? Jawaban Kant atas pertanyaan ini negatif tidak mungkin. Alasan-alasannya didasarkan pada ciri yang agak...

Lonceng Tanda Bahaya di Dunia Pendidikan

Dunia pendidikan yang sejatinya menjadi rujukan teladan kembali dicoreng oleh laku oknum guru yang tak bertanggungjawab. EA seorang guru di salah satu SMP di...
Muhammad Irsyad Suardi
Mahasiswa Magister Sosiologi UNAND

Kedatangan Habib Rizieq Shihab ke tanah air, seperti gelombang rakyat yang melebihi penghormatan seorang Presiden. Bertepatan di hari Pahlawan (10/11) Habib Rizieq disambut dengan massa melimpah ruah, sehingga menimbulkan kemacetan 3 jam lebih sepanjang jalan Soekarno-Hatta.

Semenjak 2017 mengendap di Arab Saudi, sebelumnya Habib Rizieq pernah dilaporkan ke kepolisian atas kasus chat konten pornografi tanggal 29 Mei 2017. Sehingga ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat pasal 4 ayat 1 junto, pasal 29 dan pasal 6 junto UU RI nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara (okezone.com 10/11/2020).

Kemarin, 10 November 2020 pulang ke Indonesia dengan iringan massa dari berbagai latar, termasuk Front Pembela Islam yang menjadi garda terdepan menyambut kedatangan Rizieq. Habib Rizieq dikenal sebagai tokoh sentral FPI yang sering menyampaikan dengan lantang suara-suara keadilan untuk umat.

Banyaknya simpatisan yang hadir kemaren menandakan akan ada semacam gejala dibalik maksud. Pikiran para politikus, partai dan yang memiliki kepentingan terkait mulai berpikir untuk merapatkan barisan.

2024

Kuat dugaan, Lembaga-lembaga survey politik mulai mengamati melihat gejala yang akan terjadi kedepan. Belakangan, setelah Habib Rizieq sampai di markas besar FPI di Petamburan, Jakarta Barat, Habib Rizieq didatangi Anies Baswedan. Selain silaturahim, mungkin sebagai bentuk konsolidasi pilpres 2024. Karena sejumlah Lembaga survey menyebutkan, Anies digadang-gadangkan akan masuk bursa calon presiden RI 2024.

Disamping itu, Gatot Nurmantyo yang biasa dekat dan sering menghadiri aksi-aksi, seperti 212 dan seterusnya. Terlihat tidak hadir menyambut kedatangan Habib Rizieq. Seolah, memberi sinyal kepada publik bahwa ada sesuatu yang tidak seperti biasanya. Gatot yang biasa di simbolkan dekat dengan umat. Seolah, ketidakhadiran Gatot menyambut kedatangan Habib Rizieq menimbulkan sejumlah pertanyaan.

Selain Anies, suara electoral bursa capres juga kuat kepada Gatot Nurmantyo. Terlihat, sebelumnya Gatot ikut menghadiri Deklarasi Kesatuan Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) pada 18 Agustus 2020 di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat. Kehadiran Gatot dapat menarik magnet dukungan bertambah. Mengingat ketokohan Gatot belum memudar setelah lepas dari Jenderal TNI 2017 silam.

Banyak spekulasi bermunculan terhadap dua sosok tokoh ini, mereka digambarkan sebagai perwakilan suara umat islam. Sebab, setiap ada aksi yang dilakukan oleh ormas islam. Terlihat kedua tokoh ini juga ikut berpartisipasi dalam mengikuti rangkaian kegiatan.

Dengan kedatangan Habib Rizieq pulang ke Indonesia, memberikan sinyalemen akan ada konsolidasi-konsolidasi lanjutan dalam menggabungkan kekuatan politik di 2024.

Bahkan, Prabowo Subianto juga ikut diisukan akan hadir dengan menyambut kepulangan Habib Rizieq. Bisa jadi, karena pertimbangan pemerintah dan sebagainya. Kehadiran Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dibatalkan. Mengingat, Prabowo bukan lagi oposisi pemerintah.

Disamping itu, dari partai sayap sebelah, seperti PDIP juga mulai memetakan soal siapa yang akan maju dari kader PDIP mencalonkan diri sebagai capres 2024. Terlihat, dari beberapa sumber menyebutkan, terdapat beberapa nama yang akan masuk bursa capres 2024. Seperti, Puan Maharani dan Ganjar Pranowo. Bukan tidak mungkin, semua mungkin-mungkin saja dalam kamus politik. Karena dalam definisi politik, tidak ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi. Bahkan, musuh pun dalam politik bisa langsung sungkeman setelah sebelumnya konflik.

Memang itulah dunia politik, dunia penuh misteri, ketidakpastian, dunia dimana semua wajah putih bisa merubah beragam warna. Begitupun sebaliknya.

Restu Habib Rizieq

Kedepan, bisa dikatakan, sebagai tahun-tahun bertransform, artinya tahun yang akan mengalami perubahan peta politik nan drastic mengingat calon bursa presiden telah menghangatkan mesin-mesin.

Tentunya, melihat banyak umat yang hadir menyambut kedatangan Habib Rizieq menandakan arti bahwa, perlu restu Habib jika ingin maju capres 2024. Mengingat umat yang hadir Ketika itu tidak sedikit. Bahkan, dalam sejarah selama 72 tahun Indonesia merdeka. Baru pertama ini, masyarakat menyaksikan jumlah jamaah yang hadir dari berbagai ormas dan latar belakang.

Mengutip menurut Rush dan Althoff (2005) dalam Sahid (2011: 19), ada empat pendekatan membangun sosiologi politik. Pertama, pendekatan historis-sejarah. Kedua, pendekatan komparatif-perbandingan melihat latar belakang dan sokongan dari kekuatan pendukung. Ketiga, pendekatan institusional, dalam hal ini keterlibatan organisasi kemasyarakatan yang tergabung dalam barisan kekuatan basis politik. Keempat, pendekatan behavioral atau tingkah laku.

Terlihat, capres yang menonjol sekarang, telah melihat tingkah laku yang menggambarkan ciri keislaman yang dekat dengan umat. Karena basis utama dan mayoritas pendukung terdukung ada di umat islam.

Sehingga, masing-masing kandidat mulai melihat ciri-ciri yang menonjolkan cara-cara islam agar dapat menarik massa dari umat islam sebanyak mungkin. Pendekatan ini menitikberatkan bagaimana tingkah laku individu dalam menghadiri kegiatan-kegiatan baik keagamaan, politik di suatu masyarakat. Sehingga terkesan lebih mengayomi dan dekat kepada umat sehingga memberi peluang lebih untuk memuluskan jalan di pemilihan presiden 2024 mendatang. Yang terpenting, harus ada restu dari seorang Habib Rizieq yang telah Kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Terlepas dari kasus yang pernah menjeratnya.

Semua bisa diatur, asalkan pemerintah kuat menghadapi gelombang umat yang kian banyak jumlahnya. Pemerintah sekarang mulai berhati-hati dalam menertibkan Habib Rizieq karena Habib sekarang sudah tidak seperti 3 tahun yang lalu. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dan NKRI tetap damai tanpa ada provokasi dan unsur-unsur kekerasan yang dapat menganggu ketertiban umum.

Muhammad Irsyad Suardi
Mahasiswa Magister Sosiologi UNAND
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.