Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Habib Rizieq dan Kegagalan Menjadi Imam Besar

Democracy is only for Educated People

Socrates, the founding father of Greek Philosophy, He is characterized as hugely pessimistic about anything related to democracy once falling into conversation with a...

Politisi Islam Indonesia Belajarlah dari Natsir!

Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini, selain punya andil besar dalam perjuangan kemerdekaan juga punya andil dalam menopang jalannnya demokrasi. Kepercayaan akan Tuhan...

Guncangan Ekonomi Iran Menghadapi Wabah Corona

Belum selesai perekonomian Iran berjibaku dengan beban sanksi embargo Amerika Serikat (AS). Kini, Iran harus menghadapi wabah virus Corona yang tentunya berdampak negatif terhadap...

Pemilu 2019: Surplus Politisi dan Defisit Negarawan

Hiruk pikuk kontestasi Pemilu 2019 kini telah menjadi sorotan. Hal tersebut mengingat bahwa panggung politik akhir-akhir ini telah menampilkan realitas politik yang cukup menguras...
Misdar Mahfudz
Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi FISIP Universitas Airlangga Surabaya

habib-rizieq-memberikan-keterangan-setelah-pemeriksaan-di-polda
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab memberikan keterangan kepada wartawan usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (23/1). Habib Rizieq menjalani pemeriksaan selama empat jam sebagai saksi terkait dugaan kasus penghinaan rectoverso di lembaran uang baru dari Bank Indonesia, yang disebutnya mirip logo palu arit. ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc/17.

Hari Senin, 29 Mei 2017. Polisi menetapkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab sebagai tersangka kasus chat mesum dengan Firza Husein. Habib Rizieq jadi tersangka setelah penyidik Direktorat Kriminal Khusus melakukan gelar perkara. Kemudian meningkatkan status Rizieq dari saksi ketersangka (Duta, 30/5/17).

Habib Rizieq resmi tersangka atas kasus chat pornografi yang didasarkan pada Pasal 4 ayat (1) juncto Pasal 29 dan/atau Pasal 32 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, serta Pasal 27 ayat (1) juncto Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Selama ini, polisi sudah melakukan serangkaian proses hukum sesuai dengan ketentuan KUHAP. Mulai penyelidikan, penyidikan, gelar perkara, hingga menetapkan status tersangka kepada Rizieq. Termasuk pemeriksaan saksi terlapor hingga ahli (Jawa Pos, 31/5/17) ikhtiar baik kepolisian ini harus kita apresiasi sebagai manifestasi supremasi hukum di Negara ini.

Apapun alasannya, penetapan kasus tersangka kepada Habib Rizieq, harus dipertanggungjawabkan kepada publik utamanya kepada para kiai, ulama’ dan imam besar di Negara ini. Sebab, dalam konteks sosial-budaya kita. Tanpa bermaksud mengeneralisir, merusak nama imam besar akan berimplikasi negatif terhadap imam besar lain, yang notabene istiqomah menjaga gelar tersebut dengan penuh tanggungjawab.

Pemberian gelar imam besar oleh masyarakat merupakan gelar yang sangat sakral dan mulia. Menurut Durkheim sosiolog asal Prancis, sesuatu yang dianggap sakral ia dibentuk oleh masyarakat bukan melalui sesuatu yang instan. Tetapi, dengan peroses yang panjang melalui sikap dan perasaan masyarakat. Sesuatu yang sakral akan melahirkan sikap hormat, kagum, dan bahkan takut. Di sisi lain, sesuatu yang profan tidak menimbulkan sikap tersebut. Oleh karenanya, ia harus dijaga dari berbagai bentuk sikap dan sifat yang hina.

Secara faktual, tidak semua orang dengan mudah mendapatkan gelar imam besar, hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkannya. Karena gelar tersebut tidak ada sekolahnya. Ia diperoleh dengan jalan kedekatan kepada sang pencipta dan memiliki kedalaman ilmu agama. Dalam perspektif lain ia merupakan orang-orang pilihan yang menjaga secara sempurna dan konsisten hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal ‘alam. Sehingga tidak pelak jika mendset masyarakat tentang imam besar, selalu hal-hal yang sakral.

Penetapan tersangka kepada Rizieq atas kasus chat mesum merupakan tindakan yang sangat tidak dibenarkan dalam hukum di Negara ini. Apalagi dalam agama islam yang sangat melarang keras pemeluknya. Perbuatan tersebut sangat tidak layak dilakukan oleh figur publik sekelas Rizieq apalagi menyandang gelar imam besar yang memiliki ribuan pengikut di republik ini.

Menanggapi kasus tersebut, pengikut Habib Rizieq sampai saat ini belum menerima, dengan dalih mereka tidak percaya imam besarnya melakukan tindakan tersebut. Sebagai bentuk protes, Ketua Presidium Alumni 212 Ansufri Idrus Sambo, mengatakan penetapan Rizieq sebagai tersangka merupakan upaya pemerintah mengkriminalisasi para ulama dan aktivis Islam.

Ia berupaya akan melawan secara konstitusional dan ia menilai pemerintah melakulan politik balas dendam terhadap pimpinan Front Pembela Islam yang berperan menjebloskan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ke penjara. Bahkan mereka mengklaim Presiden Joko Widodo dianggap mengambil sikap berhadap-hadapan dengan ulama dan aktivis Islam (Tempo.co, 31/5/17).

Pertanyaannya sekarang. Apakah termasuk kriminalisasi kalau kasus tersebut adalah fakta? Pertanyaan ini harus diurai secara konprehensif dan berdasar pada data yang ada saat ini. Baik yang beredar di media online, maupun media cetak. Agar tidak menimbulkan kontraproduktif dengan prinsip-prinsip dasar ketatanegaraan kita. Sebab, kalau itu fakta dan masih ada perlawanan dari pengikut Rezieq inilah yang dinamakan gerakan sublimasi, yakni sebuah taktik dan strategi untuk mengalihkan mata publik dari sesuatu yang sesungguhnya menuju sesutu yang semu, palsu, dan menipu. Bentuk perlawanan semacam ini merupakan gerakan yang tak beradab dan tidak pantas dilakukan oleh siapapun apalagi Ormas Islam Front Pembela Islam (FPI).

Terlepas benar atau tidak, kasus chat mesum pornografi tersebut. Yang tidak kalah signifikannya harus kita sadari, bahwa siapapun manusia tidak akan pernah lepas dari salah dan dosa, karena itu sudah menjadi tabiat manusia. Manusia dibekali nafsu, akal, dan hati nurani.

Berbeda, dengan Malaikat, dan Syaitan. Sebagaimana dinyatakan oleh K.H. A. Mustofa Bisri Pengasuh Pondok Pesantren Rembang “Malaikat tak pernah salah, Syaitan tak pernah benar, dan manusia bisa salah dan bisa benar”. Perihal tersebut juga sudah diajarkan dalam rukun iman yang ke-6 bahwa iman yang terakhir yang sangat krusial: percaya kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk (khairihi wa syarihi) dan itu harus kita imani.

Artinya, siapapun manusia ia tidak terlepas dari salah dan dosa. Bahkan Rasulullah sendiri mengatakan “setiap anak Adam akan melakukan kesalahan dan sebaik-sebaik orang yang melakukan kesalahan adalah orang-orang yang melakukan taubat”. Selain itu, Nabi juga pernah mengingatkan; “jangan sampai kecintaan seseorang kepada sesuatu melebihi cintanya kepada Allah,” karena salah satu dampaknya ia sulit menerima kenyataan yang sesungguhnya. Begitupun para pengikut Rizieq jangan sampai kecintaan terhadap Rizieq melibihi cintanya kepada Allah karena kecintaan yang berlebihan kepada selain Allah akan berakibat fatal terhadap keberislaman kita.

Habib Rizieq Dan Kegagalan Menjadi Imam Besar

Ditetapkannya Habib Rizieq sebagai tersangka dalam kasus yang hina tersebut, tentunya menjadi pukulan yang sangat keras bagi Habib Rizieq dan pengikutnya. Dan Rizieq sudah gagal menjadi imam besar sebab imam besar ucapan dan perilakunya harus mencerminkan nilai-nilai keislaman sebagaimana diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW. Begitupun ucapan dan perilakunya selalu menjadi pedoman dan uswah bagi pengikutnya. Karena kasus tersebut. ia sudah tidak layak dijadikan tauladan apalagi menjadi imam besar.

Oleh karena itu, menyikapi persoalan tersebut sudah saatnya kita menyandarkan ucapan dan sikap kita kepada pesan Nabi:  “katakanlah yang benar meskipun itu pahit” (kulil haqqu walau kana murran). Kalau pesan ini bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin persoalan apapun akan bisa teratasi secara baik, pun kasus yang menimpa Rizieq saat ini.

Polisi harus melaksanakan tugas secara adil dan bijaksana. Begitupun para pengikut Habib Rizieq harus melakukan pembelaan sesuai dengan data dan fakta secara akuntabel dan menghindari kaca mata kuda. Karena sekali lagi, siapapun yang melakukan tindakan amoral apalagi tindakan pornografi yang menjijikan dan tak beradab sangat tidak layak menyandang gelar imam besar.

 

Misdar Mahfudz
Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi FISIP Universitas Airlangga Surabaya
Berita sebelumnyaIslam Bung Karno
Berita berikutnyaKPK dan Kebrutalan Politisi Senayan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.