OUR NETWORK

H.O.S Tjokroaminoto dan Gagasan Sosialisme Islam

Tjokroaminoto juga dikenal sebagai guru sekaligus teman diskusi terhadap beberapa tokoh pergerakan nasional seperti Soekarno, Kartosoewiryo, Abikoesno, Alimin dan Muso.

Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau dikenal dengan H.O.S Tjokroaminoto merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional yang memberikan pengaruh besar dalam dinamika politik Indonesia, termasuk di dalamnya membentuk pemikiran politik maupun mempengaruhi tindakan politik banyak tokoh pergerakan nasional.

Tjokroaminoto juga dikenal sebagai guru sekaligus teman diskusi terhadap beberapa tokoh pergerakan nasional seperti Soekarno, Kartosoewiryo, Abikoesno, Alimin dan Muso. Menariknya, beberapa murid Tjokroaminoto memiliki pandangan politik yang berbeda dalam perkembangan pemikiran politik serta ideologi politik yang dianutnya.

Soekarno sangat dipengaruhi dan kemudian mengembangkan ajaran nasionalisme, Kartosoewiryo menganut ajaran fundamentalisme Islam, sementara Alimin dan Muso mengembangkan ajaran komunisme.

Gagasan tentang Sosialisme Islam

Sebuah pendapat yang menyebutkan sosialisme sebagai suatu paham yang berasal dan dipengaruhi dari barat ditolak mentah-mentah oleh Tjokroaminoto. Alih-alih menyebut dipengaruhi oleh nilai-nilai barat, Tjokroaminoto menilai bahwa sosialisme telah lahir, tumbuh dan berkembang dalam tradisi Islam, jauh sebelum kelahiran sosialisme di Barat.

Ia menyebutkan bahwa cita-cita sosialisme dalam islam telah berkembang selama tiga belas abad, telah dipraktekkan sejak zaman Rasulullah Muhammad S.A.W dan tidak dapat dikatakan muncul dari pengaruh bangsa Eropa[1].

Menurut Tjokroaminoto, ketika sosialisme dipandang sebagai sesuatu yang islami, maka ia mudah diterima di Indonesia. Hal tersebut didasari dari pemikiran politik Islam di Indonesia berasal dari arus tradisi yang telah berkembang dalam masyarakat Indonesia sebagaimana tradisi Hindu-Jawa, sementara sosialisme berasal dari arus pemikiran barat.

Sosialisme Islam dalam kacamata Tjokroaminoto dipandang sebagai sebuah paham sosialis yang bersandar pada agama Islam dan wajib dilakukan oileh umatnya sepanjang hal tersebut merupakan perintah agama Islam.

Sosialisme Islam, sebagaimana diungkapkan oleh Tjokroaminoto, dengan demikian merupakan perwujudan kehidupan yang adil, setara, merata untuk mencapai kesejahteraan yang didasarkan oleh nilai-nilai tauhid.

Sosialisme Islam merupakan suatu sistem sosial, budaya, ekonomi dan politik yang tidak hanya berupa konsep namun dipraktikkan oleh umat-nya, dan bahkan pada tingkatan tertentu berupa kewajiban untuk menjalankan praktik-praktik tersebut.

Maka dari itu, Tjokroaminoto menerangkan lebih lanjut sosialisme macam apa yang dikenal dalam Islam. Setidaknya ada dua: pertama, Staats-sosialisme, baik yang bekerja dengan kekuatan satu pusat (gecentraliseerd) maupun yang bekerja dengan kekuatan gemeente-gemeente (gedecentraliseerd).

Kedua, Industri-sosialisme. Jika satu negeri bersifat sosialis, maka pekerjaan kerajinan (pabrikan, industri) harus diatur seluas-luasnya secara sosialis (gesocialiseerd) juga. Maka di dalam negeri yang demikian itu, keberadaan tanah menjadi pokok segala hasil dan pokok semua pekerjaan industri besar.

Kalau hendak dijalankan seluas-luasnya land-socialisme dan staat-socialisme, maka bentuk sosialisme ini lah yang terutama sekali dijalankan oleh Islam. Sejak Nabi Muhammad SAW memegang kekuasaan negara, maka negara itu segera diaturnya secara sosialis, dan semua tanah dijadikannya sebagai milik negara[2].

Dalam ranah negara, Tjokroaminoto juga menjelaskan peranan sosialisme Islam. Ketika sosialisme Islam berlaku di negara, maka salah satu tugas dari negara adalah penguasaan terhadap tanah sehingga tidak dikenal kepemilikan pribadi. Dari hal tersebut, tanah dimiliki negara dan dapat dimanfaatkan seluas-luasmya untuk kepentingan rakyat[3].

Namun, ada perbedaan antara sosialisme Islam dengan sosialisme model barat. Setidaknya itu terlihat dalam sistem di negara. Dalam sosialisme barat, dikenal sebuah sistem demokrasi perwakilan dimana didalamnya memiliki salah satu tugas dan wewenang dalam membentuk peraturan.

Sedangkan dalam sosialisme Islam, Tjokroaminoto menjelaskan bahwa pembentukan peraturan tidak diserahkan kepada kabinet atau parlemen atau golongan partai yang mewakili kepentingan kelompok atau kelas tertentu. Peraturan-peraturan muslim adalah peraturan yang berasal dari Tuhan yang berdiri di atas segala apa saja, sehingga tidak ada individu atau kelompok tertentu yang dapat mengubah peraturan-peraturan untuk kesenangan atau kepentingannya sendiri.

Sehingga dapat disebutkan bahwa pemerintah tidak dalam fungsinya sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk membentuk peraturan, namun pemerintah dalam suatu negara hadir terkait dengan bagaimana cara menjalankan peraturan[4].

Klaim bahwa ajaran Islam merupakan dasar dari berjalannya sosialisme Islam juga dijelaskan Tjokroaminoto ketika gagasan kemerdekaan, persamaan dan persaudaran dijalankan dalam sosialisme versi Tjokroaminoto. Menurutnya, ketiga gagasan tersebut juga telah diimplementasikan oleh Muhammad S.A.W.

Selain kedua hal diatas, Sosialisme Islam disebutkan oleh Tjokroaminoto adalah sebuah gerakan untuk menentang kapitalisme. Ideologi tersebut yang dipandang melegalkan praktik yang riba justru bertolak belakang dengan ajaran Islam yang mengharamkan riba[5].

Sosialisme Islam juga dinilai tidak mengadopsi ajaran Marxisme walaupun pada awal tulisan ini disebutkan bahwa Karl Marx dengan ideologi yakni Marxisme merupakan varian dari sosialisme. Setidaknya ada beberapa alasan yang disebut oleh Tjokroaminoto untuk menekankan tesis tersebut.

Pertama, Marx tidak mengakui keberadaan agama bahkan menyatakan bahwa agama itu adalah kebingungan otak, yang dibuat-buat oleh manusia untuk meringankan beban hidup yang sukar, sehingga agama merupakan candu bagi rakyat.

Kedua, ajaran materialisme historis menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari benda, oleh benda, dan kembali ke benda. Padahal, umat Islam meyakini bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, oleh Allah dan akan kembali kepada Allah. Ajaran materialisme historis dengan demikian tidak hanya memungkiri keberadaan Allah, namun juga mempertuhankan benda[6].

Bacaan

Tjokroaminoto, H.O.S. Islam dan Sosialisme. Bandung: Sega Arsy, 2010

 

Mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Airlangga. Delegasi dalam program Johannes Leimena School of Public Leadership (2018) dan Kader Bangsa Fellowship Program (2019). Dapat dihubungi di jacko.ryan-2017@fisip.unair.ac.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…