Jumat, Januari 22, 2021

Gus Dur Menjawab Kegelisahan

Gudeg Tanpa Nangka: Filosofi Sayyid Qutb dan Heroisme Ahok

Indonesia sedang mengalami reduksi ilmu dan studi agama. Itu yang diungkapkan oleh Abdul ‘Dubbun’ Hakim, pembicara di kelas yang saya ikuti. Waktu itu tokoh...

Ketika Penegak Hukum Melipat Moral

Prilaku di luar batas Moral Kemanusiaan, seperti pengeroyokan dan main Hakim sendiri tidak hanya sering di lakukan oleh masyarakat dalam menindak setiap orang yang...

Kerentanan PRT Migran Mendesak Disahkannya RUU P-KS

Budaya Patriarki masih sangat kuat bercokol di kebudayaan masyarakat indonesia. “Jangan sekolah tinggi-tinggi. Ngapain perempuan sekolah kuliah nanti juga ujung-ujungnya menikah ngurus anak!”, itulah...

Merawat Demokrasi: Merawat Percakapan di Ruang Publik

"Saya tidak setuju dengan pendapat Anda, namun saya akan membela sampai mati hak Anda untuk mengatakan hal itu" - Evelyn Beatrice Hall Menyelenggarakan demokrasi artinya...
Abidin Ghozali
Pembelajar Seumur Hidup Merindukan Indramayu Beradab.

Buku setebal 176 halaman berjudul Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat yang diterbitkan Kompas pada tahun 2007. Berisikan 24 artikel yang dimuat di Kompas antara tahun 2001 dan 2006.

Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memiliki berbagai kelebihan. Ia bertutur kata dengan cerdas, cerdik, dan kocak, Ia pun menulis dengan lancar, jelas, dan menarik. Bagi Gus Dur, ajaran agama merupakan sumber inspirasi orang beragama dan bernegara. Oleh karena itu, Islam tidak memiliki konsep negara.

Jakob Oetama Pemimpin Umum Kompas 2007 memberikan pengakuan bahwa Gus Dur selalu mengangkat persoalan-persoalan yang menggerakkan perhatian banyak orang karena memang aktual dipermasalahkan dan dirasakan.

Pandangan dan pendapatnya cenderung mencerminnkan sikap dasarnya, seperti Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika, Indonesia yang Pancasila, Indonesia yang beragama, Indonesia yang berkemanusiaan, yang berkeadilan sosial serta yang demokratis.

Gus Dur mengulas soal Agama dan Kekuasaan, Kepemimpinan, Hingga moral dan spiritual. Bahkan tidak luput dari perhatiannya soal Palestina. Jika hari ini masyarakat masih gelisah dengan hasil Pemilu 2019. Kegelisahan pikiran, perasaan serta pergulatan prihal masalah-masalah tersebut. Maka aktual dan relevanlah belajar dari tulisan-tulisan Gus Dur.

Gus Dur memberikan perhatian luas dan mendalam terhadap Demokrasi. Ia menggunakan istilah “demokratisasi”. Karena sesuai dengan kenyataannya, berlangsung proses yang makan waktu, perhatian, pengalaman, pemikiran terus menerus, serta komitmen.

Komitmen itulah yang dapat menerima kemenangan atau kekalahan dalam proses pemilihan presiden sesuai dengan aturan konstitusi. Artinya, Mengikuti proses demokrasi yang konstitusional ialah sebuah komitmen.

Diingatkan kata bijak tokoh Inggris Winston Churchill: “Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang sangat banyak kelemahan, tetapi ia masih lebih baik dari semua sistem pemerintahan lain,”

Teringat akan ungkapan almarhum Gus Dur. “Gitu ajah ko repot”.

Abidin Ghozali
Pembelajar Seumur Hidup Merindukan Indramayu Beradab.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.