Jumat, Maret 5, 2021

Gus Dur, Cak Nur, dan Nilai Rasa Sastra

Guru Anti-Kekerasan

Guru itu digugu lan ditiru. Segala tindak tanduk seorang guru haruslah bisa diteladani muridnya. Memberikan contoh budi pekerti yang baik itu mutlak dilakukan guru....

Wajah Elite yang Tak Punya Nurani Kemanusiaan

Melihat kondisi yang begitu carut marut pergolakan perbedaan pandangan dan perdebatan yang tidak lagi diselesaikan dipodium atau panggung media, baik itu media masa atau ...

Nasib Pendidikan Keagamaan (Islam) Kita

Jika dihitung berapa lembaga pendidikan Islam di Indonesia, tentu jumlahnya sangat banyak. Misalnya saja mengambil salah satu bentuk pendidikan Islam madrasah, menurut data Emis (Education...

Belajar Disiplin dari Anak Autis

Autisme adalah gangguan kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi yang biasanya membuat anak-anak yang terkena sindrom autisme menjadi super cuek dengan lingkungannya. Namun, seiring banyaknya terapi...
Akbar Malik
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Gus Dur dan Cak Nur adalah salah dua tokoh intelektual yang digelari guru bangsa. Mereka menyemai perdamaian, toleransi, dan pesan-pesan kemanusiaan yang sampai sekarang masih sangat relevan. Pemikiran mereka terus direproduksi demi mengembuskan kesegaran di tengah kejumudan dan kekakuan beragama. Kehidupan demokrasi di era digital pun semakin membuat ruang publik pengap kekurangan refleksi-kontemplasi.

Pemikiran, kepribadian, hingga kiprah dan karya Gus Dur dan Cak Nur, menurut saya, selalu layak diresonansikan kepada masyarakat. Terlebih kepada para calon intelektual muda yang akan mewarnai khazanah pemikiran Islam di Indonesia. Mereka patut mengetahui hingga menyelami lebih dalam sosok dan pemikiran Gus Dur dan Cak Nur, yang pada masanya seperti singa yang tak gentar menyampaikan perspektif keislamannya.

Sudah banyak orang menulis tentang Gus Dur dan Cak Nur. Banyak sekali. Dari ragam sudut pandang. Keragaman sudut pandang dalam menulis kedua tokoh tersebut tak lepas dari kekayaan intelektual yang keduanya miliki, sehingga tak sulit untuk menautkan satu isu dan isu lainnya pada buah pikir mereka. Gus Dur dan Cak Nur sama-sama meninggalkan ensiklopedia; sebuah sumbangan pemikiran yang sungguh berarti bagi kehidupan peradaban bangsa.

Sebagai anak kemarin sore, saya bersyukur bisa memiliki ketertarikan untuk mengenali kedua tokoh besar tersebut. Walau tidak dilahirkan dari keluarga santri, intelektual, ataupun irisan identik lain yang bisa menghubungkan dengan Gus Dur dan Cak Nur, saya sama sekali tidak rendah diri. Pasalnya adalah bukan karena saya yang niat menceburkan diri ke dalam gelanggang pemikiran mereka, tapi karena mereka adalah guru bangsa. Pemikiran dan perjuangan yang telah mereka lakukan hinggap kepada siapa saja; sekalipun saya yang bukan siapa-siapa.

Menulis tentang Gus Dur dan Cak Nur berarti memperpanjang napas perjuangan mereka. Bermakna pula merawat pohon besar bernama pluralisme yang sudah mereka wariskan. Dan untuk itu, saya ingin mengambil bagian. Menyumbangkan satu, dua, dan seterusnya esai ringan nan sederhana untuk terus membumikan pemikiran mereka.

Menulis yang “berat-berat” gagasan dari Gus Dur dan Cak Nur sudah diambil oleh para intelektual muda. Lulusan dari universitas di Kairo, Australia, Eropa, dan lainnya banyak yang sudah menelurkan gagasannya dan direlevansikan dengan pemikiran Gus Dur dan Cak Nur. Gagasan besar dan berat itu biarlah para guru yang menuliskan, sementara yang ringan tapi tetap bergizi biar yang muda yang bicara.

Nilai Rasa Sastra

Saya adalah mahasiswa sastra. Belum banyak karya sastra yang saya baca, sebetulnya. Justru lebih suka membaca nonfiksi keagamaan; sedikit-sedikit berusaha membaca dan memahami esai-esainya Gus Dur dan Cak Nur, membaca biografi mereka, hingga yang paling ringan membaca esai populer dan jurnal ilmiah tentang pemikiran mereka.

Membaca Gus Dur dan Cak Nur sungguh mengasyikkan. Membaca mereka bisa diartikan dengan tiga pengertian. Pertama, tentu membaca langsung karya mereka, tulisan-tulisan mereka. Pada awalnya mungkin akan membuat dahi mengernyit, khususnya tulisan Cak Nur, tapi itulah esensi belajar kepada guru bangsa. Tapi, tenang saja, anak muda, kernyitan-kernyitan itu semakin lama akan semakin berkurang seiring meningkatnya daya baca dan daya serap otak kita.

Kedua, membaca biografi mereka. Kita akan tahu bagaimana mereka dibentuk, dididik, dan usaha serta perjuangan mereka membentuk dan mendidik dirinya sendiri. Sebuah inspirasi yang kaya, menurut saya, apabila kita mau mendalami perjalanan hidup seorang tokoh besar. Ketiga, membaca tulisan-tulisan orang tentang mereka. Pemikiran dan gagasan dari dua guru bangsa itu dipotret dalam aneka bentuk karya tulis; skripsi, jurnal, dan esai. Mulai dari yang paling ilmiah sampai yang ringan dan populer, ada.

Dalam satu esainya, Cak Nur: Tetap tetapi Berubah, Gus Dur pernah berkomentar tentang Cak Nur, “Selera bacaan mungkin memang masih belum bervariasi: belum tampak novel dari tingkat sastra dunia menghiasi lemari bukunya. Jadi masih berorientasi buku teks, sudah tentu dalam artian sumber bacaan, buku model berpikir.” Tatkala itu Gus Dur menyambangi rumah mahasiswa Cak Nur di Chicago, dan melihat rak buku Cak Nur.

Mungkin saya bisa berkata inspirasi saya membaca lebih banyak sastra didapatkan dari sastrawan sekaliber Pramoedya, Mochtar Lubis, atau Ahmad Tohari. Tapi, percikan nilai rasa sastra yang saya dapatkan dari Gus Dur sungguh luar biasa. Beliau “menyentil” kawan intelektualnya (baca: Cak Nur) yang masih terus sibuk membaca buku ilmiah, buku-buku berat, dan belum menyempatkan membaca sastra.

Sentilan itu bermakna besar. Hal itu berarti Gus Dur menganggap sastra sama pentingnya dengan bacaan lain. Gus Dur menempatkan sastra setinggi-tingginya, dalam rangka menyuplai nilai-nilai kemanusiaan ketika kita rajin membaca buku serius. Buku-buku serius tentu harus dibaca, tapi juga keseriusan membaca sastra jangan sampai dilewatkan, mungkin begitu tafsir saya atas persepsi Gus Dur tentang sastra.

Gus Dur punya nilai rasa sastra yang tinggi. Semasa remaja ia sudah suka baca cerita silat. Lebih dari itu, masa mudanya, ia lahap karya-karya Hemingway, Gide, Pushkin, Tolstoy, Kafka, hingga Faulkner. Sastrawan Indonesia pun pernah ia sebut: A.A Navis dan Hamka salah duanya. Bacaan sastranya yang rakus membuat Gus Dur barangkali gatal ketika melihat Cak Nur belum menyentuh sastra.

Dari Gus Dur dan Cak Nur, saya belajar nilai rasa sastra. Gus Dur hebat dengan pemikiran besarnya, yang bisa dikatakan kebesaran itu ditopang pula oleh bacaan-bacaan sastranya. Bagaimana kemanusiaan bekerja, itu ranah karya sastra. Sementara dari Cak Nur, kita memetik hikmah bawa sastra penting untuk dijadikan pendukung dalam menyusun argumentasi; agar tidak kering, tapi berwarna dan bernuansa.

Akbar Malik
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.