Jumat, Januari 22, 2021

Gus Dur, Cak Nur, dan Nilai Rasa Sastra

Provokator Ala “Golputers”

Sejak masa kampanye ditetapkan, tanggal 21 September 2018, banyak menimbulkan keriuhan di berbagai linimasa media sosial. Pendukung paslon 01 sibuk memposting kelebihan-kelebihan capres andalannya....

Politik Dinasti Vs Negara Demokrasi

Media akhir-akhir ini sedang diramaikan oleh pemberitaan keluarga Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang akan maju di pilkada serentak 2020, di antaranya yang sering...

Puisi Sukmawati: Sastra sebagai Media Penghinaan?

Sastra sampai saat ini masih dijadikan media paling tepat dalam mengungkapkan ekspresi penulisnya. Menjadi media paling halus untuk berkomunikasi, mengkritik, dan menyampaikan hikmah-hikmah terhadap...

Menata Ulang Cara Kita Memaknai Masalah

Jika anda berkunjung ke Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta, Anda akan mendapati desain-desain unik di instalasi APAR (Alat Pemadam Api Ringan)-nya. Desain ini...
Akbar Malik
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Gus Dur dan Cak Nur adalah salah dua tokoh intelektual yang digelari guru bangsa. Mereka menyemai perdamaian, toleransi, dan pesan-pesan kemanusiaan yang sampai sekarang masih sangat relevan. Pemikiran mereka terus direproduksi demi mengembuskan kesegaran di tengah kejumudan dan kekakuan beragama. Kehidupan demokrasi di era digital pun semakin membuat ruang publik pengap kekurangan refleksi-kontemplasi.

Pemikiran, kepribadian, hingga kiprah dan karya Gus Dur dan Cak Nur, menurut saya, selalu layak diresonansikan kepada masyarakat. Terlebih kepada para calon intelektual muda yang akan mewarnai khazanah pemikiran Islam di Indonesia. Mereka patut mengetahui hingga menyelami lebih dalam sosok dan pemikiran Gus Dur dan Cak Nur, yang pada masanya seperti singa yang tak gentar menyampaikan perspektif keislamannya.

Sudah banyak orang menulis tentang Gus Dur dan Cak Nur. Banyak sekali. Dari ragam sudut pandang. Keragaman sudut pandang dalam menulis kedua tokoh tersebut tak lepas dari kekayaan intelektual yang keduanya miliki, sehingga tak sulit untuk menautkan satu isu dan isu lainnya pada buah pikir mereka. Gus Dur dan Cak Nur sama-sama meninggalkan ensiklopedia; sebuah sumbangan pemikiran yang sungguh berarti bagi kehidupan peradaban bangsa.

Sebagai anak kemarin sore, saya bersyukur bisa memiliki ketertarikan untuk mengenali kedua tokoh besar tersebut. Walau tidak dilahirkan dari keluarga santri, intelektual, ataupun irisan identik lain yang bisa menghubungkan dengan Gus Dur dan Cak Nur, saya sama sekali tidak rendah diri. Pasalnya adalah bukan karena saya yang niat menceburkan diri ke dalam gelanggang pemikiran mereka, tapi karena mereka adalah guru bangsa. Pemikiran dan perjuangan yang telah mereka lakukan hinggap kepada siapa saja; sekalipun saya yang bukan siapa-siapa.

Menulis tentang Gus Dur dan Cak Nur berarti memperpanjang napas perjuangan mereka. Bermakna pula merawat pohon besar bernama pluralisme yang sudah mereka wariskan. Dan untuk itu, saya ingin mengambil bagian. Menyumbangkan satu, dua, dan seterusnya esai ringan nan sederhana untuk terus membumikan pemikiran mereka.

Menulis yang “berat-berat” gagasan dari Gus Dur dan Cak Nur sudah diambil oleh para intelektual muda. Lulusan dari universitas di Kairo, Australia, Eropa, dan lainnya banyak yang sudah menelurkan gagasannya dan direlevansikan dengan pemikiran Gus Dur dan Cak Nur. Gagasan besar dan berat itu biarlah para guru yang menuliskan, sementara yang ringan tapi tetap bergizi biar yang muda yang bicara.

Nilai Rasa Sastra

Saya adalah mahasiswa sastra. Belum banyak karya sastra yang saya baca, sebetulnya. Justru lebih suka membaca nonfiksi keagamaan; sedikit-sedikit berusaha membaca dan memahami esai-esainya Gus Dur dan Cak Nur, membaca biografi mereka, hingga yang paling ringan membaca esai populer dan jurnal ilmiah tentang pemikiran mereka.

Membaca Gus Dur dan Cak Nur sungguh mengasyikkan. Membaca mereka bisa diartikan dengan tiga pengertian. Pertama, tentu membaca langsung karya mereka, tulisan-tulisan mereka. Pada awalnya mungkin akan membuat dahi mengernyit, khususnya tulisan Cak Nur, tapi itulah esensi belajar kepada guru bangsa. Tapi, tenang saja, anak muda, kernyitan-kernyitan itu semakin lama akan semakin berkurang seiring meningkatnya daya baca dan daya serap otak kita.

Kedua, membaca biografi mereka. Kita akan tahu bagaimana mereka dibentuk, dididik, dan usaha serta perjuangan mereka membentuk dan mendidik dirinya sendiri. Sebuah inspirasi yang kaya, menurut saya, apabila kita mau mendalami perjalanan hidup seorang tokoh besar. Ketiga, membaca tulisan-tulisan orang tentang mereka. Pemikiran dan gagasan dari dua guru bangsa itu dipotret dalam aneka bentuk karya tulis; skripsi, jurnal, dan esai. Mulai dari yang paling ilmiah sampai yang ringan dan populer, ada.

Dalam satu esainya, Cak Nur: Tetap tetapi Berubah, Gus Dur pernah berkomentar tentang Cak Nur, “Selera bacaan mungkin memang masih belum bervariasi: belum tampak novel dari tingkat sastra dunia menghiasi lemari bukunya. Jadi masih berorientasi buku teks, sudah tentu dalam artian sumber bacaan, buku model berpikir.” Tatkala itu Gus Dur menyambangi rumah mahasiswa Cak Nur di Chicago, dan melihat rak buku Cak Nur.

Mungkin saya bisa berkata inspirasi saya membaca lebih banyak sastra didapatkan dari sastrawan sekaliber Pramoedya, Mochtar Lubis, atau Ahmad Tohari. Tapi, percikan nilai rasa sastra yang saya dapatkan dari Gus Dur sungguh luar biasa. Beliau “menyentil” kawan intelektualnya (baca: Cak Nur) yang masih terus sibuk membaca buku ilmiah, buku-buku berat, dan belum menyempatkan membaca sastra.

Sentilan itu bermakna besar. Hal itu berarti Gus Dur menganggap sastra sama pentingnya dengan bacaan lain. Gus Dur menempatkan sastra setinggi-tingginya, dalam rangka menyuplai nilai-nilai kemanusiaan ketika kita rajin membaca buku serius. Buku-buku serius tentu harus dibaca, tapi juga keseriusan membaca sastra jangan sampai dilewatkan, mungkin begitu tafsir saya atas persepsi Gus Dur tentang sastra.

Gus Dur punya nilai rasa sastra yang tinggi. Semasa remaja ia sudah suka baca cerita silat. Lebih dari itu, masa mudanya, ia lahap karya-karya Hemingway, Gide, Pushkin, Tolstoy, Kafka, hingga Faulkner. Sastrawan Indonesia pun pernah ia sebut: A.A Navis dan Hamka salah duanya. Bacaan sastranya yang rakus membuat Gus Dur barangkali gatal ketika melihat Cak Nur belum menyentuh sastra.

Dari Gus Dur dan Cak Nur, saya belajar nilai rasa sastra. Gus Dur hebat dengan pemikiran besarnya, yang bisa dikatakan kebesaran itu ditopang pula oleh bacaan-bacaan sastranya. Bagaimana kemanusiaan bekerja, itu ranah karya sastra. Sementara dari Cak Nur, kita memetik hikmah bawa sastra penting untuk dijadikan pendukung dalam menyusun argumentasi; agar tidak kering, tapi berwarna dan bernuansa.

Akbar Malik
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.