Banner Uhamka
Kamis, September 24, 2020
Banner Uhamka

Guru Honorer Nganjuk Merintis, Deritanya Dipimpin Pak Taufiq

Tan Malaka Menjawab: Sosialisme dan Agama

Tan Malaka Menjawab: Sosialisme dan AgamaOleh Muhammad Dudi Hari Saputra (Penulis).Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka memang pernah memiliki aktifitas di Komintern (Komunis...

Mengurai Makar Mencari Solusi

Akhir-akhir ini muncul peristilahan ‘Makar’ dalam perdebatan opini publik akibat sengkarut politik Jakarta dan Nasional. Bahkan ada pihak yang mengungkapkan bahwa ‘makar’ sudah dipersiapkan...

Muhammadiyah, Rekonstruksi Jihad Politik

Demokratisasi yang berkembang pesat sejak reformasi 1998 berdampak terhadap keterbukaan dan kebebasan dalam hampir semua lini kehidupan. Selain melahirkan budaya egalitarian, demokratisasi dalam politik...

Jokowi “Followers” Setia Prabowo

Istilah ini muncul karena melihat kegelisahan atau ketakutan yang ditakuti memiliki dampak buruk bagi kubu Joko Widodo terkait keputusan atau strategi calon lawannya Prabowo...
Galang Harianto Pratama
Pegiat Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Surabaya. Aktivis Majelis Kalam Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Surabaya. Pengurus HIPMI PT Surabaya, lulusan Hubungan Internasional Unair 2012 (soon).

Sepeda tua dikayuh, sebelum matahari terbit dari ufuk timur. Perjalanan Pak Guru Ryan memang tidak jauh. Tak sampai 2 kilo rasanya ia sudah sampai ke sekolah. Ia sudah mengabdi sejak 2005, banyak muridnya kini jadi calon orang besar. Ada beberapa yang melanjutkan kuliah di Universitas ternama negeri ini, ada yang sudah jadi polisi, tentara bahkan ada juga yang pilot. Begitu cerita indah para muridnya, namun begini ironisnya nasib pak Ryan sebagai Guru.

Menikah pun ia tak mampu, padahal usianya sudah kepala tiga. Harinya ia habiskan untuk mengajar dan mengajar. Jika penguasa negeri ini begitu mudah mendapat ceperan. Ia harus banting tulang membuka lapak kejujuran di kantin sekolahan. Ceperan bagi bos besar adalah main-main proyek senilai milliaran. Ceperan bagi Pak Ryan, diantara maut dan malu. Jika ia menarik uang sepeser pada muridnya menjelang lomba agustusan misalnya, yang sebenarnya wajar sesuai jerih payahnya, tapi ia tak bisa. Salah-salah ia bisa didemo, dan keluarganya menanggung malu dari uang sepeser itu.

Begitupun ketika ia harus mengambil tindakan tegas saat mendidik, bisa jadi maut mengancam nyawanya. Begitulah dilema pendidikan di negeri ini. Susah, mau teriak pada siapa lagi yang mau mendengar. Penguasa pun tidak, tidak ada perhatiannya. Sudah puluhan kali guru yang senasib dengan pak Ryan ini teriak di depan Singgasana sang Bupati, tapi tak pernah ia sudi menemui.

Ternyata pak Ryan tak sendiri. Ada ribuan orang senasib dengannya. Pak Ryan kemudian tak lagi percaya, bahwa pendidikan bisa mengangkat derajat dan martabat manusia. Padahal sudah belasan tahun waktunya untuk belajar, hingga jenjang pendidikan tinggi. Puluhan tahun ia habiskan untuk mencerdaskan generasi negeri ini. Tapi nasibnya tak ada yang berubaha, tak ada juga yang berubah bagi ribuan guru seperti pak Ryan ini. Lalu kepada siapa mereka berharap?

Begitu secuil kisah tentang Pak Ryan, Guru Olahragaku sewaktu di sekolah dasar di Nganjuk dulu. Tentu masih ada cerita lain dari ribuan guru yang tak kunjung diangkat sebagai CPNS. Sampai kapan mereka mengabdi? Ini bukan lagi perkara keikhlasan dan pengabdian. Ketika para Pejabat perutnya makin gendut, hartanya makin melimpah, sedangkan pak Guru harus sering-sering menelan ludah, sewaktu dompetnya semakin menepis. Begitu mahalkah harga pengabdian di negeri kami?

Sekitar 1.296 tenaga Honorer kategori 1 (K1) Kabupaten Nganjuk pernah berunjuk rasa menuntut Pemkab Nganjuk segera mengangkat mereka, setidaknya menjadi CPNS. Pemkab berdalih, ini adalah kesalahan dari Pemerintah Pusat. Usut punya usut memang masalah yang sama terjadi di 28 Kota Kabupaten. Namun per detik ini, hanya Pemkab Nganjuk yang tidak memiliki solusi signifikan.

Gaji para Honorer K1 Nganjuk sejumlah 530 ribu rupiah per bulan. Uang yang tidak lebih besar dari gaji pembantu rumah tangga di kota-kota Besar, seperti Surabaya misalnya. Uang 530 ribu perbulan, tanpa jaminan kapan mereka akan diangkat nasibnya, bahkan puluhan tahun pun sudah mereka abdikan diri pada negara. Sungguh ironis.

Dikutip dari detik.com, Bu Guru Rina, menyatakan ketika awal menjadi tenaga honorer, dirinya hanya menerima gaji sebesar Rp 90 ribu perbulan. Seiring berjalan waktu, gajinya naik pelan-pelan. Terakhir ia mendapatkan 530 ribu rupiah dari hasil keringatnya satu bulan mengajar. Bandingkan, betapa irinya ia kepada pegawai lain yang sudah jadi PNS. Gajinya mencapai 2,5 Juta rupiah. Bayangkan jika ternyata, mereka yang sudah PNS nyatanya tak lebih rajin dan pandai dari para Guru K1, betapa tidak adilnya hidup di negeri ini?

Pernah mereka mencoba mengadu nasib ke Ibukota. Mereka berangkat dengan bus sebanyak 16 buah. Ada beberapa lagi yang naik kereta api. Mereka menginap di halaman parkir timur Senayan. Mereka berusaha memperjuangkan nasibnya. Ketika pemimpin daerahnya tak menggubris sama sekali, menemui pun saja tidak.

Kini, Pak Ryan, Bu Rina, dan ribuan guru honorer lainnya, terlihat biasa saja. Ketika Pak Taufiq, Bupati Nganjuk ditahan KPK. Mereka tak kaget, apalagi dibuat shok dengan kasus yang kini jadi berita nasional itu. Ada harga mahal yang harus dibeli untuk mengabdi di negeri ini. Pintar saja pun tak cukup, untuk memajukan kota, tempat dimana ia dilahirkan. Katanya, kalau ingin jadi Kepala Sekolah SD harus bayar 15-20 Juta. Jadi Kepala Sekolah SMP-SMA hampir 50 Juta. Lalu berapa harga yang harus dibayar untuk menjadi PNS di Kota Nganjuk Tercinta?.

Galang Harianto Pratama
Pegiat Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Surabaya. Aktivis Majelis Kalam Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Surabaya. Pengurus HIPMI PT Surabaya, lulusan Hubungan Internasional Unair 2012 (soon).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

Menilik Komunikasi Publik Tokoh Politik

Komunikasi merupakan sarana yang memiliki signifikansi tinggi dalam mengkonstruksikan sebuah interaksi sosial. Hal ini dikarenakan melalui jalinan komunikasi, seseorang akan mengaktualisasikan suatu konsepsi diri...

Seharusnya Marx Menjadi PNS!

Duduk dan berbincang dengan teman-teman di warung kopi, tak lepas dengan sebatang rokok, saya bersama teman-teman lain kerap kali membicarakan dan mengolok-olok pelamar Calon...

Hubungan Hukum Agama dan Hukum Adat di Masa Kolonial

Dalam rangka memahami sistem sosial dan nilai-nilai yang berada di masyarakat, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk mengangkat seseorang penasihat untuk membantu mereka dalam mengetahui...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.