Senin, April 12, 2021

Guru dan Pilkada Serentak 2018

Reforma Agraria

Tahun ini, berbagai sudut hingga selasar rumah turut diramaikan oleh hiruk pikuk pemilihan kandidat, partai pengusung, serta narasi politik di dalamnya. Dan tepat pada...

Gibran, Dinasti Politik, dan Kaderisasi Parpol

Akhir-akhir ini media sosial kita seperti twitter, instagram, facebook dan whatsApp ramai memperbincangkan topik Gibran dalam dekapan dinasti politik. Seolah perbincangan Gibran ini mengalahkan...

Keterbukaan Kunci Pemahaman Agama

Hari ini kepercayaan yang kita anut telah membawa kengerian baru di era modern ini. Di Indonesia sendiri saat ini, kepercayaan agama kita telah membentuk...

Desa Transmigran dan Masa Depan Kaum Marjinal

Apa yang harus dilakukan oleh Pemerintahan Desa (Pemdes) saat mengetahui bahwa ada warganya yang berkebutuhan khusus (difabel) dan sejumlah kelompok marjinal lain yang ada...
Amri Ikhsan
Saya seorang guru yang hobbi menulis

Pilkada Serentak tahun 2018 akan diikuti 171 daerah: 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten (detik). Inilah momen yang paling konstitusional untuk memilih pemimpin. Sebagai bagian dari proses demokrasi, pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018 tidak sekadar menghitung jumlah suara terbanyak, tapi lebih dari itu bertujuan memilih pemimpin yang mengemban amanah maupun mandat untuk masing masing daerah.

Membicarakan pemimpin yang ideal yang saat ini masih dalam tahap “mencari perahu”, sosialisasi calon merupakan merupakan bagian memperkuat literasi politik warga di Jambi untuk berperan aktif dan peduli dalam proses Pilkada. Menjadi pemimpin setidaknya harus mengetahui beberapa kajian strategis yang harus dikelola dengan terukur, saksama, ikhlas dan cerdas agar mendapatkan dukungan serta partisipasi masyarakat.

Setidaknya ada empat ‘karakter’ yang patut dipertimbangkan warga dalam menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin pada 2018 sampai lima tahun berikutnya.

Pertama, masyarakat berhak mendapatkan kriteria pemimpin yang berkarakter problem solver (Kusman). Baik potensi maupun persoalan diketiga daerah ini sangat kompleks, pemimpin  mendatang seharusnya memiliki karakter penyelesai masalah. Tipologi pemimpin seperti ini bisa memprioritaskan kebutuhan warga dengan inisiatif program yang paling memungkinkan untuk diambil dalam situasi dan kondisi yang sulit.

Pemimpin ini selalu bekerja keras, ikhlas, cerdas untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi rakyatnya. Minimal, keberadaan pemimpin tipe ini bisa menyejukkan hati orang orang ada disekitarnya.

Kedua, pemimpin yang berkarakter solidarity maker menjadi unsur yang menyejukkan untuk ketiga daerah itu. Dengan berbagai macam karakter warga, budaya, tradisi yang berbeda, aliansi politik yang berbeda, pemimpin yang mampu menciptakan harmoni antarelite dan antar elite dengan warga menjadi prasyarat utama menjaga keuthuan dan melahirkan inisiatif warga dalam pembangunan. Tanpa ikatan solidaritas yang kuat, warga akan tercerai-berai, keberhasilan pembangunan hanya ‘mimpi’.

Ketiga, pemimpin juga harus memiliki fondasi political capital (modal politik) yang kuat sehingga figur tersebut mampu melakukan inisiatif intervensi ketika berhadapan dengan deadlock politik antarelite maupun merawat dukungan dan kepercayaan di tingkat akar rumput (Kusman). Sebab, dimasing masing daerah memiliki banyak figur pemimpin yang andal secara politik. Berdasar realitas modal ini, kita harapkan pilkada di tiga daerah ini tahun depan menjadi pilkada yang cerdas, demokratis, dan menjunjung keadaban politik.

Keempat, pemimpin yang berkarakter ‘guru’, karena para guru juga ‘berpolitik’  untuk mempengaruhi rakyat (siswa) untuk selalu belajar. Guru itu peduli dengan rakyatnya. Guru itu adalah teman untuk berbagi cerita. Dia selalu ‘mengabsen’ rakyatnya sewaktu ketemu dan menanyakan dan mendengar keluh kesah rakyat (Kemdikbud). Kalau ‘rakyat’ nya terkena musibah, dia langsung berkunjung untuk membantu.

Guru tidak terlalu mengandalkan pengalaman masa lalu yang tampaknya berguna, tetapi sebenarnya berbahaya, karena tidak benar-benar cocok dengan situasi saat ini dan itu tidak akan menjadi bermanfaat” (Finkelstein). Pemimpin harus memperhatikan kondisi kerja, rekan kerja, sumber daya, dan bagaimana menciptakan momentum di lingkungan yang baru.

Guru itu percaya diri. Guru bekerja berdasarkan program yang disusun secara komprehensif. Guru itu bekerja untuk memberikan keahlian hidup (life skill) yang berikan kepada rakyat, dengan keahlian hidup, rakyat akan bahagia selamanya. Dia selalu memberi ‘kail’ bukan ikan. Menurut guru, beri saja rakyat ‘keahlian hidup’, calon akan dikenang oleh rakyat.

Guru itu mengandalkan proses interaksi dan komunikasi yang efektif, bahasa yang mudah dimengerti (Celce-Murcia, 1987). Dalam berinteraksi, guru dalam setiap kesempatan mendengar problematika masyarakat, kemudian ‘menenangkan’ rakyatnya dengan komunikasi yang santun, memberikan informasi yang membuat rakyatnya bersemangat untuk bekerja.

Dengan komunikasi efektif, rakyat bisa memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Sedang interaksi yang efektif dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan edukasi dalam rangka mengantar dan membimbing rakyat ke arah kedewasaannya.

Guru itu tersenyum setelah pekerjaannya selesai, bukan tersenyum dulu kepada rakyat, baru mulai bekerja. Ini menunjukkan keseriusan dan ketekunan guru dalam bekerja. Tersenyum bagi guru merupakan sinyal bahwa ‘rakyat’ sudah bisa menikmati hidupnya yang berasal dari ilmu dan keahlian yang diberikannya dan senyum melihat rakyatnya bisa hidup bahagia, sejahtera, aman, sentosa akibat kiat yang diberikan sang guru.

Guru itu berjanji berdasarkan data. Apapun yang dilakukan guru selalu didasarkan data dan informasi yang diperoleh dari ‘preliminary study’ (studi pendahuluan) (Alwasilah, 2007). Studi in dilakukan untuk mengetahui apa apa saja kebutuhan rakyat, apa yang sedang diperlukan, dialami oleh rakyat. Berjanji itu penting. Janji itu menunjukkan ilmu dan program yang dimiliki. Janji itu visi dan misi kedepan. Tapi bukan ‘obral’ janji.

Guru itu berada di tempat yang paling mulia, karena melakukan transformasi pembelajaran untuk rakyat, menyediakan fasilitas pembelajaran, kesabarannya, telaten dan memberikan perhatian penuh pada rakyat (Uzer Usman,1997). Sebagai guru, dia selalu memikirkan pendidikan untuk rakyatnya.

Guru itu selalu belajar. Agar dapat memberikan layanan yang memuaskan rakyat, guru harus selalu dapat menyesuaikan kemampuan dan pengetahuannya dengan keinginan dan permintaan rakyat (Oemar, 2002). Keinginan ini muncul dari diri guru bukan ‘dipaksakan’ oleh pihak lain. Oleh karenanya, guru selalu dituntut untuk secara terus-menerus meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan mutu layanannya.

Semoga, pilkada serentak 2018 ditiga daerah ini berjalan dengan lancar, proses dan hasilnya bisa diterima semua pihak. Bagi pasangan yang unggul: ‘jangan lupa memperhatikan guru!”

Amri Ikhsan
Saya seorang guru yang hobbi menulis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.