Rabu, Desember 2, 2020

Guru Budi Tewas Digebuk, Krisis Moral Siswa

Joker dan Standar Kenormalan Ala Foucault

Jauh sebelum film Joker (2019) yang turut menyisipkan pesan tentang kegilaan muncul di layar lebar, Foucault telah merumuskan filsafatnya tentang kegilaan. Dalam buku-bukunya Foucault...

Salah Bidik Pajak Buku Elektronik

Langkah pemerintah Indonesia untuk menarik pajak barang tidak berwujud (intangible goods) tahun depan telah mendapatkan restu dari organisasi perdagangan dunia (WTO). Meskipun Moratorium WTO...

Hak Angket KPK dan Gelombang Pasang Anti-Korupsi

Ketika masih berada dalam suasana bulan suci, bulan yang penuh rahmat ini, dunia politik dan hukum dalam negeri kembali panas dan geger. Tidak lain...

Spasi yang Makin Lebar dalam Politik dan Ideologi Kita

Suhu politik saat ini guna menanti festival demokrasi kepemimpinan nasional cukup membara, padahal masih enam bulan kedepan. Statement termutakhir dari petinggi Partai Demokrat, SBY...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Lagi-lagi dunia pendidikan nasional berduka. Seorang guru kesenian SMAN 1 Torju, Kabupaten Sampang, Jawa Timur bernama Ahmad Budi Cahyono (Guru Budi), tewas digebuk muridnya. Peristiwa sadis dan tragis ini semakin memilukan ketika diketahui, ternyata guru Budi masih berstatus sebagai tenaga pengajar honorer alias guru tidak tetap.

Guru Budi merupakan sosok pengajar multitalenta. Dia hanya menerima gaji di bawah upah minimum kabupaten (UMK) Sampang, yaitu sekitar Rp 500.000 hingga Rp 600.000.

Terlepas dari kisah tragis tewasnya Guru Budi, kasus ini menjadi momentum bagi lembaga pendidikan nasional dan seluruh instrumennya untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh. Ada apa dengan dunia pendidikan kita?

Krisis moral siswa semakin mengancam bangsa ini. Anda boleh percaya, boleh juga tidak. Tindak kenakalan siswa yang cenderung mengarah kepada perbuatan sadis sudah menjadi fenomena di negeri ini.

Nafsu dan emosi sesaat untuk mengejar pengakuan identitas diri, telah merusak akal sehat pelajar. Sebagian besar pelajar, tampaknya sangat menikmati  ketika ‘bersahabat’ dengan perbuatan keji.

Contoh kongkretnya ialah kelompok geng sekolah yang kejam, masa orientasi siswa baru (plonco) yang sadis sampai dengan perilaku seks bebas di ruang kelas yang banyak beredar YouTube.

Mengapa generasi sekolah mudah sekali berperilaku sadis dan keji? Kuncinya ada di sistem pengajaran dan pendidikan serta harmonisasi kehidupan siswa dalam keluarga. Ketika nilai-nilai agama tidak lagi ampuh mengarahkan moral manusia, maka tak ada lagi rasa saling sayang menyayangi antarsesama.

Ketika hukum bisa dibeli, maka kehidupan manusia menjadi ajang transaksi. Ketika teknologi salah diterapkan, maka peradaban manusia menjadi rusak. Ketika kekayaan materi menjadi ukuran status sosial, maka manusia akan memiliki sifat rakus dan serakah.

Sekolah beserta seluruh instrumennya, mungkin sedikit sekali memberi pengajaran dan pemahaman kepada para siswa tentang sisi moralitas berbagai persoalan kemanusiaan. Selama ini, siswa hanya dicekoki ilmu teks buku dan menghamba kepada pelajaran teori-teori ilmu pasti.

Di sisi lain, waktu terus berkejaran dengan etika budaya baru dan aktivitas humanistik yang terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. Dalam hal ini, sekolah lalai mengajarkan para siswa untuk menyelami realitas sosial yang bersifat massif. Akibatnya, siswa tidak lagi mempunyai moral dan terjebak kepada perilaku sadistik dan egoistik.

Sesungguhnya ada solusi sederhana yang mungkin bisa mengurangi dekadensi moral pelajar, diantaranya ialah sistem pendidikan di sekolah tidak lagi melulu menekankan prestasi akademik di atas kertas. Kembangkan dan tingkatkan pembinaan moralitas dan mentalitas para siswa  dalam pergaulan sosial.

Dalam lingkungan keluarga, para orang tua wajib menanamkan nilai dan norma sosial kepada anak. Orang tua harus terus-menerus melakukan pengawasan edukatif ketika anak menggunakan teknologi (ponsel dan internet). Untuk para pemimpin bangsa (tanpa kecuali), tunjukkan sikap dan perilaku santun kepada generasi penerus dalam memimpin negara.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.