Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Guru Bangsa dan Agama

Dana Desa dalam Cengkeram “Buto Ijo”

“Buto Ijo" beraksi secara sistematis, terstruktur, dan masif. Tidak heran dana desa yang berhasil dipungli pun, antara 7-30 juta per Kades. Pagi ini, beranda salah...

Ekonomi, Kearifan, dan Perdamaian

Mungkinkah perdamaian dirajut dari kemakmuran? Bisakah pendapatan yang tinggi memicu perdamaian? Tentu jawabannya relatif. Tak selamanya kemakmuran mendorong perdamaian, dan begitu sebaliknya. Artinya, tak...

Menitipkan NKRI Kepada Santri

MENITIPKAN NKRI KEPADA SANTRIOleh: Rosidi Bahri, Santri Asli SumenepKunjungan Presiden Joko Widodo ke berbagai Pondok Pesantren di Indonesia yang dikemas dengan beragam acara, membuktikan...

Ancaman Islam Fundamentalis di Indonesia

Islam Fundamentalis merupakan penyakit yang melanda tubuh Agama Islam di berbagai belahan dunia, termasuk negara-negara yang mayoritas dihuni oleh penduduk beragama Islam. Secara umum,...
wildan habibi
mahasiswa sarjana

Dalam kehidupan bersosial ataupun beragama sosok kiai merupakan tokoh utama dalam pentas pewayangan dunia. Seorang kiai adalah tokoh yang sangat mulia dan mempunyai derajat yang tinggi dunia maupun akhirat, karena bisa menengadahkan dan menengkulapkan tangannya.

Artinya, menengadahkan tangan adalah mempunyai sifat meminta dan menghamba kepada Allah SWT, dan menengkulapkan tangan yang berarti bisa mengayomi dalam bermuamalah keseharian masyarakat. Di sinilah terjadi keselarasan tentang ayat Allah yang memerintahkan untuk hablu mina allah dan hablu mina naas. Ayat yang begitu singkat padat dan jelas itulah yang menjadi resep inti dalam memanfaatkan nafas yang diberikan secara cuma-cuma disetiap harinya.

Bukan hal baru jika kiai lebih dipercayai dibanding doktor ataupun profesor untuk menjadi seorang pelaksana konsep kehidupan sosial. Contoh kecil, ada seorang kiai yang merangkap sebagai seorang eksekutif negara. Dalam konteks tersebut, ada dua hal pendukung yang membuat seorang kiai berani terjun ke dalam dunia politik dan meninggalkan zona nyaman.

Pertama, tentang kepercayaan masyarakat kepada seorang kiai untuk menstabilkan konsep kehidupan sosial agama dalam suatu negara dan yang kedua adalah kedewasaan pola pikir sang kiyai atas kehawatirannya tentang konsep sosial yang tak seimbang dan sudah terlanjur berkembang. Sikap yang diambil oleh sang kiai tentu tidak menyalahi koridor sosial, karena dalam konteks sosial harus berkeseimbangan dengan agama, agamalah yang akan menstabilkan konsep sosial.

Berbicara tetang kiai, saya ingat pesan dari kiai saya bahwa masyarakat itu adalah kertas kosong. Setiap hari pesan itu diulang-ulangi hingga akhirnya setelah saya menemukan tafsir dari pesan pak kiai ketika menapaki hidup di luar pesantren.

Saya menafsirkan bahwasanya, jika masyarakat adalah kertas kosong maka santri harus menjadi kuas dengan sejuta warna. Kuas adalah perbuatan yang akan mengasilkan sesuatu yang baru dan warna adalah aura keharmonisan yang dipadukan dengan motif yang digambarkan oleh kuas. Bisa disimpulkan bahwa kuas dan warna adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan, yaitu sama dengan perbuatan yang harus dibarengi dengan akhlak.

Sebagai seorang santri, hidup selesai dari pesantren bukanlah hal yang mudah untuk dijalani jika tidak mempunyai pedoman yang kuat. Jika berpedoman dengan ayat hablu mina allah dan hablu mina naas, bisa disederhanakan dengan konteks beragamalah dengan akhlak. 

Bukan hanya Islam yang menghendaki penganutnya berakhlak, akan tetapi semua agamapun akan sangat menghargai tentang hal itu. Tanpa akhlak, apakah terdapat perbedaan dengan mahluk Tuhan yang lain, yang ada di muka bumi ini. Perhiasan yang sangat tak ternilai harganya yang tertanam pada manusia adalah akhlak, akan sangat sempurna jika manusia bukan hanya mengislamkan keyakinannya tetapi juga mengislamkan akhlaknya.

Sangat miris sekali, pada era modern yang  teknologi serba canggih seperti ini seharusnya belajar agama lebih mudah. Memperdalam pengetahuan tentang agama lebih mudah dan menyambung silaturahmi lebih mudah, tetapi fakta berkata sebaliknya.

Maraknya hamba berlabel atau lebih tepatnya mengkiaikan dirinya sendiri, berujar kebencian terhadap hamba yang lain. Mengklaim surga milik kelompoknya semata, padahal Tuhan tidak pernah memberi sertifikat surga kepada suatu kelompok dalam kehidupan beragama, dan rasul pun tidak pernah mewariskan ilmu berujar kebencian ataupun membesarkan diri sendiri atas orang lain.

Dalam neraca Tuhan, jika hambanya semakin tawaduk maka Tuhan akan mengangkat derajat hambanya dan jika hambanya menyombongkan dirinya maka tuhan akan mengujamkan hamba tersebut serendah-rendahnya.

Pohon yang berbuah selalu akan semakin merunduk, kenapa demikian? Karena pohon tersebut keberatan dengan buah yang berada ditangkainya. Jika diaplikasikan kepada manusia harusnya kita dapati realitas yang seperti itu pula. Manusia yang tawaduk adalah manusia yang telah berbuah, buah tersebut yang kemudian dimaksud dengan akhlak.

Banyak sekali sekarang ini kiai-kiai yang harusnya berbuah lebat dan masak tetapi malah dengan lantang menyuarakan pengkerdilan terhadap kelompok yang lain, yang lagi tenar dibeberapa dekade terahir ini. Jika dengan ilmunya dia merasa lebih alim dari yang lain, maka itu bukan semurni-murninya ilmu. Jika dengan ibadahnya dia merasa lebih saleh dan lebih suci dari yang lain, maka itu bukanlah semurni-murninya ibadah. Jika seperti itu, maka tidak berlakulah ayat Tuhan tentang amar ma’ruf dan nahi mungkar yang harus disampaikan dengan udu ila sabili rabbika bil hikmah.

Bagaimana mungkin agama disampaikan dengan cara keras dan tanpa kasih sayang. Padahal rahmat Tuhan selalu menjelma kata-kata hikmah, Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, konteks tersebut belaku untuk ruang seluruh alam bukan ruang lingkup Islam.

Jika ruang lingkupnya saja lil alamin maka sikap penganutnya juga harus sikap yang lil alamin. Sikap yang seperti apakah lil alamin tersebut, yaitu sikap yang berlaku dan populer di alam raya ini adalah sikap kasih sayang. Inilah yang dinamakan rahmat, Allah saja yang merajai alam semesta dan seisinya ini sangat bersikap lil alamin kepada semua mahluknya, sangat sombong sekali jika seorang hamba tidak bisa bersikap lil alamin kepada sesama ciptaan Tuhan.

Jika kita meminiaturkan pikiran kita, bisa diambil fiktif bahwasanya kelompok-kelompok Islam ini sama dengan kita menaiki kendaraan dan dengan tujuan yang sama. Kendaraan bus ini bernama Islam akan tetapi PO bus berbeda-beda, ada yang PO Nahdlatul Ulama, ada PO Muhammadiyah dan lain sebagainya.

Tentu sopirnya berbeda-beda, ada satu perbedaan yang mana perbedaan tersebut sering dijadikan bahan ujaran kebencian dari suatu kelompok atas kelompok yang lain. Apakah perbedaan tersebut? yaitu perbedaan tentang modifikasi fasilitas yang disesuaikan dengan jamannya. Karena fasilitasnya tidak sama dengan fasilitas dijaman rasul, maka itu akan menjadi bahan empuk suatu golongan untuk mengkerdilkan golongan yang lain.

Saya lebih suka dengan kiai-kiai kampung yang tak fasih dalam berdoa atau mengucap Al-Quran, akan tetapi bersih hatinya dan selalu menyejukkan petuahnya. Karena buah akhlak dari sang kiai yang telah masak, menjadikan orang di sekitarnya bisa menikmati buahnya. Itulah kenyamanan yang sangat sulit dicari di era yang serba sibuk dengan kafirnya orang lain, tanpa peduli dengan kafirnya sendiri.

Orang akan disebut kiai oleh alam jika telah melalui tempaan yang amat panjang tentang kehidupan yang selaras antara sosial dan agama. Kiaiku selalu mengirimkan pesan kepada hati dan akalku, agar selalu selaras menggerakkan bayangan akal dan hati dengan ayat Tuhan. Seperti itulah kiaiku, dan pastinya kiaiku dengan kiaimu berbeda, semuanya sudah diposisikan pada poros dan tugas masing-masing. Kebaikan tidak akan tampak baik jika tidak ada keburukan dan siang terakui adanya jika malam menyertainya. Semua saling melengkapi dan berjajar.

Jika guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, bagiku kiai adalah pahlawan tanpa tanda titik, bagimu kiaimu dan bagiku kiaiku.

 

wildan habibi
mahasiswa sarjana
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.