OUR NETWORK

Guru “Baik” Vs Guru “Bermasalah” Versi Siswa

Judul tulisan di atas merupakan hasil dari permenungan serta pengalaman nyata secara pribadi.

Judul tulisan di atas merupakan hasil dari permenungan serta pengalaman nyata secara pribadi. Pengalaman itu saya alami ketika masih mengenyam Pendidikan Menengah Atas. Kala itu, saya dan bahkan mayoritas sangat senang serta mengidolakan model guru yang tidak disiplin.

Kriteria-kriteria guru yang dimaksud adalah sebagai berikut; yang suka terlambat ke sekolah dan masuk mengajar di kelas, tidak biasa menegur siswa yang ribut saat les, bolos, dan absen, tidak memberikan ulangan dan tugas-tugas hingga tak memeriksa setiap pekerjaan siswa secara rutin.

Untuk itu, model guru yang macam ini diketegorikan sebagai guru yang “baik” versi mayoritas siswa yang menyukainya.

Kedua, ada sebagian dan bahkan minoritas siswa sangat menyukai model guru yang sangat disiplin. Kriteria kedisiplinan itu yakni; tegas, selalu memberikan ulangan, tugas hingga pada pemeriksaan pekerjaan siswa secara rutin. Singkatnya guru yang macam ini sungguh menjadi teladan bagi siswa dalam banyak hal baik di sekolah maupun luar sekolah.

Sehingga guru-guru yang masuk kriteria ini di beri label sebagai guru “bermasalah” versi minoritas yang mengaguminya. Tapi sayang cuman sedikit. Kacian delu! Saya tidak sedang mengolok, tapi ini fakta bukan fiksi-bukankah begitu, Kesa Rocky Gerung?

Inikan sudut pandang para siswa yang mengenyam pendidikan pada zaman orde baru. Jadi pikiranya lebih banyak negatif dan mau adu nembak melulu. Namun ada kejutan lho. Mau tahu? Ayo kita lanjut!

Betapa tidak, siswa saat ini yang katanya generasi yang hidup pada zaman milenial nan demokratis ini, ternyata sikapnya masih sama kaya dulu. Mayoritas siswa saat ini juga sangat mengidolakan tipikal guru yang cuek dan tidak mau tahu dengan berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh peserta didiknya. Itu berarti model guru “baik” versi siswa zaman dulu, juga dipakai oleh siswa zaman kini.

Sebaliknya, terhadap guru-guru yang sangat displin dan peduli justru tak disenangi oleh para siswa. Bahkan mayoritas siswanya kini sangat tinggi dan semakin tinggi dari waktu ke waktu. Alhasil jurang untuk menguburkan nilai-nilai pendidikan pun telah tersedia. “Ehhh, jangan pesimis dong” kata Bapak Kepseku yang sungguh kebapak-an itu.

Ketika saya coba merenungkan kembali tentang siswa yang dulu dan sekarang, saya pun menemukan satu hal sekaligus menjadi satu-satunya keunikan siswa zaman dulu yakni masih sangat taat dan bahkan amat takut pada guru. Kemungkinan ini adalah efek dari zaman orba yang selalu identik dengan kekerasan baik fisik maupun psikis.

“Ada emas di ujung rotan”. Itulah cara mendidik zaman dulu. Hasilnya, saat ini saya menjadi guru yang cukup hebat. Sebab kami tak suka lapor polisi segala. Namun, tak mendukung bahwa kekerasan fisik dalam dunia pendidikan itu benar.

Sedangkan siswa zaman sekarang justru banyak menampilkan sikap-sikap membangkang. Tidak menegur atau tidak taat pada perintah guru menjadi hal yang biasa. Bahkan sangat biasa. Ahh, gila benar. Para sahabatku yang mencintai dan mendukung profesi guru, minta doanya ya-biar saya dan para guru se-Indonesia tetap mencintai jalan ini yakni sebagai seorang pendidik yang melayani hingga keabadian.

Terhadap realitas buram yang terjadi dalam dunia pendidikan ini, apakah saya dan juga para pendidik lainnya harus pasrah? Ohhh no! Mengapa? Ini alasnya. Pertama dan terutama, menjadi seorang pendidik itu adalah sebuah pilihan sadar dan merupakan panggilan jiwa.

Oleh karena itu apa pun yang dilakukan oleh guru, itu semua semata-mata demi kebaikan muridnya. Sebaliknya, senakal-nakalnya seorang murid, ia tetap punya hati untuk menyayangi guru. Untuk itu cara mendidik haruslah menyentuh hatinya. Bukan pakai ancaman, cemoohan atau kekerasan fisik. Itu tidak zamannya lagi, coi…!

Saat ini juga tak bisa lagi dengan nasihat dan kotbah melulu. Namun harus ciptakan situasi persahabatan dan keteladanan dalam tindakan. Biar tak ada jarak antar guru dan murid.

Ketika ada persoalan, ajaklah murid untuk duduk bersama memecahkan masalah itu secara bersama pula. Sentulah hatinya dengan pujian dan motivasi positif. Yakinlah luka hatinya akan sembuh. Disana tak ada dendam. Yang ada hanya kata maaf.

Oleh karena itu, dalam situasi apa pun dan hingga kapan pun tetaplah menjadi guru teladan dalam segala hal dengan tetap menggenggam label guru “bermasalah”. Sebab, guru “bermasalah” adalah guru yang identik dengan air sumber penyejuk dan keteladanan hidup dalam semua hal.

Sebaliknya berhentilah menjadi guru “baik”. Sebab guru macam itu adalah sumber racun yang mematikan peserta didik. Kalau tak mampu, berhentilah menjadi pendidik ya…! Heheh jangan simpan di hati e, kakak guru dorang.

Diakhir goresan ini, saya menghimbau kepada para guru untuk tetap mencintai profesi mulia itu. Walau disana-sini banyak guru honor yang “menderita”. Menderita karena apa? Semua orang ju tahu la. Walaupun begitu, teman-teman guru tak boleh kalah dengan berbagai tantangan. Sebab Presiden Jokowi bilang, guru tetaplah guru. Kemajuan IPTEK tak pernah bisa menggantikan peran guru hingga kapan pun.

Selain itu, para guru juga mesti selalu menyadari sembari bersyukur bahwa sebutan guru yang melekat pada diri kita tetap akan hidup selamanya-walaupun saatnya, saya dan Anda sekalian di panggil Sang Guru sejati.

Pendidik SMA Katolik Regina Pacis Bajawa-Flores-NTT

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…