Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Guntur Romli, Jonru, dan Nasib Penulis Buku

HUTRI72 – Merawat Kemerdekaan dari Senja di Pantai Losari

Ketika Archimedes sedang berada di toilet ia menyadari volume air naik setelah menenggelamkan bagian tubuhnya. Kemudian terjadilah, ia menemukan hukum Archimedes. Ia berlari dan...

Pesta Demokrasi (Bukan) Pesta Istana Pasir

"Inikah hasilnya “demokrasi” yang di keramatkan orang itu? Tiap-tiap kaum proletar bisa ikut memilih wakil ke dalam parlemen itu,…tiap-tiap kaum proletar, kalau dia mau, bisa...

Knowledge Management dan Equlibrium Baru

Tahun 2016 sembilan bank di tanah air harus mengurangi 7.216 pegawainya, raksasa taxi tanah air Blue Bird harus rela laba periode tahun berjalannya turun...

Patriarki Musuh Bersama

Hari Perempuan Internasional, suara perempuan bergemuruh di mana-mana. Melalui kampanye, aksi refleksi hingga tulisan-tulisan, mereka ekspresikan. Sebab salah satu tantangan utama kita dalam mengatasi...
Atih Ardiansyah
Direktur Eksekutif Rafe'i Ali Institute (RAI), dosen FISIP UNMA Banten

Bila saya ditanya mengapa saya masuk politik? Saya ingin mengembalikan politik pada khittahnya, pada dasar dan habitatnya, yakni “memperjuangkan kepentingan orang banyak”. Demikian rilis yang ditulis Guntur Romli di qureta. Menurut saya, apa yang disampaikan Guntur Romli tidak terlalu istimewa. Maksud saya, sudah banyak politisi yang menyampaikan hal serupa kala memutuskan nyemplung ke dunia politik. Terlalu formalistis.

Untungnya, Guntur Romli tidak kehilangan warnanya. Masih pada rilis yang sama, dia menyatakan bahwa masuknya dia ke dunia politik karena didorong oleh spirit perjuangannya: melawan intoleransi. Bagi suami Nong Darol Mahmada ini, sebagaimana pernyataannya lewat rilis yang sama, segala persoalan yang terkait dengan kebencian, kekerasan, permusuhan, terorisme, radikalisme, diskriminasi, ekstrimisme, separatisme, hingga peperangan berakar pada intoleransi. Sebabnya adalah tidak mau toleran dan tidak mau menerima perbedaan. Intoleransi yang dibiarkan akan melahirkan kebencian, kemudian permusuhan, yang rentan mematik kekerasan hingga peperangan.

Dalam penilaian saya, Guntur Romli adalah orang yang teguh. Dia sangat concern dan tahu betul dengan apa yang diperjuangkannya. Dia bahkan berani mengambil risiko ketika berhadap-hadapan dengan kelompok-kelompok garis keras: disalahpahami dan dilabeli itu dan ini. Saya rasa, bukti-bukti itu sudah cukup, sehingga pernyataan Guntur Romli yang menyatakan bahwa selama ini dia telah melakukan kerja-kerja politik di jalur kultural, hanya menjadi tambahan saja.

Saat Guntur Romli mengatakan bahwa masuk ke partai politik adalah penyempurna kerja-kerja politik sebelumnya, maka menarik ditunggu kiprahnya andai dia terpilih sebagai anggota DPR RI nanti. Jika pada level kultural Guntur Romli begitu liat melawan kelompok-kelompok intoleran, akan seperti apakah perlawanannya setelah menjadi pembuat kebijakan?

Saya percaya bahwa di dalam kepala Guntur Romli, sudah banyak ide yang bakal dia tuangkan ke dalam bentuk kebijakan, andai terpilih nanti. Tetapi melalui artikel ini, saya ingin urun angan. Saya ingin menyumbang ide, atau anggaplah ini bentuk aspirasi dari saya.

Di layar kaca maupun di media-media online, tak terkecuali di media sosial, Guntur Romli kerap baku-ujar dengan pegiat medsos, Jonru. Berdasarkan informasi yang jejak digital-nya bisa dengan mudah kita temukan, Jonru (awalnya) adalah penulis buku sekaligus pelatih kepenulisan. Saya justru tidak cukup mengerti, sejak Pilpres 2014 kemudian berlanjut pada Pilkada 2017, kok Jonru malah beralih menjadi peternak ujaran-ujaran bernada provokasi yang bernuansa SARA?

Justru di sinilah titik krusialnya. Kerja-kerja Guntur Romli, andai dia terpilih sebagai anggota legislatif nanti, yang paling utama dan memiliki keterkaitan dengan perlawanannya pada perilaku intoleransi adalah dengan memerhatikan nasib penulis. Karena penulis yang tidak teperhatikan kesejahteraannya (termasuk pajak yang terlalu besar) bisa mengambil keputusan yang di luar dugaan. Syukur kalau penulis responsnya seperti teman-teman saya yang easy going meski buku tak laku dan royalti hanya cukup buat beli pulsa, ditambah pajak gede pula, hehehehe. Bagaimana kalau penulis memutuskan tidak akan menerbitkan buku lagi seperti Tere Liye. Atau yang mengerikan adalah penulis yang memilih menjadi penebar hoax, fitnah, dan provokasi seperti Jonru, lantaran bukunya tak laku, kurang terkenal, royalti kecil, harus bayar pajak tinggi juga.

Saya ingin berandai-andai: andai Jonru menjadi penulis yang mapan, buku-bukunya digemari banyak orang, royaltinya besar, bayarannya besar saat diundang ke acara-acara, mungkin dia tidak akan menjadi seperti saat ini. Andai buku-buku Jonru best seller, mungkin namanya tidak akan masuk kamus bahasa slang yang identik dengan tukang fitnah dan sejenisnya. Andai pun buku-buku Jonru tidak laku tetapi pemerintah memerhatikan nasibnya dengan memberikan subsidi misalnya, mungkin dia masih menulis buku saat ini. Dan siapa tahu, ada satu atau dua bukunya yang laku besar.

Sebagai santri yang memiliki kafaah Islam yang baik, saya meyakini meskipun bagi Guntur Romli menulis bukanlah sarana mencari nafkah, dia akan memperjuangkan nasib penulis. Karena menulis sendiri adalah tradisi ulama klasik, tradisi pesantren. Dalam keyakinan saya, Guntur Romli sudah memahami bahwa memperjuangkan nasib penulis sama dengan memelihara peradaban. Bayangkan andai negara menjamin kesejahteraan penulis, tentu akan semakin banyak rakyat yang bercita-cita sebagai penulis, daripada menjadi PNS. Semakin banyak penulis, semakin besar sumber pendapatan dari pajak (asal jangan gede-gede, hehehee). Semakin banyak PNS, semakin besar beban negara! Semakin banyak penulis, semakin banyak pembaca, semakin literat masyarakat kita. 

Menurut saya, mensejahterakan penulis agar tidak terjebak godaan menjadi penebar hoax, fitnah dan adu domba, merupakan cara melawan intoleran dengan cara yang sangat toleran. Selamat berjuang, Bro Guntur Romli!

Atih Ardiansyah
Direktur Eksekutif Rafe'i Ali Institute (RAI), dosen FISIP UNMA Banten
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.